[Kabar] Kasus Influenza dan ISPA Meningkat, Pemerhati: Tidak Boleh Dianggap Remeh

[Kabar] Kasus Influenza dan ISPA Meningkat, Pemerhati: Tidak Boleh Dianggap Remeh

Muslimah News, NASIONAL — Pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti menyatakan, adanya peningkatan kasus Influenza A ataupun jenis lain adalah satu keniscayaan dan tidak boleh dianggap remeh. “Apalagi, ketika ada jenis virus tertentu yang memiliki daya tular lebih cepat dan membahayakan kelompok rentan,” ujarnya kepada MNews, Senin (5-10-2026).

Hal ini disampaikannya menanggapi Kemenkes RI yang mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Hasil surveilans sentinel menunjukkan positivity rate influenza sebesar 56% pada minggu ke-38. Pada surveilans di puskesmas, aktivitas influenza telah berada pada kategori sedang, sementara pada surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah.

Pada minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Virus yang dominan adalah influenza A (H1N1pdm09). Sementara itu, perkembangan Influenza A (H3N2) subclade K menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Influenza A(H3N2) subclade K pada tahun ini dilaporkan telah terdeteksi di 13 provinsi di Indonesia. terbanyak ditemukan di Jawa Timur (Jatim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

Peningkatan kasus influenza ini terjadi di tengah peningkatan kasus ISPA yang sudah terjadi sejak awal tahun ini. Sampai minggu ke-36 atau pekan pertama September 2026, ISPA menjadi penyakit dengan kasus terbanyak di Indonesia. Pada bulan ini, kenaikan kasus juga dipicu adanya karhutla dan erupsi Gunung Anak Krakatau, serta pengaruh iklim.

Komprehensif

Arum menilai, kewaspadaan dan langkah komprehensif sejak dari pencegahan hingga pengobatan dan pemulihan harus ditingkatkan agar semua rakyat, khususnya kelompok rentan mendapatkan perlindungan maksimal.

“Meski masih terkendali, semua aspek harus diperhatikan secara simultan. Apalagi rendahnya literasi dapat memicu kepanikan dan tindakan-tindakan berlebihan yang justru kontra produktif terhadap upaya penanggulangannya. Semua itu tentu membutuhkan peran aktif negara secara nyata di tengah masyarakat,” urainya.

Ia menyayangkan, dalam sistem kapitalisme hari ini, peran negara diminimalisir, bahkan sering tidak hadir di tengah rakyat. Paradigma pasar bebas dan kapitalisasi layanan negara, tambahnya, mengakibatkan tidak seluruh rakyat mendapatkan perlindungan.

“Anjuran vaksinasi dari Kemenkes pun sulit diwujudkan mengingat harus berbayar. Sementara itu, layanan kesehatan tidak selalu mudah diakses baik karena jarak ataupun biaya. Belum lagi buruknya berbagai faktor determinan sosial kesehatan, seperti status gizi, kualitas udara, higiene sanitasi dan lainnya, mengakibatkan rendahnya imunitas sehingga meningkatkan resiko infeksi, terlebih pada kelompok rentan,” bebernya.

Negara Bervisi Riayah

Menurut Arum, peningkatan kasus influenza dan ISPA membutuhkan hadirnya negara yang memiliki visi riayah, yaitu negara yang menjadi pelayan rakyat, memenuhi kebutuhan rakyat demi mewujudkan kemaslahatannya tanpa meminta kompensasi apapun. “Namun, model negara demikian hanya dapat terwujud dalam sistem politik Islam melalui institusi yang disebut sebagai Khilafah,” ucapnya.

Islam telah menjadikan Khilafah sebagai pihak yang bertanggung jawab mewujudkan kemaslahatan rakyat, lanjutnya, termasuk dalam sistuasi meningkatnya kasus influenza yang membahayakan kelompok rentan, mulai dari bayi, balita, ibu hamil hingga lansia terlebih yang menyandang penyakit komorbid, seperti diabetes mellitus, hipertensi dan lainnya.

“Khilafah akan melakukan upaya kesehatan secara komprehensif secara gratis untuk seluruh rakyat terlebih kelompok rentan. Khilafah akan meningkatkan literasi sehingga rakyat memahami penyakit ini, juga tepat bersikap dan terhindar dari kepanikan,” terangnya.

Dengan demikian, ia menyatakan, rakyat terbiasa menjaga kebersihan, bisa melakukan etika batuk, serta mengetahui tanda-tanda bahayanya sehingga dapat melakukan upaya pencegahan dan pertolongan pertama di rumah. “Rakyat juga mengetahui kapan harus segera ke sarana kesehatan, baik layanan pratama maupun tingkat lanjut (RS). Hal ini akan mengurangi bertumpuknya pasien di RS karena hanya pasien yang benar-benar membutuhkan layanan khusus yang datang ke RS,” imbuhnya.

Khilafah, tuturnya, menyiapkan layanan kesehatan untuk menghadapi lonjakan kasus, melengkapi sarana dan prasarananya, termasuk di daerah 3T. “Kesiapan sarana ini bahkan sudah dilakukan sejak awal karena kewajiban Khilafah adalah menyediakan layanan kesehatan berkualitas terbaik dan merata di seluruh wilayah Khilafah,” jelasnya.

Upaya terbaik ini, urainya, didukung melalui jaminan anggaran negara dari baitulmal. “Sistem politik Islam juga mewujudkan berbagai faktor determinan sosial kesehatan dalam kondisi terbaik sehingga rakyat memilki daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah terinfeksi virus influenza. Kebutuhan akan vaksin pun bisa diminimalisir,” terangnya.

Meskipun demikian, sambungnya, Khilafah tetap menyediakan layanan vaksinasi secara gratis pada individu yang benar-benar membutuhkan. “Semua ini adalah perwujudan sabda Nabi saw. yang menegaskan bahwa penguasa adalah pengurus rakyat, juga adanya upaya untuk mencegah bahaya bagi rakyat,” ujarnya.

Terlebih lagi, ia mengatakan, Khilafah memiliki kewajiban menjaga nyawa (hifzhun nafs). “Oleh karena itu, tegaknya Khilafah tidak saja menjadi satu kebutuhan untuk membangun masyarakat sehat, tetapi juga merupakan tuntutan keimanan kepada Allah Swt. yang memerintahkan penerapan Islam secara kafah,” tutupnya. [MNews/Ruruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *