[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 3/7)

[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 3/7)

Penulis: MR Kurnia, dkk

Sambungan dari “Mengenali Potensi” Bagian 2/7.

Muslimah News, TELAAH KITAB — Ibadah sebagaimana telah dijelaskan di muka, ini pula yang dimaksud dengan ibadah dalam kedua ayat di atas, adalah menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah Taala. Adapun arti ibadah secara khusus adalah ketaatan kepada hukum syarak yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabb-nya, seperti salat, zakat, haji, doa, dan sebagainya.

Mengaktualisasikan ibadah dalam arti umum inilah yang secara konkret merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakikat hidup manusia di dunia dan ini pula yang wajib menjadi landasan segala kiprahnya. Aktualisasi ibadah terwujud ketika seorang muslim mengikatkan dirinya dengan hukum-hukum syarak dalam segala aktivitasnya, baik ketika berhubungan dengan Rabb-nya dalam bidang akidah dan ibadah, berhubungan dengan dirinya sendiri dalam bidang akhlak, makanan, minuman, dan pakaian, maupun ketika berinteraksi dengan sesamanya dalam bidang muamalah dan ukubat (hukuman dan sanksi).

Ketika seorang muslim menjalankan salat lima waktu, mengeluarkan zakat setiap tahun, berpuasa saat Ramadan, beribadah haji, bertobat, atau membaca Al-Qur’an, semua ini disebut sedang melaksanakan ibadah (dalam arti khusus). Begitu pula tatkala ia bekerja secara profesional dengan etos kerja tinggi didukung keahlian dan sikap amanah, mendidik anak dengan cara Islam, menepati janji, mengkaji ajaran Islam, memedulikan keadaan kaum muslim yang lain, aktif berdakwah atau dalam kegiatan keislaman, bersabar tatkala mendapat musibah, memerintahkan isteri atau anak perempuannya berjilbab, menengok teman yang sakit, bermusyawarah, menjaga kesehatan dan kebersihan, dan sebagainya. Semua ini menunjukkan bahwa ia pun tengah menjalankan misi ibadah.

Sebaliknya, tatkala seseorang melalaikan tugas, melakukan korupsi dan manipulasi, memberi atau menerima suap, berbohong, berzina, menenggak minuman keras, mengonsumsi narkoba, mengunjungi pub/diskotik, membantu terjadinya perzinaan, menzalimi orang lain, dan sebagainya, dikatakan bahwa ia telah melakukan maksiat kepada Allah Taala. Artinya, ia telah lupa terhadap hakikat keberadaannya di dunia.

Demikian pula halnya apabila ia menentang dakwah Islam, berjudi, menyatakan bahwa hukum Islam tidak layak karena dinilai kejam, merayakan Natal bersama, melakukan pelecehan seksual, berutang tanpa mau membayar, meninggalkan salat lima waktu atau salat Jumat, tidak berjilbab. Ini berarti ia telah lalai dari arti hakikat hidupnya di dunia, yaitu untuk beribadah kepada Allah Taala.

Jawaban atas Pertanyaan “Akan ke Mana Manusia dan Kehidupan Ini setelah di Dunia?”

Terhadap pertanyaan, “Akan ke mana manusia dan kehidupan setelah di dunia?”, Islam menjawab bahwa setelah kematian akan ada Hari Kiamat (Yaumu al-Qiyamah). Islam menegaskan bahwa kehidupan tidaklah ada di dunia saja, tetapi juga di akhirat, mau tidak mau pasti akan dilalui manusia.

Manusia adalah makhluk Allah, berasal dari-Nya, dan akan dikembalikan kepada-Nya. Pada Hari Kiamat, manusia akan dibangkitkan lagi dari kuburnya untuk dihisab amal perbuatannya oleh Allah Swt., lalu ditentukan tempat selanjutnya di surga atau neraka.

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu pada Hari Kiamat.” (QS Al-Mukminûn: 15—16).

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (QS Al-Qiyamah: 3—4).

Ketika dibangkitkan dari kuburnya, manusia dalam keadaan telanjang bulat. Sabda Nabi saw., “Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat tanpa alas kaki, telanjang bulat, dan tidak berkhitan. Aisyah bertanya, ‘Ya, Rasulullah. Laki-laki dan perempuan saling melihat (aurat) yang lain?’ Rasulullah menjawab, ‘Hai, Aisyah, pada saat itu perkara (Hari Kiamat) sangat dahsyat sehingga orang tidak akan memperhatikan hal itu.’” (Muttafaqun ‘alaihi).

Pada Hari Kiamat itu, keadaan manusia yang dibangkitkan beraneka ragam sesuai dengan iman dan amal perbuatannya di dunia.

“Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS Al-Zalzalah: 6—8).

Orang-orang kafir yang tidak mempercayai Hari Kiamat akan benar-benar kaget dibuatnya. “Dan ditiupkan sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata, ‘Aduh, celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan Zat Yang Maha Pemurah dan benarlah para rasul-Nya.” (QS Yasin: 51—52).

Akibat teramat menyesal, sampai-sampai orang-orang kafir saat itu berharap alangkah baiknya seandainya dulu di dunia mereka menjadi tanah saja. “Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’” (QS Al-Fajr: 24).

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepada kalian (orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang-orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.'” (QS An-Naba: 40).

Begitu pula orang muslim yang banyak berbuat dosa. Ia akan menyesal karena semasa hidup di dunia tidak menjalankan ajaran Islam sebagaimana mestinya dan telah mengambil teman (panutan) yang sesat dan menyesatkan.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.'” (QS Al-Furqân: 27—29).

Adapun orang-orang muslim yang taat menjalankan ketentuan-ketentuan ajaran Islam ketika di dunia, mereka tidak mengalami kegoncangan atau kekerasan pada Hari Kiamat.

“Orang-orang ahli Laa ilaaha illallah (yang mengucapkan kalimat tersebut dan menunaikan haknya/konsekuensinya) tidak akan mengalami keguncangan tatkala wafat, di alam kubur, dan tatkala ia dibangkitkan. Seolah-olah aku melihat mereka ketika ditiup sangkakala yang kedua (saat dibangkitkan dari kubur) sedang menyingkirkan tanah (pasir) dari kepala mereka seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.'” (HR Abu Ya’la).

Setelah dibangkitkan, manusia dihisab oleh Allah Taala. Pada saat itu, Allah Swt. akan menanyakan segala amal baik dan amal buruk yang pernah dilakukan manusia di dunia, baik amal yang kecil dan remeh, maupun amal yang besar dan agung. Bahkan, pada saat itu, setiap manusia dapat membaca sendiri catatan amal perbuatannya dalam sebuah kitab yang diberikan kepada mereka.

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al-Hijr: 92—93).

“Kedua telapak kaki seorang anak Adam pada Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenal lima perkara, yakni tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yang dilakukannya, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yang ia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR Ahmad). [MNews/RY-YG]

Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.

Bersambung ke “Mengenali Potensi” Bagian 4/7.

Share

One thought on “[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 3/7)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *