Muslimah News, FOKUS — Fenomena doom spending, yakni kecenderungan berbelanja impulsif secara berlebihan sebagai pelarian dari tekanan psikologis seperti stres dan kecemasan, kian marak di kalangan Gen Z. Konsumsi kini tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan menjadi cara baru meredakan beban hidup.
Banyak anak muda menjadikan self-reward sebagai hiburan setelah kerja keras. Akan tetapi, kebiasaan ini tanpa disadari dapat memicu masalah finansial dan mental. Ketika belanja dilakukan tanpa rencana, dampaknya tabungan terkikis, rasa bersalah muncul, dan stres kembali menghantui. Pola ini menciptakan lingkaran setan, yaitu stres memicu belanja, pendapatan habis, lalu stres datang lagi karena hasil kerja keras terbuang untuk kepuasan sesaat.
Antara Realitas dan Realistis
Bagi generasi muda, bersikap realistis dianggap lebih tepat daripada mengejar mimpi yang sulit dicapai, seperti membeli rumah dengan harga melambung. Ketidakstabilan finansial dipicu sulitnya memperoleh pekerjaan hingga penghasilan yang tidak mencukupi.
Menurut Indonesia Gen Z Report yang dirilis oleh IDN Research Institute, rata-rata pendapatan bulanan Gen Z di Indonesia berada di bawah Rp2,5 juta. Pendapatan tersebut umumnya dialokasikan untuk kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Namun, dalam hal kebutuhan papan, khususnya kepemilikan rumah, Gen Z menghadapi tantangan besar.
Selain itu, harga kebutuhan pokok naik dan lapangan kerja terbatas menambah tekanan. Data BPS (Mei 2025) menunjukkan tingkat pengangguran Gen Z mencapai 16%. Selain itu, data Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) per Februari 2025 mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 7,28 juta orang. Angka tersebut setara dengan 4,76% dari total angkatan kerja.
Angka ini menegaskan betapa seriusnya krisis ekonomi yang dihadapi generasi muda. Kondisi tersebut tidak sekadar persoalan statistik, melainkan cerminan dari sistem yang gagal menjamin kesejahteraan. Fakta ini menjadi bukti tidak terbantahkan bahwa sistem kapitalisme telah menciptakan kesenjangan ekonomi, sehingga melahirkan masalah ekonomi yang berpengaruh pada kesehatan mental dan keuangan generasi muda.
Solusi Palsu Hedonisme dalam Kapitalisme
Kapitalisme menawarkan pelarian melalui konsumsi impulsif. Konsumsi diposisikan sebagai sarana hiburan sekaligus dianggap sebagai “obat” untuk mengurangi stres dan kecemasan. Namun, solusi semu ini tidak menyentuh akar persoalan, melainkan justru memperdalam kesulitan finansial dan psikologis individu.
Dalam kerangka kapitalisme, kebahagiaan dikonstruksi sebagai sesuatu yang dapat dibeli. Iklan, media sosial, dan budaya populer mendorong masyarakat, khususnya generasi muda untuk mengaitkan identitas diri dengan kepemilikan barang. Akibatnya, konsumsi bergeser dari sekadar pemenuhan kebutuhan menjadi simbol status sosial dan sarana memperoleh validasi. Hedonisme konsumtif pun berkembang sebagai jebakan psikologis, yaitu makin banyak individu membeli, makin besar pula rasa puas yang tercapai, meskipun sifatnya semu dan sementara.
Kapitalisme memperlakukan manusia sebagai subjek sekaligus objek. Sebagai subjek, manusia berperan sebagai pelaku ekonomi yang menjual tenaga, pikiran, dan kreativitas serta mengambil keputusan di pasar. Sebagai objek, manusia direduksi menjadi komoditas bernilai upah dan dijadikan target iklan untuk mempromosikan gaya hidup konsumtif berbasis food, fashion, dan fun.
Konsekuensinya, banyak generasi muda terjebak dalam lingkaran hedonisme konsumtif yang dijajakan oleh ideologi kapitalisme. Makin boros konsumsi, makin besar keuntungan pemilik modal. Pada akhirnya, perputaran uang hanya terkonsentrasi di kalangan kapitalis, sementara masyarakat luas justru menjadi korban dari sistem yang menormalisasi gaya hidup konsumtif sebagai bagian dari ideologi kapitalisme. Inilah sebabnya, negara semestinya mengambil peran sentral dalam menjamin kesejahteraan rakyat, bukan sekadar regulator dan fasilitator bagi rakyat
Peran Negara
Islam menawarkan solusi mendasar melalui politik ekonomi Islam, yakni kebijakan yang menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu serta membuka peluang untuk memenuhi kebutuhan tambahan sesuai kapasitas masing-masing. Orientasi utama Islam adalah pemenuhan kebutuhan individu, bukan semata kebutuhan kolektif, sehingga distribusi menjadi aspek kunci agar setiap orang memperoleh jaminan hidup yang layak.
Politik ekonomi Islam tidak hanya bertujuan meningkatkan taraf kehidupan negara, tetapi juga memastikan setiap individu dapat menikmatinya. Ia tidak sekadar mengupayakan kemakmuran dengan membiarkan manusia bebas mencapainya tanpa memperhatikan hak hidup orang lain. Sebaliknya, politik ekonomi Islam hadir sebagai solusi fundamental, yaitu menjamin kebutuhan dasar setiap individu, memberi peluang meningkatkan taraf hidup, dan mengarahkan kemakmuran sesuai nilai Islam. Dengan demikian, politik ekonomi Islam memiliki karakter berbeda dari sistem ekonomi lainnya. (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Iqtishadiy fi al-Islam, hlm.113).
Dalam perspektif Islam, negara memikul tanggung jawab utama untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga, meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) yang berkewajiban mengupayakan kesejahteraan rakyat. Dalam sistem Islam kafah, tidak akan terjadi fenomena doom spending sebagaimana dalam kapitalisme. Ini karena sistem Islam melakukan pencegahan dan pengurusan rakyat dengan mekanisme berikut.
Pertama, perubahan paradigma bekerja mencari nafkah. Dalam Islam, mencari nafkah adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh penanggung nafkah, yaitu kaum laki-laki. Aktivitas mencari nafkah termasuk amal saleh yang pahalanya besar serta dinilai sebagai sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen).” (HR Muslim No. 995).
Di sisi lain, mencari nafkah ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk anggota keluarga, bukan untuk berfoya-foya atau sekadar bersenang-senang membelanjakan harta untuk sesuatu yang sifatnya tidak urgen dan penting. Islam melarang keras hidup berfoya-foya. Gaya hidup mewah dan berlebih-lebihan sangatlah jauh dari ajaran Islam. Ini bisa menjerumuskan seseorang dalam sikap sombong dan lalai terhadap kewajiban agama. Allah Taala berfirman,
إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Isra’ [17]: 27).
Kedua, fenomena doom spending adalah akumulasi panjang akibat tekanan dan beban ekonomi berat. Dalam sistem Islam kafah, hal ini dapat dicegah dengan mengaktifkan peran negara menetapkan kebijakan yang dapat menjamin kesejahteraan rakyat, di antaranya:
1. Membuka lapangan kerja seluasnya bagi kaum laki-laki sebagai penanggung nafkah. Dalam Islam, perempuan bukan penanggung nafkah dan tidak ada kewajiban bagi mereka mencari nafkah atau menjadi tulang punggung keluarga.
2. Negara membangun industri strategis, semisal industri alat-alat berat, kilang minyak, pengelolaan tambang, alutsista, maupun sektor pertanian sehingga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Negara juga akan memberikan keterampilan tertentu agar setiap laki-laki dapat bekerja sesuai kemampuan mereka. Negara dapat memberikan insentif atau modal usaha bagi pencari nafkah.
3. Negara memenuhi layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis bagi seluruh individu rakyat.
4. Negara memudahkan akses dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan, semisal harga beli rumah terjangkau, bahan pokok murah, dan kebutuhan asasi lainnya mudah didapatkan.
Ketiga, sistem Islam kafah membentuk ketakwaan personal dan komunal yang terealisasi dari pembinaan peserta didik melalui kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam serta pembinaan kolektif masyarakat melalui edukasi negara melalui pembiasaan majelis ilmu dan amar makruf nahi mungkar. Dengan begitu, orientasi hidup manusia tidak hanya melihat aspek materi semata, tetapi ibadah dan wujud ketaatan kepada Allah Taala.
Dengan demikian, politik ekonomi Islam menempatkan negara sebagai pengurus utama rakyat. Negara tidak hanya memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, tetapi juga membentuk masyarakat yang bertakwa. Sistem Islam kafah hadir sebagai solusi menyeluruh, berbeda dari kapitalisme yang melahirkan fenomena doom spending. [MNews/CJ-NA]
