Penulis: Ummu Aiman
Muslimah News, FOKUS WAG — Oktober 2026 menandai genap tiga tahun peristiwa Operasi Thufan al-Aqsha, sebuah operasi yang telah membongkar kerapuhan entitas ilegal Yahudi dan meruntuhkan mitos kekuatan Yahudi. Thufan al-Aqsha (bahasa Arab: طوفان الأقصى) secara harfiah berarti ‘Banjir al-Aqsha’ atau ‘Badai al-Aqsha’.
Thufan (طوفان) berarti banjir besar, bah, atau badai dahsyat yang meluap dan menghanyutkan apa saja yang merintanginya, sebuah istilah yang juga merujuk pada peristiwa besar dalam sejarah, seperti badai Nabi Nuh as. Sedangkan Al-Aqsha (الأقصى) merujuk pada Masjidilaqsa di Yerusalem (Al-Quds) yang menjadi simbol utama perlindungan, kesucian, dan pusat perjuangan umat Islam serta bangsa Palestina.
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan gelombang perlawanan yang masif dan mengejutkan demi membela Masjidilaqsa, menghentikan blokade di Jalur Gaza, serta merespons pendudukan dan agresi bertahun-tahun oleh entitas Zion*s Yahudi.
Peristiwa ini menjadi simbol betapa kuatnya tekad yang dilandasi keimanan sebuah bangsa yang sudah lama menderita di negeri sendiri selama puluhan tahun, tetapi tetap berdiri teguh meski harus kehilangan rumah, keluarga, dan nyawa karena genosida. Dari Thufan al-Aqsha, kita tahu bahwa rakyat Palestina harus dilihat, didengar, dan diperlakukan layak seperti orang lain dengan hak hidup yang harus terpenuhi, aman, dan bermartabat.
Operasi Thufan al-Aqsha menjadi pembuka dari sebuah babak baru. Bukan hanya dalam sejarah konflik Israel-Palestina, melainkan juga dalam skala kekerasan dan pembantaian di luar nalar manusia yang telah dilakukan entitas Yahudi di Gaza.
Dari sisi serangan bom, entitas Yahudi telah menjatuhkan 70.000 ton bom di Gaza sejak 7 Oktober 2023 hingga 24 April 2024 (7 bulan). Jumlah tersebut melebihi jumlah bom yang digunakan saat Perang Dunia II. (Organisasi pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Jenewa, Euro-Med Human Rights Monitor). Bom-bom yang dijatuhkan entitas Yahudi itu menyebabkan hampir seluruh wilayah Gaza hancur. Jumlah ini juga jauh melebih jumlah bom yang dijatuhkan di Dresden, Hamburg, dan London selama Perang Dunia II yang mana jumlah total bom yang digunakan saat itu sekitar 30.700 ton bom.
Berdasarkan data dari Anadolu Agency dan laporan Kementerian Kesehatan Gaza, hingga 4 Oktober 2026 (memasuki tahun ketiga konflik), tercatat korban tewas akibat serangan entitas Yahudi sebanyak 74.237 warga Palestina dan 175.206 lainnya luka-luka. Perincian demografi berdasarkan data OCHA hingga akhir 2025 dari 71.444 korban teridentifikasi adalah laki-laki (47,7%), anak-anak (29,8%), perempuan (15,4%), dan lansia (7,1%). Sedangkan ribuan warga lainnya masih dinyatakan hilang atau tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Angka kematian ini setara dengan sekitar 3,4% dari total 2,2 juta penduduk Gaza sebelum perang (atau sekitar 1 dari 30 warga).
Selama tiga tahun setelah peristiwa Thufan al-Aqsha, warga Gaza berdiri teguh di atas timbunan reruntuhan; mempersembahkan keimanan, ketakwaan, ketabahan, dan kesabaran yang luar biasa kepada Allah Taala. Darah para syuhada terus mengalir di bumi Palestina dan bumi para nabi ini menjadi kuburan terbesar bagi para syuhada yang kelak akan bangkit sebagai saksi yang adil di hadapan Allah taala.
Kenyataan Pahit
Di balik keberanian luar biasa para mujahidin dan rakyat Palestina, realitas paling pahit yang harus ditelan bukan hanya kekejaman luar biasa entitas Yahudi, melainkan juga pengkhianatan yang juga dilakukan oleh para penguasa muslim.
Selama tiga tahun Gaza dibantai tanpa sedikit pun belas kasihan, dibom tanpa henti siang dan malam, dan penduduknya diusir dari tanah air mereka sendiri, yang dilakukan oleh lebih dari 50 penguasa muslim dari negara-negara Arab dan dunia Islam hanyalah berdiam diri. Mereka hanya menjadi penonton dan penghitung jumlah korban. Lebih buruk lagi, sebagian dari mereka bahkan menjadi kaki tangan entitas Yahudi dalam kejahatan genosida paling kejam sepanjang sejarah kemanusiaan.
Selama tiga tahun pula, bahkan sejatinya sudah lebih dari 78 tahun, jika ada di antara para penguasa muslim yang bersuara, suara mereka tidak lebih dari kecaman kosong dan retorika pencitraan untuk membungkam rakyat mereka agar tidak mengkritik mereka. Terkadang suara mereka terdengar keras dan pidato mereka berapi-api karena masing-masing sedang berlomba-lomba meraih penghargaan sebagai pahlawan terbaik di atas panggung sandiwara dunia.
Selama ini, apalagi jika dihitung dari Perjanjian Balfour 1917 yang berarti sudah 109 tahun, kita menyaksikan KTT demi KTT, baik melalui PBB, OKI, Liga Arab, maupun berbagai pertemuan darurat lainnya yang mereka selenggarakan melalui beragam platform, semuanya kosong dari tindakan nyata: membebaskan Palestina dari penjajahan dan kekejaman Israel!
Kelaparan parah, kematian, dan kehancuran yang telah menimpa Palestina, tidak membuat satu pun peluru diarahkan oleh para penguasa tersebut kepada entitas Yahudi. Mereka membiarkan tanah Isra Mikraj ini terus dikuasai oleh entitas Yahudi. Bahkan, mereka membiarkan saudara-saudara mereka dibunuh dan dibantai sesuka hati oleh kaum yang dilaknat tersebut, tanpa sedikit pun pembelaan dari mereka.
Para penguasa Arab mempertahankan batas-batas palsu Sykes-Picot yang diciptakan oleh kaum kafir penjajah. Para penguasa muslim lainnya melakukan hal yang sama dengan mempertahankan batas-batas negara masing-masing yang dibuat penjajah, mereka rela mengorbankan nyawa saudara-saudara mereka asalkan batas-batas negaranya tetap aman.
Pada saat yang sama, umat Islam terus ditipu dengan apa yang disebut sebagai “solusi internasional”. Sebagian umat Islam, bahkan gerakan-gerakan Islam sendiri, masih bergantung kepada PBB, Dewan Keamanan, atau Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Padahal, semua itu merupakan ilusi penyelesaian yang membutakan yang terbukti tidak pernah menyelesaikan persoalan Palestina.
Sudah seharusnya umat Islam menyadari bahwa mengharapkan keadilan atau penyelesaian dari Barat, institusi-institusi, maupun hukum internasional yang mereka ciptakan, ibarat menyerahkan nasib sekawanan domba kepada serigala yang sedang kelaparan.
Solusi Tuntas yang Harus Diwujudkan Umat Islam
Apa yang terjadi di Palestina ini menyadarkan kita bahwa umat ini harus bersatu. Umat ini harus memiliki pelindung dan pemimpin yang satu. Sekat-sekat imajiner negara buatan penjajah berupa nasionalisme yang telah menjadikan umat ini lemah dan tercerai-berai, harus dihapuskan.
Oleh karenanya, umat sangat membutuhkan seorang khalifah, pemimpin kaum muslim sedunia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam (khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum muslim berperang dan berlindung.” (HR Bukhari-Muslim).
Khilafah adalah kepemimpinan global kaum muslim untuk menerapkan syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Khilafah akan menyatukan seluruh umat Islam dengan landasan akidah Islam. Khalifahlah yang akan menyerukan sekaligus memimpin langsung pasukan kaum muslim di seluruh dunia untuk membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum muslim di mana pun.
Tentara-tentara muslim di bawah kepemimpinan khalifah akan menghancurkan kekuatan kufur dengan mudah dengan izin Allah Taala. Ini karena akar masalah Palestina adalah penjajahan Zion*s Yahudi yang dibeking oleh negara-negara kafir penjajah Barat.
Sikap terhadap penjajah adalah satu: Usir! Dengan apa mengusir mereka? Tentu dengan mengirim tentara-tentara muslim. Merekalah yang akan melakukan jihad fisabilillah dan jihad hanya akan efektif kalau dikomandoi oleh seorang pemimpin, seorang khalifah dalam sistem Khilafah.
Ini sebagaimana dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. ketika mengirimkan tentara ke Syam untuk membebaskan Baitulmaqdis (Palestina) dari penguasa Romawi. Setelah melalui perang berbulan-bulan, pada 637 M, pasukan Romawi menyerah dan kunci Baitulmaqdis diserahkan kepada Khalifah Umar oleh Patriackh Sofronius. Ini pula yang dilakukan Panglima Shalahuddin al-Ayyubi ketika membebaskan kembali Baitulmaqdis dari Tentara Salib pada 1187; setelah perang yang lama dan Perang Hithin menjadi momen pembuka untuk mengalahkan Tentara Salib.
Mengapa Harus Mengirimkan para Tentara Muslim ke Palestina?
Pertama, dalam rangka memenuhi perintah Allah Taala yang memerintahkan jihad fisabilillah ketika ada negeri Islam yang diserang, diduduki, dan dizalimi. Perintah ini berlaku bagi seluruh kaum muslim ketika upaya mengusir penjajah dan memerangi mereka belum tuntas dilakukan oleh satu negeri Islam, seperti Palestina.
Kedua, dalam perang ini, yang dihadapi oleh umat Islam sesungguhnya bukan hanya entitas Yahudi yang jumlahnya sekitar 9 juta orang dengan sekitar 600 ribu pasukan inti. Namun, yang dihadapi umat Islam adalah negara-negara Barat seperti Inggris yang membidani kelahirannya, Amerika dan sekutu Eropanya yang menjadi pelindung. Alhasil, yang kaum muslim hadapi adalah kekuatan politik global yang siap mengerahkan militer mereka.
Ketiga, akar krisis Palestina ini bisa dituntaskan hanya dengan mobilisasi dan persatuan tentara-tentara kaum muslim di seluruh dunia dalam satu komando seorang khalifah. Akar persoalannya adalah keberadaan entitas Yahudi yang tidak bisa diselesaikan dengan bantuan kemanusiaan: sekadar membantu korban, tetapi tidak menghentikan penjahatnya yang selalu melukai, bahkan membunuh korban. Tidak pula dengan usulan kerangka perdamaian Barat atau “solusi dua negara” yang justru berujung pada pengakuan eksistensi penjajah Yahudi, seolah ia sebuah negara yang legal. Ini hanya bisa diselesaikan dengan jihad fisabilillah.
Khilafahlah yang akan menghentikan kolonialisasi, dominasi, dan hegemoni Barat atas tatanan dunia yang sudah rusak saat ini. Khilafah akan membentuk konstelasi internasional baru, juga tatanan dunia baru yang adil dan makmur atas landasan Islam. Khilafah akan membebaskan umat manusia dari segala bentuk penjajahan dan kezaliman manusia-manusia yang mempertuhankan hawa nafsu, kembali kepada kehidupan yang sesuai fitrah manusia, yaitu hidup sesuai aturan-aturan Rabbul ‘alamin, Al-Khaliq al-Mudabbir, Sang Pencipta manusia. Khilafah pun akan mengelolan kekayaan negeri-negeri dengan aturan Islam yang kebaikannya akan dinikmati oleh semua manusia, baik muslim maupun muslim, serta seluruh alam.
Khatimah
Ada sebuah ungkapan yang menggambarkan pemahaman yang mendalam tentang kekuatan Islam yang diungkapkan Lord Curzon, pejabat Kementerian Luar Negeri Inggris ketika ia begitu percaya diri setelah menghancurkan Khilafah Islam pada 1924.
“We must put an end to anything which brings about any Islamic unity between the sons of the muslims. The situation now is the turkey is dead and will never rise again, because we have destroyed its moral strength:The Chaliphate and Islam.”
“Kita harus mengakhiri segala hal yang memicu persatuan Islam di antara para putra kaum muslim. Situasi saat ini adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit kembali karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, (yakni) Khilafah dan Islam.” (Lord Curzon, 1924). Wallahualam bissawab. [MNews/GZ]
Sesi Tanya-Jawab
Izin bertanya, menurut Ustazah, kenapa berita tentang Palestina ini semakin redup? Jazaakumullah khoir. (Pertanyaan dari Ukhty Lisa – Balikpapan Kaltim – Grup #11 Muslimah News)
Jawaban dari Ustazah Ummu Aiman
Baik. Jazakillah khayran atas pertanyaan Ukhty Lisa. Kenapa berita tentang Palestina semakin meredup? Bisa dilihat dari aspek:
1. Aspek umat Islam yang semakin terjebak pada sikap pragmatis. Termasuk para penguasa muslimnya yang lebih fokus pada kepentingan pribadi, kepentingan nasional jangka pendek atau menjaga hubungan dengan Barat daripada menyuarakan isu pembebasan Palestina secara konsisten. Hal ini melemahkan dorongan opini publik masif tentang Palestina.
2. Adanya skenario pengalihan isu oleh Barat, kekuatan global Barat terus memunculkan isu-isu baru di kawasan Timur Tengah untuk memecah perhatian umat seperti isu konflik sektarian, dll.
3. Normalisasi dan solusi semu wacana two state nation untuk mendurkan kesadaran umat. Isu Palestina digiring pada sekedar masalah bantuan kemanusiaan atau diplomasi meja bundar BUKAN pada masalah penjajahan.
—
Dari paparan materi diskusi saat ini yang tergambar di benak saya begini Ustazah: kalau Wihdatul Ummah nanti bisa terwujud untuk persatuan seluruh umat Islam di seluruh dunia apakah itu nanti terus akan diadakan sidang lewat PBB sehingga batasan-batasan wilayahnya jelas? Atau bagaimana Ustazah? Syukron atas jawabannya. (Pertanyaan dari Ibu Nurjannah – Batu Malang – Grup #15 Muslimah News)
Jawaban dari Ustazah Ummu Aiman
1. Kekuatan politik global khilafah pastinya akan sangat mempengaruhi proses pengakuan Internasional (Internasional Recognition), terutama dari aspek adanya kedaulatan baru yang akan memberi pengaruh pada batasan wilayah kaum muslimin/negeri kaum muslim dalam tataran wilayah Khilafah
2. Tegaknya Khilafah akan membangun kekuatan politik dari sisi demografi, geopolitik-SDA, persatuan politik
3. Dalam konteks PBB, tentunya tidak akan diam terhadap kekuatan politik global yang baru terutama dalam aspek stigmatisasi keamanan, sengketa wilayah (warisan persoalan perbatasan yang terjadi antara sengketa banyak negara muslim dengan negara non muslim), hingga mekanisme PBB dalam memediasi batas melalui Dewan Keamanan atau ICJ (Internasional Court of Justice), disamping hak veto DK.
—
Bagaimana pembacaan Ustadzah mengenai Iran dan sikapnya terhadap Israel. Adakah amal pembelaannya terhadap Palestina? Jazakillah khoyr katsiir. (Pertanyaan dari Ukhty Hikmah – Gresik – Grup #1 Muslimah News)
Jawaban dari Ustazah Ummu Aiman
Amal pembelaan terhadap Palestina adalah apa yang disuarakan dan faktanya harus sama. Apa yang dibutuhkan Palestina adalah PEMBELAAN murni yang didasarkan pada keimanan kepada Allah, pembelaan terhadap saudara sesama muslim dengan penuh kesadaran ukhuwah Islamiyyah dan pelaksanaan aturan Allah Ta’ala. Ketika ada saudara muslim yang dijajah dan dizalimi yaitu MENGUSIR penjajahnya dengan jihad Fiisabilillah. Maka Ukhty Hikmah akan bisa melihat, apakah ada amal tersebut?
Dalam peta politik Timur Tengah, kita wajib secara cermat memperhatikan siapa kawan dan lawan yang sebenarnya, karena kadang kawan berperan sebagai lawan untuk menguatkan posisi negara yang menjadi Tuannya.
—
Ustazah, pemimpin negeri-negeri Islam saat ini bermental pengecut dan tak tergerak sedikitpun untuk membela umat muslim di Palestina yang sudah terzalimi sedemikian rupa, selain karena penyakit wahn dalam diri mereka, apa juga karena faktor “mental illness”? Padahal sudah kasat mata Israel menganiaya, membunuhi, bertindak kejam pada muslim Palestina; tapi melihat semua “horor” tersebut, mereka seperti mati rasa? (Pertanyaan dari Ummu Qithath – Cikarang – Grup #3 Muslimah News)
Jawaban dari Ustazah Ummu Aiman
Baik. Terima kasih untuk pertanyaan Ummu Qithath. Aspek mental illness pada para pemimpin negeri kaum muslimin sangat mungkin ada karena pengaruh sistem hidup sekuralisme yang merusak jiwa dan raga. Namun dalam konteks bungkam dan enggannya membela dan mengerahkan pembelaan maksimal dalam persoalan Palestina perlu lihat dari aspek persoalan geopolitik, strategi militer dan dinamika ekonomi yang kompleks.
Dalam analisis global perlu diperhatikan: 1. National interest (sistem negara bangsa), dibawah hukum internasional setiap pemimpin negara memprioritaskan keamanan dalam negeri dan stabilitas ekonomi (sebelum tindakan militer di luar batas wilayahnya). 2. Ketergantungan ekonomi dan geopolitik (jika melakukan intervensi militer akan ada sanksi berat). 3. Ketimpangan kekuatan militer
Dari aspek ini jelas bahwa, urgen untuk adanya kekuatan global kaum muslimin yang mampu menghilangkan dekat negara dan memiliki kekuatan militer yang berbasis pada keimanan kepada Khaliq al-Mudabbir dan ini hanya ada sistem khilafah sehingga masalah Palestina akan terselesaikan dengan adil tuntas dan beradab. Sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu.
—
Akankah Thufanul Aqsha ini bermuara pada kebangkitan umat Islam, Ustazah? Mohon analisis Ustazah. Jazakillahu khairan. (Pertanyaan dari Ukhty Wati – Jatim – Grup #1 Muslimah News)
Jawaban dari Ustazah Ummu Aiman
Baik. terimakasih pertanyaannya ukhty Wati. Operasi Thufan Al-Aqsha telah mengembalikan martabat dan mengembalikan kepercayaan umat Islam terhadap kemampuan mereka untuk berjuang dan bertahan hidup, meski harus menghadapi dengan pengorbanan yang sangat besar. Operasi ini juga memposisikan kembali kompas konflik dan permusuhan di kalangan masyarakat yaitu Palestina adalah persoalan umat Islam. Adanya kebencian dan permusuhan yang besar dari musuh-musuh Allah pada umat Islam.
Operasi ini juga mengembalikan posisi jihad sebagai kewajiban mendasar dalam Islam, setelah musuh-musuh umat berusaha mencoreng citranya. Membuat stigma negatif pada jihad dengan pola monsterisasi pada aturan Islam. Di sisi lain, sangat terang benderang bagaimana pembantaian yang terjadi pada bangsa Palestina, didiamkan dan bahkan difasilitasi 😭😭
Maka tentu saja dengan operasi thufanul aqsha yang telah memberi spirit perjuangan membela agama dengan mengorbankan seluruh yang dimiliki. SEHARUSNYA UMAT ISLAM BANGKIT, BERSATU, BERJUANG mengembalikan izzah kaum muslimin dimana pun berada.
—
Izin bertanya Ustazah, usaha apa yang harus kita lakukan saat ini sebagai bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara kita di Gaza yang sampai saat ini masih terus terjajah? Syukron. (Pertanyaan dari Umma Arsyil – Makassar – Grup #12 Muslimah News)
Jawaban dari Ustazah Ummu Aiman
Baik jazakillah khayran pertanyaannya Umma Arsyil. Serangan Zionis terhadap penduduk Gaza tidak kunjung berhenti. Kini Gaza dihadapkan pada bencana lain, yakni kelaparan, dehidrasi dan malnutrisi. Bencana tersebut akan membawa anak-anak Gaza pada gerbang kematian. Anak-anak Gaza meregang nyawa akibat malnutrisi dan genosida. Perang pasti menyisakan kehancuran bagi wilayah dan mengorbankan manusia yang hidup di sana. Anak-anak Gaza dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Gaza butuh solusi mendesak!
Maka, HARUS ada upaya penyadaran pada PENTING dan GENTING-nya umat Islam serta para penguasa negeri Islam untuk berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw., sehingga mereka mampu melakukan hal-hal berikut:
Pertama, menyerukan jihad (perang) dan membuka pintu-pintu perbatasannya dengan Palestina, seraya menggerakkan semaksimal kekuatan tentara yang mereka miliki. Inilah yang wajib mereka lakukan dalam rangka memenuhi seruan Allah Swt. (Lihat: QS al-Anfal [8]: 72).
Penguasa muslim seharusnya mengubur rasa takut dan kecemasan atas kekuatan semu Israel dan bangsa-bangsa pendukungnya. Fakta membuktikan, Israel bisa dikalahkan oleh operasi Thufanul Aqsha, yang notabene bukan negara. Sungguh orang-orang kafir sangat takut terhadap kekuatan umat Islam (Lihat: QS al-Hasyr [59]: 13).
Rasulullah saw.—sebagai kepala negara Daulah Islam di Madinah saat itu—telah memberikan uswah (teladan) dengan bertindak cepat dan tegas dengan cara membersihkan entitas Yahudi ketika mereka mencoba melecehkan seorang muslimah. Demikian juga sikap para Khalifah pada masa-masa Kekhilafahan setelah beliau.
Kedua, negara Israel harus dihapus sebagaimana Rasulullah saw. mengusir orang-orang Yahudi dari semenanjung Arab. Sebabnya, akar persoalannya adalah berdirinya negara Israel di tanah kaum Muslim.
Tanah Palestina adalah hak dan milik umat Islam yang diperoleh dengan tetesan darah dan airmata serta mengorbankan banyak nyawa. Statusnya sebagai tanah kharajiyah tidak akan pernah berubah hingga Hari Kiamat. Karena itu, langkah damai hanyalah manipulasi sekaligus merupakan pengakuan tak langsung terhadap penjajahan bangsa Yahudi atas tanah kaum Muslim. Padahal para penguasa Muslim saat ini seharusnya meniru para Khalifah dulu yang tidak pernah membiarkan sejengkal pun tanah Palestina dikangkangi orang-orang Yahudi kafir.
Ketiga, para penguasa negeri Islam seharusnya meninggalkan sistem jahiliah saat ini dengan cara menerapkan syariah Islam secara total dalam institusi Khilafah.
Kesatuan dan persatuan umat Islam seutuhnya kembali mewujud di bawah satu kepemimpinan seorang Khalifah. Lalu umat akan berperang di belakang Khalifah—yang berfungsi sebagai perisai—untuk menghancurkan dan menghentikan penjajahan Israel dan sekutunya.
Closing statement dari Ustazah Ummu Aiman
Secara individu 1. terus memperdalam pemahaman kita pada tsaqafah Islam, 2. peduli pada apa yang terjadi pada umat, 3. menjadi bagian dari barisan orang-orang yg membela Islam yang terpercaya, 4. terus menyuarakan al-haq bersama jamaah yang konsisten memperjuangkan Islam kaffah, hingga aturan Allah tegak dengan sempurna dan menyeluruh, 5. istikamah dan terus berdoa untuk kebaikan-kebaikan umat ini.
Operasi Thufanul Aqsha sejatinya menunjukkan urgen bagi umat untuk segera melakukan kebangkitan berfikir agar mampu melakukan perubahan hakiki dengan kompas sejati umat yaitu syariat Islam Kaffah.
Mewujudkan perubahan yg mendasar (hakiki) membutuhkan pembinaan umat agar memahami persoalan Palestina secara utuh. Umat tidak cukup hanya mengetahui jumlah korban dan menyaksikan kehancuran melalui pemberitaan, tetapi juga perlu memahami akar penjajahan, persoalan kepemimpinan politik, dan solusi yang ditawarkan dalam pemikiran Islam ideologis.
Karena itu, dakwah Islam kafah menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran tersebut. Dakwah tidak hanya membahas ibadah individual, tetapi juga menjelaskan bagaimana Islam mengatur kehidupan bermasyarakat, pemerintahan, ekonomi, dan hubungan antarnegara.
Melalui pembinaan dan pendidikan politik Islam, umat diharapkan mampu memahami bahwa persoalan yang menimpa kaum Muslim membutuhkan kepedulian sekaligus pemahaman terhadap sistem yang mengatur kehidupan mereka. Dengan demikian, problem sistemik terhadap Palestina menjadi pengingat bahwa umat membutuhkan kepedulian nyata sekaligus kesadaran politik yang mendalam.
Dalam perspektif Islam, kesadaran politik terwujudkan pada penting dan gentingnya Khilafah, yang dipandang sebagai perisai umat yang diharapkan mampu menyatukan kekuatan kaum Muslim dan menjalankan tanggung jawab pembebasan negeri yang terjajah berdasarkan ketentuan syariat.
Dari realita buruk yang tengah mengelilingi dunia saat ini, terutama pada apa yg tengah terjadi pada saudara kita di Palestina sungguh sangat nyata : Dunia membutuhkan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Khilafah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Wallaahu a’lam bish-shawaab.[]
Rekap Diskusi pada Jumat, 16 Oktober 2026.
