Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Muawiyah bin Abu Sufyan wafat pada pertengahan Rajab tahun 60 H. Kala itu, Yazid bin Muawiyah sedang tidak berada di Damaskus. Ketika Yazid datang, ia disambut delegasi berbagai negeri, para jenderal, dan tokoh-tokoh terkemuka Arab. Semuanya berbelasungkawa atas kematian ayahnya, sekaligus mengucapkan selamat atas dibaiatnya Yazid sebagai khalifah.
Pidato Pertama Khalifah Yazid bin Muawiyah
Setelah menerima baiat, Yazid bin Muawiyah naik ke atas mimbar. Yazid memuji dan bersyukur kepada Allah Swt. kemudian berpidato,
“Muawiyah adalah salah satu tali Allah. Dia mengulurnya apabila berkehendak. Ia tidak bisa menandingi para pendahulunya, tetapi ia yang terbaik jika dibandingkan dengan yang sesudahnya. Jika Allah mengampuninya, maka ia memang ahli-Nya; dan jika Dia menyiksanya, maka lantaran dosanya. Aku diberi kekuasaan sepeninggalnya, padahal aku tidak sepi dari kebodohan dan tidak pula sibuk menuntut ilmu. Maka, berhati-hatilah, karena jika Allah menghendaki sesuatu, pastilah itu terjadi. Ingatlah Allah dan mohonlah ampunan-Nya.”
Selanjutnya Yazid turun dari mimbar dan mempersilakan orang-orang untuk masuk. (Al Mas’udi dalam kitab Murawwij adz-Dzahab).
Baiat Demi Menjaga Persatuan
Umat telah bersepakat membaiat Yazid. Di antara sahabat yang menolak adalah Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Sedangkan para sahabat yang lain membaiat Yazid demi melindungi kekuatan umat, menjaga persatuan, dan menghindari tragedi. Mereka antara lain Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar.
Bahkan, Abdullah bin Umar tidak cukup hanya membaiat Yazid, melainkan juga memberi peringatan kepada masyarakat agar jangan sampai melakukan perlawanan terhadap Yazid.
Bukhari meriwayatkan, ketika penduduk Madinah mencabut kepatuhan mereka kepada Yazid, segera saja Abdullah bin Umar mengumpulkan sanak kerabat serta putra-putrinya dan berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Setiap pengkhianat akan ditancapkan bendera baginya pada hari kiamat’. Kita telah membaiat Yazid dengan pembaiatan Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak tahu apakah ada pengkhianatan yang lebih besar daripada apabila orang membaiat seseorang dengan pembaiatan Allah dan utusan-Nya, lantas ia malah memeranginya. Aku juga tidak tahu jika ada seseorang dari kalian yang mencabut baiatnya, kecuali itu menjadi dinding pemisah antara aku dan dirinya.”
Abdullah bin Umar tidak hanya mencegah putra-putrinya serta sanak kerabatnya bergabung dalam pemberontakan terhadap Yazid ataupun mencabut kepatuhan mereka kepadanya. Bahkan ia berupaya memadamkan api pemberontakan dan melarang penduduk Madinah mencabut kepatuhan mereka kepada Yazid.
Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya:
Pada suatu ketika, Abdullah bin Umar menemui Abdullah bin Muthi’ dalam peristiwa Al Harrah yang terjadi di era Yazid bin Muawiyah. Abdullah bin Muthi’ berkata, “Berikanlah bantal kepada Abu Abdurrahman.” Abdullah bin Umar menukas, “Aku tidak menemuimu untuk berbincang-bincang. Aku datang hanya untuk memberitahumu sebuah hadis yang kudengar dari Rasulullah saw., beliau bersabda, ‘Barang siapa mencabut kepatuhannya, niscaya ia bertemu Allah pada Hari Kiamat tanpa pembela. Dan barang siapa mati tanpa baiat pada lehernya, berarti ia mati dalam keadaan jahiliah.’.”
Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah wa an-Nihayah mengatakan, Muhammad bin Ali bin Abi Thalib (Muhammad bin Al-Hanafiyyah) juga bersikap sama seperti Abdullah bin Umar. Ia menyanjung Yazid dan memberikan kesaksian bagi keadilan, konsistensi, dan kebaikan tindak tanduk Yazid.
Noda Sejarah Kekhalifahan Yazid bin Muawiyah
Ada beberapa peristiwa yang senantiasa menodai sejarah era Yazid bin Muawiyah. Hingga membuat sebagian besar orang melupakan berbagai kebijakan dan nilai positif pemerintahan Yazid. Pembunuhan Husain pada tahun pertama kekhalifahan Yazid, lalu penyerbuan Madinah pada tahun keduanya. Kemudian, pada tahun ketiga terjadi pengepungan Ka’bah.
Di sisi lain, sebagai Khalifah, Yazid menjaga kewibawaan negara Islam dan berupaya keras untuk melindunginya. Operasi-operasi penaklukan tidak pernah berhenti di eranya. Pada tahun terjadinya pemberontakan warga Madinah dan pertempuran Al-Harrah (63 H), ada operasi militer Uqbah bin Nafi’ ke Afrika Utara yang berhasil mencapai pesisir Samudera Atlantik.
Selanjutnya, ada serbuan ke kawasan Transoxiana sehingga pasukan Islam menyeberangi sungai Jihun (Oxus/ Amu Darya) di bawah komando Salim bin Ziyad. Hingga penduduk Khawarizm, Samarkand dan Khajandah meminta perundingan damai. Di samping itu, perbatasan negara dengan Imperium Romawi Byzantium senantiasa terjaga dan disegani.
Semua keberhasilan itu bukti efektifnya kebijakan politik Yazid bin Muawiyah, meliputi cara mengelola pemerintahan, administrasi negara, dan mengurus rakyat. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al Kautsar.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah