Muslimah News, FOKUS — Indonesia tengah bersiap menghadapi bonus demografi sebagai pijakan menuju Indonesia Emas 2045. Generasi Z dan generasi setelahnya digadang-gadang menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan kenyataan yang mengkhawatirkan. Alih-alih tumbuh sebagai generasi emas, banyak anak muda justru dibayangi kecemasan, depresi, dan ketidakpastian masa depan.
Berbagai survei menunjukkan bahwa generasi Z merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Survei Jakpat pada akhir 2025 mencatat sekitar 60% kalangan gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Kekhawatiran itu dipicu oleh ketidakpastian karier, tekanan finansial, ekspektasi sosial, hingga perasaan tidak berdaya menghadapi berbagai situasi di luar kendali. Dampaknya terlihat dari tingginya angka perubahan suasana hati, gangguan tidur, kecemasan berlebih, serta kesulitan mengelola emosi.
Fenomena ini bahkan telah tampak sejak usia anak. Hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025–2026 menunjukkan hampir 10% atau sekitar 700ribu anak Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi. Sementara itu, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mencatat satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Fakta-fakta ini menjadi alarm bahwa krisis yang dihadapi generasi muda bukanlah persoalan individu semata, melainkan fenomena yang meluas.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Krisis ekonomi global, mahalnya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, serta perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat membuat banyak anak muda memandang masa depan dengan lebih skeptis dibandingkan generasi sebelumnya.
Menariknya, di tengah tekanan tersebut lahir gelombang resistensi. Sebagian kalangan generasi Z mulai mempertanyakan budaya kerja yang menguras tenaga, menolak standar kesuksesan yang semata-mata diukur dengan materi, serta mencari pola hidup yang dianggap lebih bermakna.
Gelombang resistensi ini menunjukkan tumbuhnya kesadaran bahwa standar kesuksesan yang dibangun sistem saat ini tidak lagi mampu menjawab kebutuhan hidup mereka. Namun, apakah kesadaran tersebut cukup untuk mengubah generasi cemas menjadi generasi emas? Ataukah dibutuhkan solusi yang lebih mendasar yang mampu menyentuh akar persoalan?
Krisis Peradaban Melahirkan Generasi Cemas
Meningkatnya kecemasan dan gangguan kesehatan mental pada kalangan generasi Z bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Berbagai persoalan tersebut merupakan bagian dari krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Krisis ekonomi, ketidakpastian politik, kerusakan lingkungan, disrupsi teknologi, hingga perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat menciptakan ketidakpastian hidup yang terus membayangi generasi muda. Di tengah kondisi seperti ini, wajar jika banyak anak muda memandang masa depan dengan penuh kegelisahan.
Namun, akar persoalan sesungguhnya tidak berhenti pada berbagai krisis tersebut. Semua itu lahir dari sistem kehidupan sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan materi sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Sejak dini, generasi muda didorong untuk mengejar prestasi akademik, karier, kekayaan, popularitas, dan validasi sosial sebagai ukuran kebahagiaan. Media sosial semakin memperkuat budaya tersebut dengan menghadirkan standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Akibatnya, identitas dan harga diri mereka dibangun di atas pencapaian duniawi. Ketika gagal memenuhi standar itu, mereka mudah kehilangan arah, harapan, bahkan makna hidup.
Di sisi lain, negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalistik tidak mampu menjalankan fungsi riayah (pengurusan) terhadap rakyat, tidak terkecuali generasi muda. Alih-alih menjamin terpenuhinya pendidikan yang berkualitas, lapangan pekerjaan yang layak, dan kebutuhan hidup yang terjangkau, generasi muda justru dihadapkan pada mahalnya biaya pendidikan, sempitnya kesempatan kerja, tingginya biaya hidup, serta minimnya perlindungan sosial. Berbagai program penanganan kesehatan mental memang penting, tetapi lebih banyak berfokus pada mengurangi dampak, bukan menghilangkan penyebab yang melahirkan kecemasan secara terus-menerus.
Ironi, dalam situasi seperti itu kalangan generasi Z justru kerap menjadi sasaran stigma. Mereka dianggap lemah, manja, mudah menyerah, atau terlalu sensitif dibandingkan generasi sebelumnya. Padahal, mereka tumbuh dalam kondisi yang jauh lebih kompleks dan penuh ketidakpastian. Alih-alih dirangkul dan dipersiapkan menjadi generasi yang tangguh, mereka justru sering dibebani penilaian negatif tanpa diikuti upaya serius memperbaiki sistem yang menjadi sumber persoalan.
Meski demikian, di balik kecemasan yang meluas tersimpan secercah harapan. Di berbagai negara, makin banyak kalangan generasi Z menunjukkan resistensi terhadap budaya hidup yang dibentuk sistem kapitalisme. Mereka mulai mempertanyakan budaya kompetisi tanpa henti, standar kesuksesan yang materialistis, hingga pola hidup yang dinilai tidak lagi manusiawi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menyadari ada sesuatu yang keliru dalam sistem yang mereka hadapi.
Fenomena tersebut menunjukkan tumbuhnya kesadaran kritis di kalangan generasi Z terhadap nilai-nilai yang selama ini membentuk kehidupan mereka. Namun, kesadaran dan resistensi saja tidak cukup. Selama sistem sekuler kapitalistik yang melahirkan berbagai krisis tetap dipertahankan, kecemasan hanya akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar ruang untuk bertahan, melainkan solusi yang mampu menyentuh akar persoalan secara mendasar.
Islam Mewujudkan Generasi Emas
Berbeda dengan sistem sekuler kapitalistik yang melahirkan berbagai krisis, Islam hadir sebagai mabda’ yang memberikan solusi menyeluruh bagi kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga mengatur hubungan antarmanusia serta seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga pemerintahan. Kesempurnaan ajaran Islam ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl [16]: 89).
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang menjelaskan seluruh perkara yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupan. Islam tidak hanya menawarkan ketenangan batin bagi individu, tetapi juga menghadirkan aturan hidup yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dari akarnya. Ketika syariat Islam diterapkan secara kafah, kehidupan akan dipenuhi petunjuk, rahmat, dan keberkahan sehingga manusia memperoleh ketenteraman dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam Islam, pembinaan generasi dimulai dari penanaman akidah yang benar. Sejak usia dini, anak dididik agar memahami tujuan penciptaannya, menyadari bahwa hidup adalah amanah dari Allah Swt., serta meyakini bahwa setiap peristiwa terjadi sesuai qada dan kadar-Nya. Dari akidah inilah terbentuk kepribadian Islam (asy-syakhshiyyah al-islamiyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang senantiasa dibangun di atas syariat.
Kepribadian seperti ini melahirkan ketangguhan mental. Seorang muslim tidak menggantungkan harga dirinya pada prestasi, kekayaan, popularitas, ataupun penilaian manusia. Ia memandang keberhasilan sebagai ketaatan kepada Allah Swt., sedangkan kegagalan menjadi bagian dari ujian yang harus dihadapi dengan sabar, ikhtiar, dan tawakal. Oleh sebab itu, sistem pendidikan Islam tidak hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang memiliki ketenangan jiwa, optimisme, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dengan fondasi seperti ini, kecemasan terhadap masa depan tidak berkembang menjadi krisis yang meluas sebagaimana terjadi dalam sistem sekuler kapitalistik.
Sejarah Islam menjadi saksi bahwa akidah melahirkan pemuda-pemuda luar biasa. Salah satunya adalah Sultan Muhammad al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Menghadapi benteng kota yang sangat kokoh dan berbagai kegagalan dalam menembus pertahanan musuh, ia tidak larut dalam keputusasaan. Berbekal keyakinan terhadap bisyarah Rasulullah saw. serta kecerdasan dalam menyusun strategi, ia terus mencari jalan hingga memerintahkan pemindahan kapal-kapal perang melewati daratan untuk memasuki Teluk Golden Horn. Strategi yang tidak pernah dibayangkan musuh itu menjadi titik balik kemenangan kaum muslim. Ketangguhan seperti ini lahir dari keimanan yang menjadikan setiap ujian sebagai tantangan untuk terus berikhtiar dan bertawakal kepada Allah Swt., bukan sebagai alasan untuk menyerah.
Karakter unggul seperti itu tidak lahir secara kebetulan. Di baliknya terdapat sistem pendidikan Islam yang membentuk kepribadian, sekaligus negara yang menjalankan fungsi riayah (pengurusan) terhadap rakyat. Dalam pandangan Islam, pembinaan pemuda memiliki posisi yang sangat strategis. Pemuda merupakan kekuatan utama umat sekaligus calon pemimpin peradaban. Pembentukan kepribadian mereka tidak diserahkan semata kepada keluarga atau lembaga pendidikan, tetapi menjadi tanggung jawab negara sebagai penyelenggara urusan rakyat. Negara wajib memastikan setiap pemuda memperoleh pendidikan Islam yang benar, lingkungan yang kondusif, serta berbagai sarana yang mendukung tumbuhnya keimanan, ilmu, dan amal saleh.
Rasulullah saw. bersabda,
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa negara dalam Islam bukan sekadar regulator, melainkan pelayan dan pelindung umat. Negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan dasar rakyat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, menjaga keamanan, serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya keimanan dan ilmu. Dengan demikian, generasi muda tidak dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tekanan hidup, tetapi memperoleh jaminan dan dukungan agar mampu mengembangkan seluruh potensinya secara optimal.
Dengan demikian, di tengah berbagai krisis yang dihadapi dunia saat ini, pemuda Islam tidak boleh larut dalam pesimisme ataupun berhenti pada sikap resisten terhadap dampak kerusakan sistem. Energi, idealisme, dan semangat perubahan yang mereka miliki harus diarahkan untuk mengemban mabda’ Islam serta peduli terhadap kondisi umat dengan memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kafah. Dengan jalan itulah akan lahir kembali generasi yang tidak hanya tangguh menghadapi tantangan zaman, tetapi juga mampu memimpin perubahan dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Generasi emas tidak akan lahir dari sistem yang melahirkan kecemasan, melainkan dari peradaban Islam yang membentuk manusia bertakwa, negara yang me-riayah umat, dan masyarakat yang menjadikan rida Allah Swt. sebagai tujuan hidup. Dengan demikian, harapan mengubah generasi cemas menjadi generasi emas bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan cita-cita yang dapat diwujudkan melalui tegaknya aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahualam bissawab. [MNews/SK-NA]
