Muslimah News, NAFSIYAH — Apakah kita sadar bahwa Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada Allah? Lalu, Allah pun menugaskan manusia untuk mengemban amanah (tugas keagamaan). Firman Allah Taala, “Sesungguhnya Kami menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanah itu oleh manusia…” (QS Al-Ahzab: 72)
Manusia juga ditugaskan menjadi pengelola (khalifah) di bumi serta menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Semua hal itu dimintai pertanggungjawawaban oleh Allah. Firman-Nya, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa dimintai pertanggungjawaban oleh Allah)?” (QS Al-Qiyamah: 36)
Namun, di sisi lain secara fitrah, manusia pun memiliki kelemahan. Di antaranya. Pertama, bertabiat zalim dan bodoh. Allah kabarkan dalam surah Al-Ahzab ayat 72. Kedua, manusia bertabiat membantah, Firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah (makhluk) yang paling banyak membantah.” (QS Al-Kahfi: 54)
Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa manusia suka membantah dan mendatangkan berbagai alasan,
1. Menutupi rasa malas dari ketaatan dengan berbagai alasan. Oleh karena itu, manusia memang harus dipaksa, kemudian menjadi kebiasaan, lalu menjadi kebutuhan, dan akhirnya mendapatkan puncak kenikmatan. Padahal karakter orang munafik, yakni, selalu mendatangkan alasan untuk tidak melakukan ketaatan. Misal, ketika dakwah sudah buntu, buru-buru menyalahkan umat, sementara aktivis dakwahnya lupa mengevaluasi diri. Bisa jadi, ia belum memiliki kemampuan yang baik untuk memahamkan umat dengan pemikiran Islam. Dengan demikian ia harus memperbaiki diri dan mempelajari lagi cara serta ilmu untuk menyebarkan ide Islam.
2. Menghindar dari kesalahan dengan mendatangkan berbagai alasan. Misal, ketika ia mencari rezeki lalu mengatakan, “Mencari yang haram saja susah apalagi mencari yang halal.” Atau, “Kalau kamu gak riba bagaiamana mungkin kamu memiliki rumah.”
Bukankah riba perkara yang Allah murkai? Sementara Allah Mahakaya, mengapa tidak meminta pada Allah malah mengambil riba? Akhirnya dosa tetap dilakukan karena mendatangkan berbagai alasan. Contoh lain ialah, “Mengapa tidak mengaji?” Lalu ia menjawab, “Kalau saya ngaji, saya menjadi mengetahui berbagai perkara dan harus dilakukan. Jika tidak saya lakukan nanti berdosa. Jadi saya gak mau mengaji.” Padahal kebodohan terhadap berbagai perkara dalam kehidupan merupakan dosa besar.
3. Menentang syariat dengan banyak alasan. Misal mengatakan, “Syariat tidak cocok di negeri ini, hanya cocok di Arab.”
Ketiga, manusia bertabiat tergesa-gesa. Firman Allah Taala, “Dan manusia itu berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia itu cenderung tergesa-gesa.” (QS Al-Isra: 11)
Keempat, manusia bertabiat melampaui batas. Allah Swt. berfirman, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya ia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, ia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah ia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Yunus: 12)
Kelima, manusia bertabiat ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Firman-Nya, “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (QS Al-’Adiyat: 6)
Keenam, manusia bertabiat suka berkeluh kesah dan kikir. Allah sampaikan hal ini dalam surah Al-Ma’arij ayat 19-21.
Ketujuh, manusia bertabiat susah payah. Firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS Al-Balad: 4)
Meski manusia memiliki tujuh tabiat yang telah disampaikan Allah dalam kalam-Nya. Allah hendak memberikan keringanan pula pada manusia dengan diciptakannya manusia dalam keadaan lemah dan serba kurang. Firman-Nya, “Allah memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah.” (QS An-Nisa’: 28)
Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat di atas, bahwa Allah Taala memberikan keringanan kepada hamba-Nya karena rahmat-Nya yang sempurna, kebaikan-Nya yang menyeluruh, ilmu-Nya, kebijaksanaan-Nya terhadap berbagai kelemahan manusia dalam segala hal. Kelemahan fisik, kehendak, tekad, iman, dan kesabarannya. (Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal 175).
Dengan demikian kita tidak pantas untuk sombong apalagi menganggap remeh terhadap segala aturan-Nya. Berbagai tabiat manusia yang menunjukkan kelemahannya, menandakan kita membutuhkan Allah Yang Mahabesar. Ialah kita, suka membantah dan sering mendatangkan alasan. Semoga Allah masih memberikan kita kesempatan untuk terus bebenah dan memperbaiki diri, hingga kembali kepada-Nya tanpa noda dosa sedikit pun.
Rasulullah saw. bersabda, “Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikit pun.” (HR Ahmad dan Tirmidzi) [Mnews/Rndy]
Sumber gambar: unsplash
