Muslimah News, INTERNASIONAL — Menyoroti konflik di Sudan, juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis internasional menilai, ini terjadi akibat negara terjebak di antara perebutan kekuasaan internal dan pengaruh eksternal yang telah berlangsung lama. “Konflik yang sedang berlangsung di Sudan adalah salah satu krisis paling menyakitkan dan sering diabaikan di dunia saat ini,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Senin (27-4-2026).
Ia menuturkan, sejak pertempuran pecah pada 2023 antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat, jutaan orang telah mengungsi, kota-kota seperti Khartoum mengalami kerusakan parah dan kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan perawatan medis menjadi langka. “Keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka, sering kali tanpa membawa apa pun, sementara kekerasan terus menyebar,” jelasnya.
Ia menyesalkan, sesuatu yang dimulai sebagai perjuangan politik, kini telah menjadi salah satu bencana kemanusiaan terburuk yang menimpa rakyat biasa, yang hanya memiliki sedikit kendali atas kondisi di sekitar mereka.
Menurut jubir, untuk memahami krisis ini, harus melihat sejarah yang lebih dalam di baliknya. “Sudan, seperti banyak negara di Afrika dan dunia muslim, telah dibentuk oleh pengaruh eksternal selama beberapa dekade. Kekuatan kolonial pernah mengendalikan tanah dan sumber dayanya. Bahkan setelah kemerdekaan, kepentingan asing terus memainkan peran dalam membentuk arah politik dan ekonominya,” urainya.
Para pemain kunci—Amerika Serikat, Inggris, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—, lanjutnya, telah memainkan peran utama atas apa yang terjadi di sana. “Tekanan eksternal ini sering kali mendukung para pemimpin tertentu, memicu perpecahan, dan melemahkan kemampuan negara untuk membangun institusi yang stabil dan independen,” ujarnya miris.
Rentan
Akibatnya, ulas jubir, Sudan tetap rentan terhadap konflik internal dan perebutan kekuasaan di mana semua pihak memperpanjang perang untuk mengendalikan wilayah tersebut.
Selain itu, jubir menerangkan, yang membuat situasi ini makin rumit adalah pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut tidak mewakili perubahan nyata bagi rakyat. “Kepemimpinan di Sudan ditandai oleh pergeseran aliansi dan perebutan kekuasaan, bukan prinsip-prinsip yang jelas. Tokoh-tokoh yang dulunya bersatu kini saling berlawanan ketika hal itu sesuai dengan kepentingan mereka,” paparnya.
Pergantian posisi yang terus-menerus ini, sambungnya, menunjukkan bahwa perjuangan tersebut bukan tentang keadilan atau kesejahteraan penduduk, melainkan lebih tentang kontrol dan otoritas. “Bagi banyak warga sipil Sudan, rasanya tidak ada perbedaan berarti antara kedua pihak, hanya kelanjutan dari ketidakstabilan dan penderitaan,” ucapnya.
Pada akhirnya, ia menyimpulkan, krisis di Sudan mencerminkan masalah yang jauh lebih besar. “Kemajuan nyata tidak dapat datang dari pengulangan pola yang sama dengan pemimpin yang berbeda. Hal itu membutuhkan perubahan total menuju akuntabilitas, kemandirian, dan kepemimpinan yang benar-benar melayani rakyat, bukan kepentingan pihak luar,” tegasnya.
Dalam pandangannya, tanpa adanya upaya untuk mengatasi masalah-masalah yang lebih dalam terebut, siklus konflik kemungkinan akan berlanjut, meninggalkan generasi mendatang untuk menghadapi kesulitan yang sama. “Perubahan nyata dan satu-satunya yang mereka butuhkan adalah untuk sekali dan selamanya menolak campur tangan dan memblokir semua bantuan asing, serta mengambil kendali atas urusan dan nasib kita sendiri,” cetusnya.
Membebaskan Diri
Untuk itu, ia menekankan, hanya sistem Khilafah Islam yang dapat dan akan memungkinkan Sudan untuk akhirnya membebaskan diri dari belenggu para penindas yang menggunakannya sebagai papan catur, bahkan mempermainkan dan memanipulasinya, serta menyebabkan kejahatan paling mengerikan terhadap rakyatnya. “Hanya melalui keadilan hukum dan undang-undang Allah Swt., kita sebagai umat akan mampu melawan musuh-musuh yang sudah terlalu lama lolos dari hukuman!” tandasnya.
Terakhir, ia menutup dengan janji kemenangan dari Allah Swt. Dalam QS An-Nur ayat 55, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” [MNews/RA]
