Persembahan Ibu Generasi untuk Perjuangan Menegakkan Peradaban Islam

Persembahan Ibu Generasi untuk Perjuangan Menegakkan Peradaban Islam

Muslimah News, FOKUS — Era digital menyajikan tantangan pendidikan anak yang luar biasa berat bagi para ibu. Sebelum era digital, permasalahan generasi sebagai akibat penerapan sistem kapitalisme, seperti kekerasan, bullying, pergaulan bebas, dll. sudah terjadi. Namun, digitalisasi telah menjadikan persoalan generasi makin kompleks dan berat.

Saat ini gawai, dengan berbagai fitur menarik di dalamnya telah membuat anak betah menggunakannya berjam-jam. Ketika screen time anak makin meningkat, orang tua mulai kehilangan perhatian anaknya. Anak sibuk dengan gawainya dan fokus dengan dunia maya hingga sudah masuk tahap adiksi dan antisosial. Miris, orang tua pun terdampak hal yang sama, meskipun problem generasi muda lebih berat karena mereka adalah digital natives.

Ini bukan problem kasuistik, tetapi sudah menjadi fenomena di Indonesia, bahkan dunia. Berdasarkan laporan Digital 2025 Global Overview, sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online. Tidak hanya itu, rata-rata waktu online harian masyarakat Indonesia sangat tinggi, yakni mencapai 7 jam 22 menit. Laporan tahunan Data.AI yang bertajuk State of Mobile 2024 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan waktu terlama dalam menggunakan perangkat mobile (ponsel dan tablet).

Masalahnya, dunia digital dalam gawai tidaklah netral. Di dalamnya terjadi hegemoni digital oleh kapitalis media digital global (big-tech) dengan dukungan penuh dari negara adidaya (AS) yang menjadikan generasi sebagai objek sekularisasi masif. Kapitalis membanjiri media digital dengan konten negatif, seperti gaya hidup sekuler, hedonistik, permisif, bahkan liberal. Selain itu, konten kekerasan, bullying, pornografi-pornoaksi, judi, dll. banyak bertebaran di ruang digital.

Ini semua menjadikan generasi kehilangan arah hidup dan gambaran identitas muslim yang hakiki. Mereka menjelma menjadi sosok yang jauh dari Islam, bahkan tidak mengenal agamanya sendiri. Generasi muda juga rawan mengalami masalah kesehatan mental, mereka menjadi rapuh dan mudah stres, cemas, depresi, bahkan bunuh diri. Berbagai perubahan kepribadian ini kerap menjadikan orang tua seperti tidak mengenali anaknya sendiri.

Barat juga menciptakan konflik antargenerasi dengan narasi gap generasi. Seolah-olah perbedaan usia antara ibu dan anak berarti perbedaan nilai dan standar kehidupan. Para kapitalis pun memanfaatkan realitas ini sebagai celah untuk memasarkan produk berdasarkan karakter masing-masing generasi. Padahal, “perbedaan” itu sejatinya klaim mereka belaka, bukan karakter hakiki.

Rekayasa algoritma telah menampilkan role model baru bagi anak, yaitu influencer di medsos. Orang tua tidak lagi menjadi pihak yang dijadikan panutan karena sosok di medsos seolah-olah lebih sempurna. Akibatnya, para ibu kesulitan mengarahkan anaknya sesuai dengan pemahaman Islam.

Apalagi kondisi sebagian besar ibu minim tsaqafah Islam sebagai akibat sekularisasi yang mendera generasi para orang tua sejak runtuhnya sistem Islam pada 1924. Orang tua makin sulit memiliki kendali terhadap anak.

Kaum ibu juga menanggung beban ganda. Selain mendidik anak dan mengurus rumah tangga, ibu masih harus bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Kapitalisme telah gagal dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini memaksa perempuan harus bekerja sehingga tidak bisa menjalankan tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga secara optimal.

Banyak orang tua akhirnya menyerah dan menuruti apa saja kemauan anak, meski sebenarnya melanggar syariat. Ibu dan generasi pun terjebak dalam arus deras algoritma di ruang digital dan perbedaan kelompok usia demografi.

Kondisi ini tentu harus diakhiri, agar tidak terjadi keterputusan generasi muslim. Para ibu harus menyadari masalah generasi sebagai akibat hegemoni digital ini dan memahami solusi sahih untuk menyelesaikannya.

Penjajahan Digital

Yang terjadi saat ini sejatinya adalah penjajahan digital. Kapitalisme menjadikan penjajahan sebagai metode penyebaran ideologinya. Penjajahan juga menjadi metode negara-negara kapitalis (AS dkk.) untuk menguasai sumber daya negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.

Penjajahan di dunia nyata mengeruk kekayaan alam berupa tambang, hutan, laut, dll. Sedangkan penjajahan di dunia maya “mengeruk” data pengguna medsos untuk kemudian digunakan sebagai “bahan” pembuatan iklan produk para kapitalis yang menyasar umat Islam sebagai pasarnya. Dengan besarnya pangsa pasar umat Islam, termasuk di Indonesia, bisa kita bayangkan besarnya keuntungan yang didapatkan korporasi media digital.

Agar keuntungan mereka makin besar dan generasi terus berada di bawah pengaruh algoritma buatan Barat, media digital didesain untuk menyebabkan adiksi. Aktivitas scroll gawai terasa menyenangkan hingga tanpa sadar menghabiskan banyak waktu dan pengguna akan sulit untuk berhenti. Ini menjadikan anggota keluarga sibuk dengan gawai masing-masing. Tidak ada kebersamaan meski raga anak dan orang tua berdekatan.

Ketiadaan bonding ini menjadikan bangunan keluarga menjadi rapuh. Orang tua sulit mengarahkan anak, sedangkan anak sulit memahami maksud orang tua. Inilah gap yang sebenarnya. Pola asuh orang tua kalah dengan “pola asuh” media digital. Sebagai contohnya, orang tua tidak mengajarkan kekerasan pada anak, tetapi game online dan medsos mengajarkannya pada anak sehingga anak menjadi pelaku kekerasan.

Ini karena sejatinya di ruang digital juga terjadi wadah penjajahan pemikiran. Konten berisi pemikiran Islam kafah dilarang dan dibatasi, sedangkan konten berisi pemikiran sekuler, kapitalistik, dan liberal diaruskan secara masif sehingga seolah-olah merupakan pemikiran yang benar. Sekularisasi terjadi secara nyata di ruang digital.

Platform digital sengaja meracuni generasi muda dengan pemikiran sekuler dan liberal sehingga mereka jauh dari Islam dan tidak memiliki gambaran yang utuh tentang ideologi Islam. Mereka diformat untuk memandang Islam hanya sebagai agama ritual dan ajaran moral, bukan sebagai jalan hidup (way of life). Hasil penjajahan pemikiran ini adalah lahirnya generasi muslim yang sekuler dan liberal.

Ketika orang tua mengajarkan Islam pada generasi muda, muncul penolakan. Terjadi gap antara didikan orang tua dengan kehendak anak. Gap ini terjadi bukan karena perbedaan karakter generasi sebagaimana mitos gap generasi yang dinarasikan Barat. Namun, gap terjadi karena ada jarak yang sengaja diciptakan oleh algoritma.

Ini adalah bentuk penjajahan berikutnya. Negara dan korporasi kapitalis tidak hanya “mengeruk” data umat Islam, tetapi juga memorak-porandakan bangunan keluarga. Orang tua kesulitan mentransfer ajaran (risalah) Islam pada anak karena anak sudah diasuh dengan sekularisme oleh media digital.

Dengan demikian, generasi muda tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi sekularisasi di ruang digital. Mereka akan makin kehilangan arah hidup. Ketika generasi muslim secara global mengalami hal ini, bisa dibayangkan kerusakan hebat dan kehancuran yang akan terjadi pada kaum muslim.

Kaum ibu memiliki peran penting untuk melindungi generasi dari bahaya hegemoni digital. Kaum ibu harus berjuang mewujudkan institusi pelindung generasi dari penjajahan di ruang digital. Sayang, negara hari ini menerapkan kapitalisme sehingga abai terhadap kerusakan generasi akibat hegemoni digital.

Negara hanya bertindak sebagai regulator yang membuat regulasi untuk membatasi akses anak-anak terhadap medsos. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) 17/2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Namun, pembatasan usia untuk mengakses medsos ini tidak akan efektif melindungi generasi dari bahaya konten negatif dalam platform digital, karena platformnya sendiri dibiarkan tetap ada, tidak dilarang. Pembatasan itu juga hanya berlaku untuk medsos, sedangkan untuk game online tidak ada pembatasan.

Negara gamang (tidak berani) melarang operasional platform digital, meski jelas-jelas menghasilkan kerusakan generasi. Ini karena negara kapitalistik tersandera dengan pemasukan pajak dari korporasi media digital. Jadi, negara lebih mementingkan pemasukan pajak daripada melindungi generasi.

Tampak bahwa orang tua tidak bisa berharap ada perlindungan dari negara karena negara juga menerapkan kapitalisme yang mementingkan keuntungan materiel (pemasukan pajak) daripada keselamatan generasi. Jika kita ingin melindungi generasi, harapan satu-satunya hanya ada pada sistem Islam (Khilafah).

Khilafah sang Junnah

Penerapan kapitalisme menghasilkan kerusakan, termasuk kerusakan generasi pada era digital. Allah Taala berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum [30]: 41).

Sedangkan Islam adalah ideologi sahih yang penerapannya akan menghasilkan kebaikan. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam.” (QS Ali Imran [3]: 19).

Penerapan syariat Islam kafah akan mewujudkan perlindungan terhadap jiwa dan akal generasi. Imam Asy-Syatibi dalam Al-Muwafaqat fi ushul asy-Syari’ah menjelaskan tentang maqashid syariah, di antaranya adalah menjaga jiwa (hifdzu an-nafs) dan menjaga akal (hifdzu al-aql). Syekh Muhammad Husain Abdullah dalam Dirasat fi al-Fikri al-Islami hlm. 61, menyatakan bahwa ada delapan aspek dalam kehidupan luhur masyarakat manusia yang dipelihara dalam penerapan syariat Islam, di antaranya adalah memelihara akal—yaitu dengan mencegah dan melarang tegas segala perkara yang merusak akal—dan memelihara jiwa manusia.

Sistem Islam (Khilafah) akan mewujudkan kedaulatan digital sehingga bisa melawan hegemoni digital yang dilindungi adidaya AS dengan kekuatan yang seimbang. Dengan demikian, Khilafah menjadi junnah (perisai pelindung) bagi rakyat dari penjajahan Barat di ruang digital. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)

Khilafah akan membangun infrastruktur digital sehingga bisa melindungi generasi dari konten negatif dan jeratan algoritma buatan Barat. Ruang digital hanya boleh diisi dengan konten islami yang membentuk kepribadian Islam pada generasi, sekaligus mendukung misi penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin.

Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan Islam sehingga mencetak generasi berkepribadian Islam yang kukuh, tidak mudah mengalami masalah mental. Kecanggihan teknologi digital akan digunakan untuk keperluan dakwah Islam. Jika ada pihak yang menyebarkan konten negatif (bertentangan dengan syariat), negara akan menindak tegas dengan pemberian sanksi yang menjerakan. Bahkan, tayangan nirfaedah juga akan dilarang, meski tidak bermuatan maksiat, tetapi bisa melenakan generasi muda dengan aktivitas yang tidak bermanfaat.

Negara akan membiayai semua hal yang dibutuhkan untuk mewujudkan kedaulatan digital dengan pendanaan dari baitulmal. Negara tidak akan mencari keuntungan dari rakyat, tetapi melayani kebutuhan rakyat. Pengelolaan SDA sesuai dengan syariat Islam akan menjadikan pemasukan baitulmal melimpah sehingga cukup untuk membangun infrastruktur digital secara mandiri.

Dalam peradaban Islam, generasi muda dimuliakan dengan posisinya sebagai pemimpin peradaban nan gemilang, bukan sebagai pasar komoditas ekonomi, objek eksploitasi, atau budak korporasi. Potensi generasi muda akan teroptimalkan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera.

Sedangkan kaum ibu bisa menjalankan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah (umm wa rabbatul bait). Para ibu mendidik generasi agar berkepribadian Islam dan memiliki mental pejuang. Ibu menjadi madrasah ula dan aula bagi generasi. Rumah menjadi tempat nyaman bagi generasi untuk pulang dan mendapatkan dukungan penuh cinta sehingga jiwa (mental) mereka tenang dan sekaligus kuat.

Ibu tidak disibukkan dengan urusan mencari nafkah atau mendukung ekonomi negara sehingga bisa fokus mendidik generasi muda. Ibu leluasa berkomunikasi dengan anak sehingga terwujud ketersambungan generasi yang berarti juga ketersambungan risalah Islam.

Peran Ibu Mencetak Generasi Pejuang

Ketika Khilafah belum tegak seperti saat ini, kaum ibu dan generasi muda harus bahu-membahu untuk mewujudkan peradaban Islam. Keberadaan sistem dan peradaban Islam adalah solusi hakiki permasalahan generasi pada era digital saat ini. Ibu berperan penting untuk membina generasi muda agar terwujud profil generasi muslim ideologis, yaitu memiliki akidah Islam yang kukuh, taat syariat, dan memiliki kesadaran politik sehingga peduli pada urusan umat Islam.

Agar bisa membina generasi muda menjadi pejuang Islam, para ibu harus terlebih dahulu memiliki pemahaman Islam kafah. Hal ini hanya bisa diperoleh dari proses pembinaan yang dilakukan oleh jemaah Islam kafah. Jadi, sebelum membina generasi, para ibu butuh untuk ikut pembinaan Islam kafah secara intensif dan berkelanjutan.

Untuk bisa membina generasi muda, para ibu harus meneladan metode pembinaan yang dijalankan Rasulullah saw. di Makkah terhadap para sahabat sehingga bisa mencetak mereka menjadi generasi pelopor perubahan, yaitu pengemban dakwah Islam ideologis yang berjuang menegakkan Daulah Islam. Metode Rasulullah saw. tersebut adalah membangun kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyyah) Islam, membentuk kepribadian (syahsiah) Islam, mewujudkan kesadaran politik (wa’yu siyasi), dan melibatkan semua generasi, baik tua maupun muda.

Tentu saja membina generasi muda bukan perkara yang mudah pada era saat ini. Namun, dengan pemahaman Islam yang sahih, kesadaran politik yang ideologis, dan kesabaran menapaki jalan dakwah Rasulullah saw., para ibu akan mampu memberikan persembahan terbaik untuk membina generasi muda demi mewujudkan peradaban Islam.

Ibu dan generasi akan saling mendukung untuk mewujudkan perubahan sahih bersama jemaah dakwah Islam kafah untuk mewujudkan Khilafah Islamiah. Jika sinergi ini terwujud, sungguh fajar kemenangan Islam akan segera terbit. Lahirlah kehidupan Islam yang penuh kebaikan dan keberkahan, menghilangkan berbagai kerusakan di muka bumi. Wallahualam bissawab. [MNews/RR-NA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *