Sahlah binti Suhail, Keteguhan Hati Seorang Anak

Sahlah binti Suhail, Keteguhan Hati Seorang Anak

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Seorang anak yang menunjukkan keteguhan hati rupanya berbuah manis. Pilihan untuk percaya dan mengikuti sepenuhnya ajaran yang dibawa Rasulullah saw. ketimbang keluarga, akhirnya terbayar dengan masuknya orang tua ke dalam Islam.

Inilah yang terjadi dengan kisah hidup Sahlah binti Suhail bin Amr. Sahlah merupakan salah satu perempuan yang masuk dalam kelompok pertama yang memeluk Islam, bahkan sebelum Rasulullah saw. berdakwah di rumah Arqam bin Abi Arqam.

Latar Belakang Keluarga

Sahlah sebenarnya berasal dari keluarga terpandang di jajaran kaum Quraisy Makkah. Ayahnya, Suhail bin Amr, adalah pemimpin Bani Amir, yang dikenal juga dengan nama Abu Yazid. Suhail memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan kaum Quraisy. Kedudukannya disamakan dengan pembesar kaum Quraisy lainnya, seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, dan Abu Sufyan.

Tidak hanya itu, Suhail bin Amr juga dikenal sebagai orator, negosiator, dan memiliki kemampuan diplomasi yang bagus. Sahlah memiliki dua saudara laki-laki, Abdullah dan Abu Jandal. Namun, tidak seperti anak-anaknya, Suhail justru memerangi dan membantah semua risalah dan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw., termasuk saat Rasulullah saw. berdakwah di Makkah.

Sahlah Ikut Hijrah

Demi menghindari serangan dan tekanan kaum kafir Quraisy, Abdullah dan Sahlah ikut hijrah ke Habasyah agar mendapatkan perlindungan. Dalam hijrah pertama kaum muslimin tersebut, Sahlah juga ditemani oleh sang suami, Abu Hudzaifah bin Utbah. Di kalangan sahabat, Abu Hudzaifah adalah satu dari sedikit sahabat yang mampu membaca dan menulis. Alhasil, Abu Hudzaifah disebut sebagai salah satu sekretaris Rasulullah saw.

Kendati telah berhijrah ke Habasyah, kaum Quraisy menebarkan berita bohong soal keislaman orang-orang di Makkah. Akhirnya, Sahlah dan keluarganya kembali ke Makkah. Namun, mereka justru ditangkap dan mendapatkan perlakuan semena-mena dari para petinggi kaum Quraisy. Sahlah dan keluarganya tetap mempertahankan keimanan dan tetap percaya kepada setiap ajaran Rasulullah saw.

Saat perintah hijrah ke Madinah turun, Sahlah dan keluarganya akhirnya ikut dalam peristiwa hijrah. Mereka termasuk bagian  kelompok muslimin yang mengalami dua kali hijrah. Ini dilakukan untuk menghindari tekanan dan serangan kaum kafir Quraisy. Namun, keinginan agar sang ayah bisa memeluk Islam tetap digenggam teguh oleh Sahlah.

Pada saat meletusnya Perang Badar, tepatnya 2 Hijriah, Suhail bin Amr menjadi tawanan kaum muslimin. Pada saat itu, kaum kafir Quraisy memang mengalami kekalahan telak. Ketika menjadi tawanan, Suhail melihat kaum muslimin begitu baik dalam memperlakukan tawanan perang. Akhirnya, setelah membayar tebusan, Suhail dibebaskan.

Keislaman Suhail

Pada saat Perjanjian Hudaibiyah, Suhail merupakan salah satu negosiator dari kaum kafir Quraisy. Meski perjanjian itu dianggap menguntungkan kaum kafir Quraisy, akhirnya mereka tetap melanggar perjanjian tersebut. Akhirnya, kaum muslimin melancarkan penaklukan kota Makkah. Di peristiwa inilah, Suhail mulai mengagumi sikap Rasulullah saw. dengan mengampuni dan membebaskan penduduk Makkah, yang dulunya begitu memusuhi Rasulullah saw. Hal inilah  yang mengubah pandangan Suhail. Setelah Fathul Makkah, Suhail akhirnya menyatakan keislamannya.

Keislaman Suhail ini pun disambut gembira oleh sang anak, Sahlah. Kesabaran dan keteguhan hati dari Sahlah akhirnya terjawab dengan berita gembira, yakni masuknya sang ayah ke dalam Islam. Sahlah pun mengisi hidupnya dengan ketenangan dan senantiasa menjalankan serta patuh terhadap perintah Rasulullah saw. Wallahualam. [MNews/Chs]

Sumber: republika.co.id.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *