[Kabar] Aktivis: Penutupan Selat Hormuz Memiliki Dampak Global

[Kabar] Aktivis: Penutupan Selat Hormuz Memiliki Dampak Global

Muslimah News, INTERNASIONAL — Penutupan Selat Hormuz disorot aktivis dakwah Ustaz Hassan Hamdan. Kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (25-3-2026), ia memberikan ulasannya ketika Selat Hormuz ditutup dan dampaknya secara global.

Ia mengatakan bahwa Selat Hormuz merupakan tempat strategis karena menjadi satu-satunya jalur maritim yang menghubungkan negara-negara Teluk Arab ke samudra terbuka, dari sana ke seluruh dunia. “Kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan penting seperti Basra di Irak, terminal ekspor di Kuwait, pelabuhan Ras Tanura dan Jubail di Arab Saudi, dan fasilitas ekspor di UEA, Qatar, dan Iran harus melewati jalur air wajib ini, sebelum mencapai Teluk Oman dan kemudian Samudra Hindia,” ujarnya.

Berdasarkan standar maritim internasional, ungkapnya, selat ini tidak lebar, hanya sekitar 21 mil laut (sekitar 33 kilometer) pada titik tersempitnya antara pantai Iran dan Semenanjung Musandam Oman. “Namun, jalur pelayaran sebenarnya yang digunakan oleh kapal komersial jauh lebih sempit, faktor penting yang perlu dipertimbangkan ketika memperkirakan potensi ancaman atau penutupan selat tersebut,” ucapnya.

Akibatnya, ia menuturkan, kapal-kapal terbesar di dunia bergerak lambat di perairan terbatas wilayah teritorial Iran dan Oman. “Kapal tanker raksasa yang membawa jutaan barel minyak mungkin membutuhkan beberapa kilometer untuk mengubah haluan dan kemampuan mereka untuk bermanuver dengan cepat sangat terbatas,” jelasnya.

Jalur Vital

Kemudian, ungkapnya, pada 2024, diperkirakan sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah, kondensat, dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz, setara dengan sekitar seperlima dari konsumsi minyak global dan lebih dari seperempat perdagangan minyak melalui laut. “Selain minyak mentah, sejumlah besar produk minyak bumi olahan seperti diesel, bensin, bahan bakar minyak berat, juga gas alam cair (LNG) melewati Selat Hormuz. Kilang-kilang di Teluk mengekspor bahan bakar ini ke pasar di Asia, Afrika, dan Eropa, memperkuat peran selat tersebut sebagai jalur vital untuk distribusi energi global,” urainya.

Karena gas tersebut diangkut oleh kapal tanker khusus, lanjutnya, gangguan apa pun akan berdampak langsung pada rantai pasokan sehingga menjadikan Selat Hormuz sebagai gerbang energi maritim terpenting di dunia modern.

Bahkan, paparnya, menutup Selat Hormuz menimbulkan kompleksitas secara praktik. Pada Juni 2025, terangnya, Iran mengancam akan menutup selat tersebut, tetapi masalah ini bukan sekadar keputusan politik, melainkan diatur oleh pertimbangan-pertimbangan yang kompleks.

Ia mencontohkan adanya ketergantungan ekonomi Iran pada sektor energi, dengan pendapatan minyak mewakili sekitar 85% dari total pendapatannya dan sebagian besar terminal ekspornya terletak di Teluk. “Selat Hormuz merupakan jalur kehidupan bagi Iran sehingga keputusan penutupan selat tersebut sama dengan bunuh diri ekonomi. Namun, Iran mungkin memandang hal itu sebagai masalah eksistensial yang melampaui perhitungan finansial,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, secara teori, menutup selat itu mudah, tetapi akan menyebabkan guncangan pada pasar global dan peningkatan tajam dalam biaya pengiriman dan biaya hidup. “Bahkan, akan terjadi dilema moneter. Bank sentral di seluruh dunia akan menghadapi risiko stagflasi karena inflasi akan meningkat tajam, memaksa mereka untuk menaikkan suku bunga yang akan menghambat pertumbuhan dan menyebabkan resesi yang dalam,” ulasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, tujuan Iran melalui ancaman penutupan Selat Hormuz adalah untuk mengubah krisis internalnya menjadi krisis global guna menekan Amerika Serikat (AS). “Dampaknya meliputi, pertama, perubahan rute sehingga kapal-kapal akan dipaksa untuk mengelilingi seluruh Semenanjung Arab, meningkatkan konsumsi bahan bakar dan menempuh jarak ribuan mil laut, serta menunda pengiriman selama berminggu-minggu. Kedua, kelumpuhan industri akibat keterlambatan kedatangan bahan baku yang akan menyebabkan perlambatan global dalam manufaktur dan kekurangan barang. Ketiga, pengasingan pelabuhan karena pelabuhan-pelabuhan di Teluk akan sepenuhnya terputus dari perdagangan maritim, perusahaan asuransi akan meninggalkan wilayah tersebut, biaya operasional akan melonjak, dan jutaan pekerja akan diberhentikan,” paparnya.

Berdampak ke Banyak Pihak

Kondisi ini, dalam pandangan Ustaz Hassan, akan berdampak terhadap banyak pihak, termasuk AS. “Meskipun Trump mengatakan bahwa AS tidak lagi membutuhkan minyak Teluk, justru AS akan menjadi salah satu pihak yang paling dirugikan melalui kehilangan prestise internasional, meningkatnya perpecahan internal dan keretakan di dalam blok Barat, juga harga energi domestik yang lebih tinggi karena keterkaitannya dengan harga global yang akan meningkatkan biaya manufaktur di AS,” jabarnya.

Sementara itu, sambungnya, bagi Eropa, situasinya sangat buruk karena mereka sudah menderita akibat dampak perang Ukraina dan gangguan pasokan gas Rusia. “Pada 23 Juni 2025, Pusat Studi Kontraterorisme dan Intelijen Eropa memprediksi bahwa pemblokiran selat adalah salah satu dari empat respons Iran terhadap konflik dan akan menjadi bencana bagi Eropa, antara lain menimbulkan ancaman terhadap keamanan energi, guncangan ekonomi, eskalasi keamanan dan militer, serta gangguan pengiriman dan perdagangan,” ungkapnya.

Jadi, ia menyimpulkan, perang saat ini telah menunjukkan kepada seluruh dunia kebutuhan mendesak akan tatanan dunia baru setelah kelemahan sistem saat ini dan korupsi lembaga serta negara-negaranya terungkap. “Tidak ada umat Islam yang lebih layak memimpin transformasi ini dengan sistem Islam yang diwahyukan secara Ilahi yang membawa manusia keluar dari kesempitan keserakahan dan ketamakan materi, menuju keadilan Islam dan keluasan rahmat-Nya,” pungkasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *