Muslimah News, INTERNASIONAL—Iran mengadakan upacara pemakaman massal untuk 165 siswi dan staf yang tewas pada Sabtu (28-2-2026). Iran mengatakan ini akibat serangan Amerika Serikat (AS)-Zion*s Yahudi terhadap sebuah sekolah perempuan di Kota Minab, Iran selatan.
Militer Zion*s mengklaim tidak mengetahui adanya serangan Zion*s atau AS di daerah tersebut. Sepanjang perang genosida di Gaza, Zion*s telah membantah beberapa serangan mematikan terhadap warga sipil Palestina, kemudian menarik kembali pernyataannya ketika bukti yang tidak terbantahkan muncul, lalu menyebut serangan tersebut sebagai kecelakaan.
Televisi pemerintah Iran pada Selasa (3-3-2026) menunjukkan ribuan orang memenuhi alun-alun publik di Minab. Para pria mengibarkan bendera Iran, sementara sebagian besar wanita berdiri terpisah mengenakan cadar hitam. Seorang ibu mengangkat poster dengan tulisan “Mereka mati di jalan Tuhan”. Kerumunan massa meneriakkan yel-yel menentang kebijakan AS dan Zion*s dan berteriak, “Jangan menyerah!”
Tidak Punya Masa Depan
Menyorot hal di atas, aktivis dakwah Imrana Mohammad angkat bicara. ”Perempuan tidak punya masa depan tanpa Khilafah,” tuturnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Kamis (12-3-2026).
Ia prihatin, Ramadan seharusnya menjadi momen lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt., tapi umat Islam malah mengalami penindasan yang menyebabkan hidup dalam keadaan terancam, tanpa ketenangan pikiran.
”Nabi Muhammad saw. tidak pernah menerima situasi penindasan seperti itu. Bahkan ketika Rasulullah di Mekah, beliau memahami perlunya menciptakan ruang aman di mana kepemimpinan Islam memungkinkan setiap orang, perempuan dan anak-anak, untuk merencanakan masa depan tanpa rasa takut,” jelasnya.
Imrana menyesalkan, kini sekolah anak perempuan telah hilang karena ketiadaan kepemimpinan sejati di dunia muslim. ”Perayaan Idulfitri tidak dapat normal dengan hilangnya nyawa-nyawa muda yang seharusnya hadir merayakan bersama ibu dan ayah mereka,” ungkapnya.
Teknologi Canggih
Terkait klaim militer Zion*s yang tidak mengetahui adanya serangan di sekolah itu, Imrana tegas mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk berargumen adanya kekeliruan. ”Dengan teknologi canggih saat ini, pelacakan satelit, drone GPS, dan alat-alat yang dipandu laser, tidak ada alasan untuk berargumen tentang kesalahan atau kekeliruan,” tandasnya.
Ia melanjutkan, ada banyak bukti bagi dunia untuk bisa memahami bahwa Gaza memang digunakan oleh Zion*s Yahudi untuk melakukan kejahatan khusus ketika penembak jitu secara aktif menargetkan anak-anak.
”Gagasan permintaan maaf publik atau pengakuan kesalahan hanyalah aksi untuk menyembunyikan ’perayaan’ sebenarnya bahwa ratusan calon ibu dari umat muslim ini telah dibunuh sebelum mereka memiliki kesempatan untuk dewasa,” ucapnya.
Namun, menurutnya, bahaya sesungguhnya tidak terletak pada serangan yang jelas dari musuh yang nyata. ”Bahayanya berasal dari diamnya para penguasa yang memiliki kekuasaan untuk membela anak-anak yang tidak bersalah,” tandasnya.
Para penguasa itu, ucapnya, hanyalah ”penguasa boneka” bagi penjajah. ”Pengkhianatan itu bukan berasal dari mereka yang telah menyatakan kebencian mereka terhadap umat Islam, tetapi berasal dari mereka yang berbohong dan mencuri kekayaan umat Islam untuk mempertahankan kekuasaan mereka yang berusaha membahayakan umat Islam,” kritiknya. [MNews/IA]
