Muslimah News, INTERNASIONAL – Baru-baru ini, opini publik di Turki diguncang oleh berita pembunuhan dan serangan bersenjata di sekolah-sekolah. Pada hari Senin di Şanlıurfa, seorang pria berusia 20 tahun dibunuh secara brutal di jalan setelah diikuti oleh seseorang yang telah ia nasihati untuk berhenti mengutuk Allah. Insiden kedua terjadi pada Selasa (14-4-2026) di Sekolah Menengah Kejuruan dan Teknik Ahmet Koyuncu di Distrik Siverek, Şanlıurfa.
Seorang pria berusia 19 tahun, yang dilaporkan sebagai mantan siswa sekolah tersebut, menyerang sekolah dengan senapan mesin, melukai 17 orang, termasuk 10 siswa, 4 guru, seorang petugas polisi, dan seorang karyawan. Insiden terbaru terjadi di Sekolah Menengah Aysel Çalık di Kahramanmaraş. Seorang siswa berusia 14 tahun melakukan pembantaian di sekolahnya. Ia datang ke sekolah dengan 5 senjata berbeda yang dikatakan milik ayahnya, yang bekerja sebagai manajer keamanan. Ia menyebabkan kematian 10 orang, termasuk seorang guru dan 9 siswa. Sementara itu, dilaporkan bahwa 13 siswa masih menerima perawatan, 6 di antaranya di ruang perawatan intensif.
Sistem Kapitalisme
Menyikapi hal tersebut, aktivis muslim Turki menyampaikan, kejadian remaja usia 14 hingga 15 tahun dapat melakukan kejahatan, pembantaian keji semacam itu, bahkan terjadi secara khusus di sekolah mereka, menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. “Jika kita hanya fokus pada identitas para pelaku dan mengabaikan pelaku sebenarnya, tidak akan ada perubahan. Pelaku sebenarnya adalah sistem sekuler kapitalisme yang memicu kekerasan sosial ini, menormalisasi senjata, kejahatan terorganisir, dan mafia, serta menampilkan segala macam kebejatan kepada masyarakat melalui medianya,” ucapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Kamis (16-4-2026).
Pelaku sebenarnya, ungkapnya, adalah sistem hukum korup yang membebaskan penguasa menindas yang lemah, yakni orang kaya, berkuasa, dan terkenal itu tidak dihukum, sementara orang miskin dan rentan, justru dihukum. “Stabilitas masyarakat tidak dapat dibangun di bawah sistem hukum ini, karena fondasinya sistem sekuler. Kongkalikong antara geng mafia, partai politik, politisi, dan hakim seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di sistem sekuler,” urainya.
Padahal, jelasnya, rakyat berjuang untuk bertahan hidup dengan upah minimum. “Semua ini adalah bukti nyata dari kesengsaraan yang diciptakan sistem sekuler ini. Oleh karena itu, pelaku sesungguhnya adalah para penjaga sistem sekuler kapitalisme ini,” paparnya.
Ia menegaskan, saat ini, umat Islam sedang menghadapi generasi yang kehilangan visi dan tanggung jawab; menderita krisis identitas dan kepribadian; serta berusaha membungkam akal dan hatinya dengan alkohol dan narkoba. “Ini adalah generasi yang menarik diri dari masyarakat; terpenjara di dunia maya; dan bermimpi mendapatkan kekayaan cepat melalui permainan, hiburan, dan perjudian,” terangnya.
Walhasil, tuturnya, mereka menghujat Allah Swt. dan menghujani teman-teman sebayanya di sekolah dengan peluru. Sayangnya, ia menyebut, generasi ini telah menjadi seperti “generasi Amerika”, yang budayanya ditiru. “Lembaga keluarga telah hancur, kekerasan dalam rumah tangga meningkat, angka perceraian menyaingi angka pernikahan, peran ayah-ibu pudar, hubungan anak dengan orang tua telah terputus, pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan, dan pemerkosaan telah meluas,” jelasnya.
Hukum liberal apa pun, lanjutnya, yang diberlakukan di bawah sistem sekuler tidak akan menyelesaikan masalah-masalah ini. “Oleh karena itu, sistem sekuler kapitalisme merupakan sumber masalah masyarakat dan harus diberantas,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menyatakan, hanya Islam yang akan menyelamatkan kita dari situasi ini. “Kemajuan, kesejahteraan, dan stabilitas masyarakat hanya dapat dicapai melalui dominasi Islam dalam kehidupan sehari-hari dan penegakan otoritas Islam. Oleh karena itu, para ulama, akademisi, politisi, pendidik, ahli hukum, dan semua muslim harus berbicara, menulis, dan bekerja untuk mendakwahkan Islam kafah hingga Islam diterapkan dalam bingkai Khilafah,” pungkasnya. [MNews/IK]
