Penulis: Ustazah Dra. Iffah Ainur Rochmah
Muslimah News, SIRAH — Hari keberangkatan pasukan kaum muslim menuju Mu’tah menjadi momen yang menggetarkan. Ketika pasukan bersiap meninggalkan Madinah, Abdullah bin Rawahah justru menangis. “Apa yang membuat Anda menangis, wahai Ibnu Rawahah?” tanya kaum muslim.
“Demi Allah, aku menangis bukan karena cintaku kepada dunia. Aku juga tidak menangis karena meninggalkan tempat ini sangat lama. Aku menangis karena aku mendengar Rasulullah ﷺ pernah membacakan ayat Al-Qur’an (surah Maryam: 71) yang menyebut tentang neraka,” jawab Abdullah bin Rawahah.
Abdullah bin Rawahah mengatakan hal tersebut karena pergi berperang berarti meninggalkan kecintaan kepada dunia, siap menjemput kematian, dan meraih kemuliaan. Meski demikian, tetap ada rasa terikat dengan tempat tinggal dan kerinduan kepada orang-orang yang ditinggalkan.
Abdullah bin Rawahah merasa takut terhadap nasib dirinya setelah sampai pada tempat yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya. Ia berkata, “Aku tidak tahu bagaimana nasibku setelah tiba di tempat yang Allah nyatakan dalam firman-Nya. Kalian semua pasti akan memasuki neraka itu. Apakah aku juga termasuk orang yang akan memasukinya?” tanya Abdullah bin Rawahah.
Kaum muslim pun menenangkan, “Semoga Allah menyertai kalian, pasti Allah akan melindungi Anda, dan Allah akan mengembalikan kepada kami dalam keadaan yang baik.”
Tidak lama kemudian Abdullah bin Rawahah menjawab, “Aku memohon kepada Ar-Rahman, maghfirah, pukulan keras sampai darah bermuncratan, atau tikaman dari tangan musuh dengan tombak yang menembus usus dan hati pembawa kematian, sehingga saat mereka melewati kuburanku, mereka berkata, ‘Allah membimbing para pejuang.’ dan dikatakan, Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, wahai orang yang berperang, dan sungguh ia telah mendapat petunjuk.”
Jarak Mu’tah
Mu’tah adalah wilayah yang berada di kawasan Syam. Jika dilihat pada peta saat ini, Mu’tah berada sekitar dua jam perjalanan ke arah utara dari Amman, ibu kota Yordania.
Jarak dari Madinah ke Mu’tah adalah perjalanan yang sangat jauh yang ditempuh oleh pasukan kaum muslim di zaman tersebut, diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Secara geografis, jaraknya sekitar 1.050–1.100 kilometer.
Perang Mu’tah (8 Hijriyah) merupakan bagian dari rangkaian proses pembersihan seluruh entitas orang-orang musyrik, yang berpuncak pada Fathu Makkah.
Sebab Terjadinya Perang Mu’tah
Rasulullah ﷺ mengutus Al-Haris bin Umair Al-Azdi kepada Amir Bashrah dari pihak Romawi, Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, untuk menyampaikan risalah Islam dan mengajaknya masuk Islam.
Namun, utusan tersebut justru ditahan dan dipenggal lehernya oleh Syurahbil. Tindakan ini dianggap sebagai penghinaan besar terhadap Islam dan Daulah Islam. Rasulullah ﷺ pun tidak mendiamkannya. Beliau segera menyiapkan pasukan untuk menghadapi Amir Bashrah tersebut.
Rasulullah ﷺ tidak menyangka utusannya akan dibunuh oleh Syurahbil. Pasalnya, Syurahbil merupakan orang Arab. Namun, ia justru membunuh utusan Rasulullah ﷺ demi menjilat atau mengambil hati penguasa Romawi. Syurahbil telah menjual dirinya kepada orang-orang Romawi.
Posisi Pasukan Kaum Muslim
Rasulullah ﷺ memperkirakan Romawi akan melindungi Syurahbil dan telah menghitung kekuatan Daulah Islam, terlebih setelah mendengar sepak terjang kaum muslim dalam memenangkan Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai ekspedisi lainnya, termasuk pembersihan entitas-entitas Yahudi.
Karena itu, Rasulullah ﷺ mengerahkan seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki Daulah Islam untuk menghadapi Romawi sehingga menyiapkan 3.000 pasukan. Jumlah tersebut merupakan pasukan terbesar yang dikirim beliau saat itu. Rasulullah juga mempertimbangkan risiko peperangan, bukan hanya kemenangan, tetapi juga kemungkinan kekalahan dan kerugian.
Untuk mengantisipasi hal itu, Rasulullah ﷺ menetapkan tiga panglima secara berurutan, yaitu Zaid bin Haritsah sebagai panglima pertama, jika gugur digantikan Ja’far bin Abi Thalib, dan jika Ja’far gugur, kepemimpinan dilanjutkan Abdullah bin Rawahah.
Menjaga Kewibawaan Daulah
Dalam aspek politik, modal utama sebuah negara adalah reputasi, kredibilitas, kemampuan, dan kewibawaan. Namun, kewibawaan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya jumlah pasukan, tapi juga strategi yang dimiliki. Karena itu, meskipun pasukannya tidak terlalu besar, reputasi politik Daulah Madinah dapat ditopang oleh kekuatan pasukan dan strategi yang dimilikinya.
Meski jumlah pasukan kaum muslim tidak sebanding dengan pasukan Romawi, Rasulullah ﷺ mengirim pasukan kaum muslim sebagai upaya menjaga kewibawaan Daulah Islam. Tindakan cepat tersebut menunjukkan terdapat perkara-perkara prinsip yang tidak semestinya menunggu pihak lain terlebih dahulu untuk bertindak. Maka, kaum muslim yang tergabung dalam pasukan itu bersiap-siap dalam barisan, lalu menyiapkan diri untuk keluar dari Kota Madinah.
Ketakwaan Abdullah bin Rawahah
Abdullah bin Rawahah dikenal sebagai salah seorang sahabat senior Rasulullah ﷺ yang memiliki ketakwaan tinggi. Ketakwaan tersebut melahirkan keberanian menghadapi medan perang demi meraih maghfirah dan kemuliaan di sisi Allah Taala. Ia berani meninggalkan kecintaan kepada dunia karena perjuangan di medan perang membutuhkan keberanian yang lahir dari ketakwaan.
Berani bukan sekadar maju ke medan perang atau siap menghadapi kematian, tetapi kesiapan memberikan kontribusi terbaik. Ia pun maju ke medan Perang Mu’tah dengan semangat memberikan kontribusi terbaik.
Jumlah Pasukan
Pasukan kaum muslim tiba di Mu’an, wilayah Syam, lalu mendapat informasi bahwa Hiraklius membawa sekitar 100.000 pasukan ke Ma’ab, Balqa. Pasukan dari kabilah Lahm, Judzam, Qain, Bahra, dan Bali kemudian bergabung hingga mencapai sekitar 200.000 pasukan.
Jumlah tersebut memiliki perbedaan dalam riwayat sirah. Ada yang menyebut 100.000, 150.000, 50.000, atau 20.000 pasukan. Sementara kaum muslim berjumlah 3.000 pasukan. Menghadapi kondisi tersebut, mereka sempat tinggal dua malam di Mu’an untuk mempertimbangkan apakah meminta tambahan pasukan atau menunggu keputusan Rasulullah ﷺ.
Motivasi bagi Pasukan
Dalam kondisi tersebut, Abdullah bin Rawahah memotivasi kaum muslim,
“Wahai kaum muslim, demi Allah, sesuatu yang kalian takuti itu bukankah syahid yang selama ini kalian minta? Bahkan kaum muslim punya doanya sendiri untuk minta syahid. Bukankah kalian minta kepada Allah untuk syahid? Lalu, apa yang kalian takuti?”
Menurutnya, kaum muslim berperang bukan karena jumlah dan kekuatan pasukan, melainkan karena membawa agama yang memuliakan mereka. Karena itu, ia mengajak kaum muslim untuk maju, karena hanya ada dua kemungkinan yang sama-sama baik, menang atau syahid.
Seruan Abdullah bin Rawahah tersebut membangkitkan kembali keberanian kaum muslim hingga mereka berkata, ”Demi Allah, benar apa yang disampaikan Abdullah bin Rawahah.” Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Perang Mu’tah. [MNews/SA-CJ]
