Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Ketika Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah, ia sengaja membebani Yazid putranya dengan tugas-tugas besar agar putranya terlatih bekerja keras dan menjadi orang yang berkualitas. Selain itu, agar umat Islam mengenal Yazid, sekaligus Muawiyah mempersiapkan Yazid untuk mampu menduduki jabatan penting kelak yaitu kekhalifahan.
Di dalam kitab Al Bidayah wa An Nihayah disebutkan, Yazid bin Muawiyah termasuk tabiin angkatan pertama. Dalam hal ini Ibnu Katsir mengatakan, “Abu Zar’ah Ad Dimasyqi menyebut Yazid pada angkatan tertinggi sesudah sahabat. Ia hafal banyak hadis dan meriwayatkan dari Muawiyah ayahnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang melalui dirinya Allah menghendaki kebaikan, niscaya Dia membuatnya paham agama.’”
Pendidikan Kesatria, Menguasai Bahasa Arab, dan Berakhlak Mulia
Muawiyah bin Abu Sufyan mendidik Yazid dengan pendidikan Arab dan Islam dengan cara mengirimnya ke pedalaman di bawah pengasuhan paman-pamannya dari pihak ibunya, yaitu Bani Kalb. Muawiyah berharap Yazid tumbuh besar di pangkuan fitrah dan lingkungan khas pedalaman yang keras dan kesatria. Selain itu, agar sang putra belajar bahasa Arab murni.
Dari pendidikan ini, Yazid kemudian menjadi ahli syair yang fasih, tokoh sastra yang cerdas, pandai mengambil sikap, cepat tanggap, berjiwa luhur, dan bercita-cita tinggi.
Muawiyah benar-benar serius dalam mengajarkan akhlak mulia kepada Yazid putranya. Ia juga mengajarkan seni berinteraksi dengan masyarakat dan tegur sapa dengan mereka dalam berbagai kesempatan hingga Yazid menjadi orang yang mereka sukai. Hubungannya dengan mereka pun terjalin erat.
Pada suatu ketika, Abdullah bin Abbas menghadap Muawiyah sebagai delegasi pasca-wafatnya Hasan bin Ali. Muawiyah memanggil Yazid untuk menyatakan bela sungkawa atas wafatnya Hasan.
Ketika Ibnu Abbas datang, Yazid menyambutnya, memuliakannya lalu duduk dekat di hadapan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas ingin bergeser dari tempat duduknya, tetapi Yazid mencegahnya seraya berkata, “Aku duduk sebagai orang yang berbela sungkawa, bukan sebagai orang yang mengucapkan selamat.”
Ketika Hasan disebut-sebut, Yazid berucap, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya seluas-luasnya kepada Abu Muhammad. Semoga Allah melimpahkan pula pahala yang terbagus kepadamu, dan memberimu ganti atas musibahmu ini dengan pahala yang terbaik dan tempat yang terbaik di akhirat.” Ketika beranjak pulang Ibnu Abbas berucap, “Apabila Bani Harb tiada, lenyaplah para ulama umat ini.”
Sifat tawaduk, adil, dan objektif juga diajarkan Muawiyah kepada Yazid. Pada suatu ketika, Muawiyah melihat Yazid tengah memukul salah seorang hamba sahayanya. Muawiyah pun menegur, “Ketahuilah, Allah jauh lebih kuasa memperlakukanmu sekehendak-Nya daripada engkau memperlakukan hamba sayaha itu. Sungguh buruklah sikapmu itu! Apakah engkau memukul orang yang tidak kuasa membela diri darimu? Demi Allah, aku tidak membalas orang meskipun aku mampu. Pemberi maaf yang terbaik adalah yang mampu membalas.”
Tugas sebagai Pemimpin
Yazid bin Muawiyah diamanahi memimpin pasukan untuk menyerbu Konstantinopel pada 49 H. Anggota pasukannya, antara lain, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az Zubair, dan Abu Ayyub al-Anshari. Pasukan inilah yang dijanjikan Rasulullah saw. akan memperoleh ampunan. Dalam hadis Ummu Haram binti Milhan al-Anshariyyah, Rasulullah saw. bersabda, “Pasukan pertama yang menyerbu kota sang Kaisar bakal diampuni.”
Tatkala Yazid terlihat enggan memimpin pasukan untuk menyerbu Konstantinopel, ayahnya bersumpah untuk menggabungkannya pada pasukan di wilayah Romawi Byzantium supaya ia merasakan penderitaan seperti yang mereka rasakan.
Di samping itu, Muawiyah juga mengangkat Yazid sebagai amirul hajj (pemimpin besar jemaah haji) yang merupakan kedudukan terhormat.
Menjelang wafatnya, di antara pesan Muawiyah kepada Yazid putranya adalah agar Yazid berlemah lembut kepada rakyat yang dipimpinnya, mengabaikan kata-kata yang mencelanya agar hidupnya tenang dan dengan sendirinya akan memperbaiki hubungannya dengan rakyat.
Muawiyah juga berpesan, jika Yazid menghendaki suatu urusan penting, maka seyogianya ia mengundang para sesepuh yang baik dan orang-orang bertakwa yang berpengalaman, lalu berkonsultasi dengan mereka dan tidak menyelisihi mereka.
Muawiyah bin Abu Sufyan menempa putranya Yazid dengan kehidupan yang penuh kerja keras dan ketegasan serta menjauhkannya dari kehidupan mewah ataupun foya-foya. Muawiyah berharap putranya itu siap memegang jabatan khalifah kelak. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar.
Foto sampul: iStock

Maasyaalloh..pendidikan Islam membwntuk pribadi yg bersyaksiyyah Islam