Penulis: Nabila asy-Syafi’i
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Sejak dahulu hingga kini, ketika sistem sekuler kapitalisme mencengkeram dan memimpin dunia, banyak orang berebut kekuasan, jabatan, kedudukan, dan kepemimpinan. Mereka tidak peduli harus memangsa saudara atau temannya jika dianggap mengganggu. Mereka menggunakan segala cara tanpa mempertimbangkan halal dan haram untuk memperoleh dan mempertahankan ambisinya. Bahkan, mereka berbohong, menyuap, menipu, saling menikam, dan membunuh. Mereka menganggap kekuasan, jabatan, kedudukan, dan kepemimpinan sebagai mahkota kebanggaan dan jaminan hidup nyaman sehingga semua orang melayani dan menghormati mereka.
Sesungguhnya kekuasan, jabatan, kedudukan, dan kepemimpinan bisa menghinakan seseorang jika ia tidak menggunakannya dengan ketundukan kepada syariat Allah Taala.
Rasulullah saw. pernah bersabda mengingatkan akan hal itu, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kepemimpinan itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada Hari Kiamat. Ia adalah senikmat-nikmat penyusuan (enak di dunia) dan seburuk-buruk penyapihan (sengsara setelah mati).” (HR Bukhari).
Jika kita menelusuri waktu, dahulu banyak sosok tangguh yang berprinsip tidak seperti kebanyakan orang. Mereka menolak kekuasan, jabatan, kedudukan, dan kepemimpinan karena takut kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka bukan malaikat. Mereka adalah manusia biasa, tetapi kebaikan sistem Islam menempa mereka sehingga menghasilkan pribadi-pribadi berkarakter hebat, serta mampu menundukkan dan mengendalikan dunia. Mereka menjadikan ketaatan kepada Allah Swt. sebagai poros hidupnya.
Salah seorang pemilik karakter hebat itu adalah Miqdad bin Amru bin Tsa’labah bin Malik al-Kindi al-Bahrain. Ia adalah sahabat Rasulullah saw. yang termasuk orang yang terdahulu masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Ia penunggang kuda yang tangguh di medan perang. Ia mengutamakan jihad dan ibadah, serta senantiasa berpegang kepada hukum Allah Swt. dan petunjuk Rasul-Nya.
Miqdad bin Amru termasuk sahabat yang sangat warak dan berhati-hati. Ia tidak mau menerima jabatan dan kepemimpinan karena jabatan adalah amanah berat yang bisa menyeret ke neraka jika tidak menjalankannya sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya.Pada suatu hari, Rasulullah saw. mengutus Miqdad untuk memimpin sebuah sariyyah, yakni ekspedisi peperangan yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah.
Sekembalinya dari sariyyah, Rasulullah saw. bertanya kepada Miqdad, “Apa yang engkau rasakan ketika menjadi pejabat?” Miqdad menjawab dengan jujur, “Wahai Rasulullah, aku merasa dimuliakan dan diposisikan (lebih tinggi) sampai aku mengira bahwa aku memiliki kelebihan dari yang lain. Aku juga merasa seluruh manusia adalah pengikut dan pelayananku.”
Rasulullah saw. lalu bersabda, “Itulah jabatan, maka ambillah ia atau tinggalkan.” Kemudian, Miqdad menjawab dengan tegas, “Demi Zat Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mau menjadi pemimpin selama hidupku, meskipun untuk dua orang.” Miqdad pun menepati janjinya. Ia tidak mau diangkat menjadi pemimpin atau pejabat sepanjang sisa hidupnya. Dengan kebijaksanaan dan pertimbangan yang sangat matang, Miqdad mengambil keputusan tersebut. Ia paham bahwa kedudukan dan jabatan sangat berpeluang menyeretnya ke dalam kubangan dosa. Berlaku sombong dan sewenang-wenang, memakan hak orang lain, merasa lebih utama dari yang lain, dan menyalahgunakan jabatan sering dilakukan para pemilik jabatan.
Ini hanyalah sepenggal fragmen tentang kisah hidup Miqdad bin Amru. Lembaran sejarah hidupnya sangat panjang dan penuh dengan hikmah kebaikan. Becermin dari kisah Miqdad bin Amru ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama, hendaklah kita tidak terseret ke dalam arus kehidupan sekuler kapitalisme yang memuja jabatan, kekuasaan, kedudukan, dan kesenangan duniawi. Kedua, berhati-hatilah dengan kekuasan, jabatan, kedudukan, dan kepemimpinan. Para pemilik jabatan kerap terhinggapi sikap sombong, arogan, dan sewenang-wenang. Mereka juga kerap memakan hak orang lain dan merasa lebih baik dari yang lain. Hal inilah yang membuat mereka terjatuh ke dalam kubangan neraka yang sangat pedih.Ketiga, jika sanggup menerima kekuasan, jabatan, kedudukan, dan kepemimpinan, tunduk dan patuhlah kepada syariat Allah dan petunjuk Rasulullah saw. agar mendapatkan keberkahan di dunia dan akhirat. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran baik dari kisah ini. Semoga Allah Swt. senantiasa melindungi kita dari fitnah dunia. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
