Penulis: Ati Solihati, S.T.P.
Muslimah News, TSAQAFAH — Beberapa waktu lalu, istilah “mindfulness” seolahmenjadi mantra baru di kalangan pemuda urban. Di kampus, di coffee shop, di konten self-healing, semua bicara soal “fokus pada diri sendiri”, “tenangkan pikiran”, atau “tidak usah ambil pusing masalah di luar kontrolmu”. Prinsip ini terdengar damai dan modern, padahal di baliknya tersimpan bahaya besar.
Seorang artis Indonesia berinisial MA, dengan jutaan follower dari kalangan pemuda, alumni Philosophy, Politics, and Economics (PPE) Oxford, pernah membuat konten berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News”. Kontennya ini selain mendapatkan dukungan, tetapi tidak sedikit juga menghasilkan hujatan dari warga netizen karena dianggap tone deaf atau kurang peka terhadap berbagai krisis di Indonesia dan beragam kebijakan publik yang bermasalah.
Ia dianggap mereduksi persoalan “bad policy” menjadi sekadar “bad news”; memutar balik narasi dari “bagaimana para pemuda menuntut pertanggungjawaban atas bad policy” menjadi “bagaimana kita, para pemuda, mengelola emosi agar tidak stres membaca bad news”; mengalihkan pandangan terhadap berbagai krisis yang menimpa kehidupan bangsa: puluhan ribu anak keracunan MBG, puluhan juta warga kelas menengah turun kelas ke golongan miskin, puluhan juta warga 24 jam berbulan-bulan menghirup asap karhutla, sebagai sekadar berita buruk. Cara menghadapinya cukup fokus pada ketenangan diri pribadi.
Mindfulness, Tren-Pasar Masyarakat Kapitalistik
Sistem sekuler kapitalisme telah membangun masyarakat money oriented, menjadikan letak kepuasan pada capaian materi. Di sisi lain, sistem kapitalisme yang dikuasai para pemilik modal (kapitalis), membentuk sistem kekuasaan terletak pada segelintir elite (oligarki) sehingga menciptakan kesenjangan yang makin melebar antara kelompok elite dan kelompok sulit.
Kelompok sulit yang didominasi para pemuda dan pekerja senantiasa dipacu mengejar materi tidak berkesudahan. Kerja 12 jam, upah murah, kontrak tidak jelas, badai PHK mengancam setiap saat, dan harga sewa rumah melambung. Sementara itu, media sosial penuhflexing yang bikin cemas sekaligusfomo (fear of missing out)—ingin tampil gengsi, tetapi finansial tidak berdaya. Akhirnya, para pemuda pun dilanda stres, burn out, dan hampa. Mereka merasa butuh pemulihan.
Lalu kapitalisme pun datang dengan solusi palsu: “Jangan koreksi bos yang menindasmu, cukup atur napasmu”. “Kamu tidak butuh perubahan sistem, kamu hanya butuh mindfulness, fokus pada ketenangan diri”. “Jangan lawan sistem yang merampas masa depanmu, cukup healing, jurnaling, dan meditasi 10 menit”. Akhirnya, “terapi mindfulness” menjadi salah satu tren pemulihan kesehatan mental di kalangan pemuda. Mindfulness difungsikan sesuai kebutuhan masyarakat dalam tekanan sistem kapitalisme.
Jon Kabat Zinn, Ph.D., Profesor Kedokteran Emeritus di Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts yang terkenal sebagai penggagas gerakan kesadaran mindfulness di dunia medis kedokteran, menggambarkan bahwa mindfulness sebagai kesadaran dari waktu ke waktu tidak menghakimi apa yang ada di pikiran dan perasaan diri sendiri maupun orang lain. (psikologi.ui.ac.id). Bahkan, mindfulness menjadi industri jasa baru. Kelas mindfulness dihargai di kisaran Rp500 ribu. Retreat healing di Bali Rp7 juta, aplikasi meditasi langganan per bulan, lilin aroma terapi, serta matras yoga impor.
Ketenangan batin yang seharusnya gratis, kini harus dibeli. Jelas ini penipuan sempurna. Penyebab stresnya adalah sistem, tetapi yang disuruh berobat malah individunya. Sungguh kapitalisme cuci tangan. Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu saja korporasi global. Siapa yang jadi korban? Para pemuda dan para pekerja yang untuk makan saja susah, sekarang malah harus membeli ketenangan.
Kritikan pun muncul terhadap fenomena mindfulness yang menjadi tren masyarakat kapitalis ini. Ronald E. Purser dalam bukunya McMindfulness: How Mindfulness Became the New Capitalist Spirituality (2019) menjelaskan bahwa mindfulness sekuler telah menjadi pasar industri besar. Kapitalisme menggunakannya sebagai alat korporasi untuk mereduksi stres pekerja agar produktivitas meningkat tanpa pernah mempertanyakan lingkungan kerja yang toksik dan sistem ekonomi yang menjadi sumber stres itu sendiri.
Demikian juga Ron Purser dan David Loy dalam esai populernya, Beyond McMindfulness (2013), menggambarkan bahwa teknik mindfulness sekuler gagal membangkitkan kesadaran sosial terhadap keserakahan dan ketidakadilan, serta hanya menjadi terapi swadaya dangkal yang justru memperkuat status quo kapitalisme.
Jebakan Mindfulness: KetikaPemuda Individualis, Menolak Peduli
Individualisme merupakan salah satu corak sistem kapitalisme. Kebebasan individu menjadi hal yang sangat diagungkan. Orientasi anggota masyarakat, terutama para pemudanya, adalah kepentingan dan kepuasan individu. Asas ini pun mengikis kepedulian sosial dari masyarakat kapitalisme.
Pandangan mindfulness kental prinsip individualistis. Hal ini tampak dalam beberapa gambaran, misalnya sebagai berikut.
1. Fokus Mutlak pada Diri Sendiri (Self-Centric).
Dalam bentuknya yang individualistis, mindfulness digunakan sebagai alat untuk mengelola emosi, stres, dan kecemasan hanya untuk kenyamanan pribadi. Tujuan utamanya adalah mencapai kedamaian batin (inner peace) bagi individu tersebut tanpa memedulikan bagaimana kondisi mental atau perilaku mereka berdampak pada orang lain di sekitarnya. (Purser, 2019).
2. Swadaya dan Tanggung Jawab Pribadi (Self-Help Culture).
Prinsip individualisme menekankan bahwa setiap orang bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan dan nasibnya sendiri. Ketika diterapkan pada mindfulness, muncul narasi bahwa jika Anda stres, itu karena Anda kurang melatih pikiran Anda. Hal ini menggeser beban masalah dari sistem sosial ke pundak individu masing-masing. (Purser dan Loy, 2013).
3. Komodifikasi-Kapitalistik (McMindfulness)
Di dunia Barat dan masyarakat modern, mindfulness telah menjadi industri bernilai miliaran dolar (melalui aplikasi meditasi, studio yoga, dan buku swadaya). Di lingkungan korporat, perusahaan sering kali menyediakan pelatihan mindfulness agar karyawan, para pemuda-pekerja, mereka dapat menoleransi beban kerja yang tinggi dan tetap produktif. Di sini, mindfulness menjadi alat individual untuk bertahan dalam sistem ekonomi kapitalis yang penuh tekanan dan eksploitatif, alih-alih memperjuangkan perubahan sistem. (Purser, 2019).
4. Desensitisasi Sosial dan Politik
Mindfulness dengan prinsip individualisnya cenderung mengabaikan ketidakadilan sosial, kemiskinan, atau masalah struktural. Para pemuda kita diajarkan untuk “menerima keadaan saat ini tanpa menghakimi” (accepting the present moment without judgement). Dampak negatifnya, hal ini bisa membuat generasi muda menjadi pasif terhadap ketidakadilan di sekitarnya karena mereka terlalu sibuk menjaga kedamaian pikiran sendiri. (Purser dan Loy, 2013).
Mindfulness menarik masalah struktural menjadi sekadar masalah individual. Mereduksi solusi permasalahan sistem, menjadi solusi individu. Secara tidak langsung, mengajarkan para pemuda untuk menjadi apatis, antisosial, dan lari dari kenyataan. Pemuda mindfulness diajarkan untuk lebih memilih sikap netral, padahal netral tidak beda dengan menolak peduli. Bersikap netral dalam situasi terjadinya kezaliman adalah keberpihakan pada pelaku kezaliman. Mereka mengaku cinta damai, tetapi damai yang mereka cari adalah ketenangan di kamar ber-AC, bukan damai karena keadilan ditegakkan di negeri ini.
Mindfullness versus Muhasabah
Islam menolak prinsip individualisme, prinsip mementingkan diri sendiri serta abai untuk peduli. Rasulullah ﷺ bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari no.13 dan Muslim no. 45).
Namun, meskipun Islam menolak prinsip individualisme, tidaklah berarti Islam mengabaikan kebutuhan individu—terutama para pemuda—akan ketenangan diri dan refleksi diri. Justru Islam mengajarkan setiap individu untuk senantiasa melakukan muhasabah, introspeksi diri. Jika praktik psikologi kontemporer banyak menggunakan konsep mindfulness, Islam menjadikan konsep muhasabah sebagai salah satu bentuk refleksi diri. (Khoirunnias et al., 2025).
Menurut buku Mukjizat Sabar Syukur Ikhlas yang ditulis oleh Badrul Munier Buchori, muhasabah secara bahasa berasal dari bahasa Arab, yakni berakar dari kata “haasaba-yuhaasibu”. Kata tersebut diambil dari “hasiba, hasibtusy syai-a, ahsibuhu husbaanan, hisaaban” yang mengandung makna ‘jika engkau menghitungnya’. Secara terminologi (istilah), muhasabah adalah upaya seorang hamba untuk menimbang dan mengevaluasi kualitas ibadah, akhlak, serta perilakunya berdasarkan prinsip syariat, dengan tujuan memperbaiki diri pada masa depan dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Muhasabah, menghitung dan mengevaluasi amalan, menjadi prinsip yang harus dimiliki setiap muslim. Sebagaimana firman Allah Swt.
. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٨
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labib Jilid II, mengatakan ayat ini menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri yang mana setiap individu dianjurkan untuk merenungkan apa yang telah mereka persiapkan untuk hari esok, yaitu Hari Kiamat. Ini mencakup perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan karena setiap tindakan akan diperhitungkan saat akhirat nanti.
Sebagaimana juga nasihat Sayyidina Umar bin Khaththab ra. dalam kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا
“Hisablah diri kalian sebelum dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang.”
Rasulullah ﷺ memuji orang yang senantiasa melakukan muhasabah dan mencela yang sebaliknya.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya (dana nafsahu) dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu ia berharap kepada Allah dengan berbagai angan-angan.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Syaddad bin Aus ra., dan beliau menyatakan hadis ini hasan).
Sekalipun konsep mindfulness dan muhasabah sama-sama merupakan bentuk refleksi diri, tetapi ada perbedaan yang sangat mendasar. Mindfulness berakar dari individualisme, prinsip yang sangat mengagungkan kebebasan individu sehingga selalu memosisikan diri secara netral, mengedepankan atensi, dan tidak menghakimi, baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain sehingga cenderung abai, tidak peduli dengan kekeliruan diri sendiri, terlebih lagi kemungkaran yang terjadi di luar dirinya.
Sementara itu, muhasabah adalah salah satu bentuk kontemplasi dan evaluasi. Setiap muslim harus melakukan muhasabah. Introspeksi terhadap setiap kekeliruan yang dilakukan, bertobat atas setiap pelanggaran hukum syarak, dan bertekad akan menjadi lebih baik ke depannya. Seorang muslim pun akan melakukan muhasabah terhadap setiap kemungkaran yang terjadi di luar dirinya. Ini karena refleksi diri seorang muslim adalah refleksi dirinya sebagai pribadi, anggota masyarakat, maupun sebagai warga negara.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Bahkan, Islam menempatkan muhasabah lil hukkam, yaitu upaya mengoreksi kemungkaran penguasa, sebagai muhasabah tingkatan paling tinggi, bahkan pelakunya dikategorikan sebagai syaidusy-syuhada, pemimpin para syuhada. Rasulullah ﷺ bersabda,
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Mutholib, dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim, lalu ia menyerunya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
Dengan demikian, refleksi diri pemuda mindfulness cenderung mencari ketenangan individu dan abai untuk peduli kondisi yang ada. Sedangkan muhasabah menjadikan refleksi diri pemuda bersifat produktif, mengubah dan memperbaiki apa yang ada pada dirinya dan sistem kehidupan yang diterapkan.
Pemuda Muslim: Pemuda Peduli, Pejuang Kebangkitan Islam
Seorang pemuda muslim yang hidup di tengah sistem kapitalisme saat ini, sekalipun pasti terimbas oleh ekosistem yang eksploitatif dan merasakan kelelahan yang memuncak, tidak akan menjadikan mindfulness sebagai teknik untuk mencari ketenangan. Namun, ia akan mengingat Allah dan kembali taat pada-Nya.
Sebagaimana firman Allah Swt.,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS Ar-Ra’du: 28).
Dalam hadis riwayat Wabishah bin Ma’bad ra., Rasulullah ﷺ bersabda,
الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ لَهُ الْقَلْبُ
“Kebaikan (ketaatan) adalah apa saja yang membuat jiwa tenang dan hati tenteram…”
Dengan demikian, dalam ketaatan pada Allah dan Rasul-Nyalah seorang muslim akan merasakan ketenangan. Salat menjadi penghibur hatinya yang lara. Dakwah menjadi rekreasi jiwanya yang lelah. Dengan ketaatan, ia mendapatkan rasa bahagia karena di sanalah hadirnya rida Allah. Rida Allah adalah puncak kebahagiaan seorang muslim. Apa pun perintah Allah dan Rasul-Nya akan dilaksanakan untuk meraihnya. Terkait beragam kerusakan yang menimpa masyarakat, ia tidak akan merasa tenang jika hanya berdiam diri karena Allah telah memerintahkan untuk melakukan perubahan.
Firman Allah Swt. QS Ar-Ra’du: 11,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Para pemuda muslim menyadari bahwa kesengsaraan yang menimpa masyarakat saat ini adalah buah penerapan sistem kapitalisme yang merusak dan harus segera dihentikan. Harus ada perjuangan dakwah untuk mengganti sistem ini dan membangkitkan kembali sistem kehidupan yang hakiki. Itulah Khilafah Islamiah, sistem Islam, sistem yang sempurna dan bersandar pada wahyu Sang Pencipta. Sistem kehidupan yang tercatat dalam sejarah sebagai peradaban yang mulia yang telah menjadi rahmat bagi seisi alam lebih dari 13 abad.
Perubahan sistem ini tidak mungkin terwujud jika para pemudanya terbuai dengan mindfulness. Para pemuda harus peduli, berdakwah, dan bangkit berjuang menegakkan kembali peradaban Islam. Dengan perjuangan inilah, mereka merasa berbahagia. Wallahualam bissawab. [MNews/GZ]
