Umamah binti Abu al-‘Ash, Tumbuh di Bawah Cahaya Wahyu

Umamah binti Abu al-‘Ash, Tumbuh di Bawah Cahaya Wahyu

Kehidupan sahabat perempuan ini memang kurang terekam sejarah. Padahal, ia merupakan cucu perempuan pertama Rasulullah saw.  Perempuan itu adalah Umamah binti Abu al-‘Ash Ibn Ar Rab’i. Seperti apa sosoknya?


Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Kehidupan sahabat perempuan ini memang kurang terekam sejarah. Padahal, ia adalah cucu perempuan pertama Rasulullah saw. Sosok itu adalah Umamah binti Abu al-‘Ash Ibn Ar Rab’i. Nama lengkapnya adalah Umamah binti Abu al-Ash bin ar-Rabi’ bin Abdu al-Uzza bin Abdu asy-Syams bin Abdu Manaf bin Qushay.

Ibunya adalah putri tertua Nabi saw., Zainab binti Muhammad. Sedangkan ayahnya, Abu al-Ash, adalah seorang laki-laki Makkah yang dikenal memiliki akhlak mulia. Ia juga digelari al-Amin (yang jujur dan terpercaya) oleh penduduk Makkah. Seorang pedagang yang jujur yang senantiasa menunaikan hak-hak orang lain. Beliau sangat menaruh hormat dan cinta kepada mertuanya, Rasulullah. Terbukti dengan seringnya ia berkunjung ke rumah ayah mertuanya itu karena menaruh hormat pada beliau.

Kehidupan bersama Rasulullah

Umamah banyak mewarisi sifat istimewa dari sang ibu. Ia dikenal cerdas, lembut, dan keibuan. Kematangan pribadi itu tidak terlepas dari asuhan langsung sang kakek, Muhammad. Semasa kecil, tidak segan Rasulullah menggendong dan membawa cucu kesayangannya ini.

Pemandangan itu pun sering disaksikan langsung oleh para sahabat. Rasul pernah tertangkap mata tengah menggendong Umamah keluar rumah. Cucu perempuannya itu digendong dan diasuh sendiri sembari bercengkerama dengan para sahabat. Demikian juga kala salat. Tubuh mungil Umamah, tidak terlepas begitu saja dari dekapan sang kakek.

Riwayat Muslim dari Abu Qatadah al-Anshari menguatkan itu. Qatadah berkata, ‘’Saya melihat Nabi saw. menjadi imam salat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Abu al-‘Ash, di atas pundaknya. Apabila ruku, Rasul meletakkan anak itu, dan apabila berdiri dari sujud mengembalikannya (maksudnya menggendongnya kembali).’’

Sikap Rasulullah itu membuat heran masyarakat Arab. Tradisi yang berlaku di mereka, mengasuh dan menyentuh anak perempuan adalah tabu. Menurut Al Fakhani, tampaknya Rasulullah ingin menunjukkan bahwa anak perempuan juga memiliki hak dan martabat yang sama dengan anak laki-laki. Para putri itu juga berhak atas kasih sayang orang tua, kakek-nenek, dan lingkungannya.

Kasih sayang Rasulullah kepada Umamah menarik perhatian keluarga Nabi. Tidak terkecuali para istri. Alkisah, Rasulullah mendapatkan hadiah seuntai kalung. Menurut dia, pemberian itu akan diserahkan pada sosok yang paling dicintai, tanpa menyebut nama. Misteri ini membuat segenap keluarga bertanya-tanya. Siapa gerangan? Nama Aisyah digadang-gadang menjadi orang yang menerima kalung tersebut.

Ternyata, sosok yang dimaksud ialah Umamah. Kalung itu akhirnya dikenakan di leher sang cucu. ‘’Berhiaslah dengan ini, wahai putriku,’’ kata Rasulullah sambil membersihkan hidung Umamah yang kotor. Pilihan ini di luar dugaan para istri Nabi.

Meskipun tidak sampai dewasa bersama kakeknya, Umamah sangat beruntung mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perangai serta keseharian kakeknya yang menjadi panutan umat di dunia.

Yatim Piatu

Dari pernikahan Zainab binti Muhammad dengan Abu al-‘Ash Ibn Ar Rab’i lahir dua anak. Selain Umamah, ada saudaranya bernama Ali. Sayang, saudaranya meninggal sewaktu kecil. Pada tahun ke-8 Hijriah, ibundanya meninggal. Ia diasuh oleh ayahnya. Tidak lama kemudian ia pun menjadi yatim piatu. Zubair bin Awwam mengasuh Umamah sepeninggal kedua orang tuanya

Kala dewasa, Ali bin Abi Thalib meminangnya. Peristwa itu berlangsung saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Zubair menikahkan pasangan tersebut. Sebagian riwayat menyebut keputusan Ali ini menyusul wasiat Fatimah Az Zahra sebelum wafat.

Fatimah mengenal dekat Umamah. Ia mengetahui sifat keponakannya ini. Umamah sangat lembut, keibuan, dan sayang kepada anak-anak. Dalam keseharian pun Umamah sering terlibat mengasuh sepupunya Hasan dan Husein. Oleh karena itu, Fatimah merasa tenang jika Umamah yang mendampingi anak-anaknya ketika ditinggal kelak.

Pernikahan Umamah dengan Ali bin Abi Thalib tidak dikaruniai anak. Kondisi ini membuat Umamah sepenuhnya mengasuh Hasan dan Husein. Ia juga sangat telaten merawat dan mendampingi suaminya hingga wafat akibat dibunuh pada 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah. Pembunuhan itu dilakukan oleh Abdurrahman bin Muljam. Umamah tetap sabar dan tabah.

Sebelum Ali wafat, ia berpesan kepada istrinya agar menikah dengan Mughirah bin Naufal al-Harits, sahabat Ali. Pesan ini telah sampai di tangan Mughirah. Selesai masa idah, malah Muawiyah bin Abi Sufyan yang lebih dulu meminang Umamah. Muawiyah adalah Khalifah kala itu.

Cucu Rasulullah tidak ingin abai terhadap wasiat suami. Umamah mengutus seseorang menemui Mughirah untuk mengabarkan adanya pinangan dari Muawiyah bin Abi Sufyan. ‘’Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku,’’ jawab Al Mughirah untuk disampaikan kepada Umamah.

Maksud pesan itu bahwa Mughirah segera meminangnya. Pernikahan Umamah dengan Mughirah dikaruniai seorang putra, yaitu Yahya bin Mughirah. Sayangnya, Umamah tidak bisa lama mendampingi anaknya tersebut. Umamah wafat pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. [MNews/Chus-Has]

Sumber: Republika.co.id

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *