Muslimah News, INTERNASIONAL — Juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis Mesir mengatakan, perang Amerika dan entitas Yahudi melawan Iran telah mengungkap pemandangan yang sangat mencolok yang mencerminkan posisi pemerintahan Mesir dan dominasi Amerika di kawasan tersebut. “Ketika Gaza menjadi sempit bagi penduduknya karena pemboman, pengepungan, dan kelaparan, penyeberangan Rafah tetap tertutup bagi penduduk Gaza. Namun, gerbang penyeberangan Taba justru dibuka untuk ribuan orang Yahudi yang datang berbondong-bondong ke Sinai melarikan diri dari perang,” jelasnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (6-3-2026).
Ia menilai, yang terjadi hari ini menunjukkan betapa parahnya kemerosotan penguasa-penguasa di negeri-negeri muslim. “Inilah pengkhianatan nyata! Ketika perbatasan tunduk pada kolonialisme. Akhirnya, hal itu menjadi garis yang memisahkan umat muslim dan mencegah dukungannya kepada kaum muslim. Di sisi lain perbatasan tersebut tetap terbuka bagi musuh-musuh mereka yakni entitas Yahudi,” kecamnya.
Menurutnya, rezim Mesir tidak memandang Palestina sebagai tanah yang ditindas yang harus dibebaskan. “Melainkan memperlakukan Palestina sebagai masalah keamanan yang dikelola sesuai dengan kesepahaman internasional dan regional. Dari sini, pengepungan menjadi alat politik, dan menutup penyeberangan menjadi sarana tekanan terhadap Palestina. Alih-alih memberikan dukungan, justru Mesir menutup rapat pintu perbatasannya dengan Palestina,” ungkapnya.
Islam
Ia menyampaikan, Islam tidak menjadikan nasionalisme sebagai penentu kedudukan umat Islam, tapi menjadikan ikatan akidah sebagai ikatan yang mempersatukan mereka. “Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, darahnya adalah darah kita, tanahnya adalah tanah kita, dan perjuangannya adalah perjuangan kita. Oleh karena itu, pengepungan Gaza bukan hanya masalah rakyat Palestina; melainkan masalah seluruh umat Islam, yang menyentuh kehormatannya dan menguji kesetiaannya kepada agama dan akidahnya,” terangnya.
Umat Islam saat ini, ujarnya, tidak membutuhkan pidato atau slogan, tapi membutuhkan orang-orang yang menyadari bahwa kekuatan mereka adalah amanah yang dibebankan pada pundak mereka yang akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah ini pada Hari ketika mereka berdiri di hadapan Allah. “Maka jadilah seperti yang Allah kehendaki yakni prajurit Islam, pelindung umat Islam, dan pedang yang mematahkan penindasan dan mengembalikan kehormatan umat Islam di bawah Islam dan institusinya yakni kekhalifahan yang mendapat petunjuk yang benar sesuai dengan cara kenabian,” pungkasnya. [MNews/IK]
