Pendidikan Islam Mampu Mencetak Ulama Besar dan Inovator Menuju Khairu Ummah

Pendidikan Islam Mampu Mencetak Ulama Besar dan Inovator Menuju Khairu Ummah

Penulis: Dr. Rahmah

Muslimah News, KOLOM – Akidah Islam merupakan asas, yaitu sebagai standar seorang muslim dalam bertingkah laku pada seluruh aspek kehidupan. Oleh karenanya, pendidikan juga harus berlandaskan pada akidah Islam. Ilmu pengetahuan yang diberikan kepada anak didik dan yang diperoleh anak didik wajib berlandaskan akidah Islam.

Akidah Islam sebagai asas seorang muslim dalam hal keyakinan dan perbuatan. Akidah Islam dipakai untuk menilai baik-buruk sesuatu dan halal-haramnya. Hanya perbuatan dan ilmu pengetahuan yang berdasarkan akidah Islam inilah yang diterima di sisi Allah Swt. sebagaimana Firman-Nya,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 7).

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85).

Dalam buku Strategi Pendidikan Islam disebutkan bahwa merupakan suatu kewajiban kaum muslim mempelajari ilmu yang sesuai dengan Islam dan bersumber dari akidah Islam. Hal ini bukan berarti haram mempelajari ilmu yang bertentangan dengan Islam. Boleh mempelajari ilmu-ilmu yang tidak sesuai dengan Islam tersebut dengan dua syarat. Pertama, setelah meyakini akidah Islam dengan keimanan yang kuat dan memahami pengetahuan Islam tentang hal tersebut secara benar. Kedua, tujuan mempelajarinya adalah untuk membantahnya dan mengambil sikap sesuai ajaran Islam terhadapnya.

Rasulullah ﷺ adalah teladan yang baik dalam pendidikan Islam. Beliau telah menetapkan landasan, tujuan, dan kurikulum pendidikan, serta metode yang harus dipakai. Alhasil, kaum muslim wajib mencontoh dan mengikuti Rasulullah ﷺ. Artinya, mengambil dari Islam, bukan dari sekularisme atau yang lainnya.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Hasyr ayat 7,

{وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} [الحشر: 7]

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

Menjadikan peserta didik mencontoh Rasulullah, mengambil syariat Islam secara kafah, hingga menjadikannya berkepribadian Islam. Inilah tujuan umum pendidikan, yaitu membentuk pola pikir islami (akliah islamiah) dan pola sikap yang islami (nafsiah islamiah). Alhasil, terbentuk generasi berkepribadian yang islami (syahsiah islamiah), yaitu suatu generasi yang bertingkah laku berdasarkan pada akidah Islam.

Upaya membentuk generasi bersyahsiah islamiah berarti membentuk generasi yang hanya menyembah dan mengabdikan dirinya kepada Allah, mengembalikan segala permasalahan hanya kepada Allah. Artinya, menyelesaikan seluruh problematika kehidupannya dengan hukum Islam, dan tingkah lakunya senantiasa mengikuti petunjuk-Nya. (Dr. Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islam, 2003).

Dengan demikian, tujuan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian Islam atau seorang muslim yang selalu beribadah kepada Allah, baik ibadah mahdhoh maupun ghairu mahdhoh, karena tugas hidup seorang muslim adalah beribadah kepada Allah. Seorang muslim dituntut untuk mengisi hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah dengan cara senantiasa melakukan aktivitasnya sesuai perintah Allah dan dengan niat ikhlas hanya karena Allah (lihat QS Adz-Dzariyat ayat 56).

Adapun strategi mendidik anak adalah agar tingkah lakunya sesuai tuntutan Islam, yakni menjadi pribadi yang bertakwa atau mukmin sejati, menjadi pribadi yang dekat dengan Allah. Dr. Abdurrahman Amirah mengatakan, “Sungguh, strategi pendidikan Islam telah berhasil mengarahkan manusia kepada Tuhannya dan mengembalikan mereka kepada Penciptanya sehingga masing-masing percaya sesungguhnya Allah itu dekat.” (Abdurrahman Amirah, Manhaj al-Qur’an fi Tarbiyati ar-Rijal, Beirut, Darul Jail, hlm. 237).

Islam Mendorong Kaum Muslim Menguasai Ilmu-Ilmu Islam

Menguasai ilmu-ilmu Islam, seperti usul fikih, fikih, ulumul qur’an, ulumul hadits, dan bahasa Arab, merupakan keniscayaan bagi seorang muslim. Ini karena Allah mewajibkan kaum muslim mengembalikan segala permasalahan hanya kepada Islam. Artinya, kaum muslim wajib menyelesaikan seluruh problematika kehidupannya dengan hukum Islam. Islam mendorong dan mewajibkan setiap muslim untuk memahami ilmu-ilmu Islam.

Firman Allah Swt. dalam QS Al-Mujadalah ayat 11,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْن

“Barang siapa dikehendaki Allah dengannya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya mengenai agama.” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam bukunya, Atlas Budaya Islam, Ismail R. Al-Faruqi, Lois Lamya al-Faruqi menyebutkan bahwa pendidikan Islam betul-betul mampu melahirkan ulama-ulama besar yang mengantarkan kemajuan di bidang ilmu-ilmu Islam. Mereka mengukir sejarah dengan tinta emas. Antara lain Imam Bukhari (194–256 H), seorang ahli hadis, karyanya Al-Jami’ush Shahih, yang lebih terkenal dengan Shahih Bukhari. Imam Bukhari meneliti 300.000 hadis yang diriwayatkan 1.000 orang, dan hadis yang dipilih hanya yang sahih, yaitu 7.275.

Imam Syafi’i (150–204 H), ahli fikih, hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun. Karyanya adalah Ar-Risalah al-Qadimah (Kitab al-Hujjah), Ar-Risalah al-Jadidah, Ikhtilaf al-Hadits, Ibthal al-Istihsan, Ahkam al-Qur’an, Bayadh al-Fardh, Sifat al-Amr wa Nahyi, Ikhtilaf al-Malik wa Syafi’i, Ikhtilaf al-Iraqiyin, Ikhtilaf Muhammad bin Husain, Fadha’il al-Quraisy, Kitab as-Sunan, Kitab al-Umm.

Imam Hambali (164–241 H), ahli hadis dan fikih dengan karyanya, Musnad Ahmad Hambali. Beliau memeriksa 750.000 hadis dan beliau memilih yang sahih, yakni sekitar 40.000.

Imam Ali asy-Syaukani juga termasuk ulama besar yang produktif. Sekalipun sehari-hari ia menjabat sebagai kadi, tetapi ia tetap mampu meluangkan waktunya untuk belajar, mengajarkan ilmunya, bahkan menulis buku. Oleh karenanya, karya beliau sangat banyak, yaitu 348 judul buku—walaupun sebagian masih berupa manuskrip. Dari buku yang ditulis, ada yang berjilid-jilid, misalnya Fathul Qadir al-Jami’bain Fannai al-Riwayah wa al-Dirayah min Ilm al-tafsir dan Syarah Naulul Authar yang terdiri dari sembilan jilid.

Islam Mendorong Kemajuan Sains dan Teknologi

Jika kita mengkaji secara mendalam suatu hukum Islam, di situ akan tampak adanya strategi yang mengantarkan umat Islam menjadi umat terbaik. Misalnya, hukum yang terdapat pada firman Allah Swt.,

{وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ}

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (QS Al-Anfal: 60).

Rasulullah ﷺ menegaskan, “Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan sendiri. Bersemangatlah mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu.” (HR Muslim).

Dari ayat dan hadis di atas, suatu pemerintahan Islam diharuskan untuk memiliki kekuatan yang mampu menggentarkan musuh. Pada saat ini, teknologi sudah sedemikian canggih. Tentu saja negara wajib memiliki industri militer yang canggih dan mandiri yang mana bahan baku dan alat-alat utama serta SDM-nya tidak tergantung kepada negara lain. Hal ini akan mendorong dunia pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak mungkin bisa dipenuhi dengan impor, terlebih lagi dari negara musuh.

Kemajuan peradaban merupakan produk dari sains dan teknologi dan Islam sangat mendorong kemajuan sains dan teknologi. Bahkan, merupakan kewajiban bagi kaum muslim untuk mempelajari dan mengembangkannya. Dalam kitab Manahil al-Urfan fi Ulumi al-Qur’an Juz I, Syekh Muhammad Abdul Adzim Zarqani mengatakan bahwa Al-Qur’an menganjurkan mempelajari ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu terapan, dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di alam ini.

Firman Allah Swt. dalam QS Hud ayat 37,

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا [هود: 37]

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.”

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu, maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS Al-Anbiya’ ayat 80).

Dalil di atas menunjukkan bahwa kaum muslim hendaknya memanfaatkan bumi yang telah Allah Swt. sediakan bagi manusia. Tentu saja, memanfaatkan bumi mengharuskan manusia menguasai ilmu yang mengantarkan pada kemampuan manusia untuk memanfaatkannya. Alhasil, kaum muslim harus mempelajari ilmu-ilmu terapan dan ilmu-ilmu alam atau sains dan teknologi.

Tatkala pendidikan Islam murni berlandaskan akidah Islam dan kaum muslim masih memiliki kekuasaan, yaitu Khilafah Islamiah, dunia pendidikan maju sangat pesat. Pendidikan ini mampu melahirkan penemuan-penemuan semisal kompas, peta dunia, dan jam. Muncul pula saat itu ulama besar antara lain Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Hanbali, dan Imam Bukhari.

Pada masa Rasulullah ﷺ, pendidikan beliau ﷺ menghasilkan para sahabat yang berkepribadian cemerlang dan mampu memproduksi senjata mutakhir. Islam mampu mendorong para sahabat untuk meraih kemajuan di bidang sains, teknologi, dan ilmu-ilmu Islam. Contohnya, Khalid bin Walid, seorang ahli militer panglima besar yang berperang lebih dari 40 kali dan selalu menang, serta mampu menaklukkan dua adidaya saat itu (Romawi dan Persia).

Pendidikan Islam juga mampu mendorong Negara Islam—yang baru berdiri kala itu—memproduksi senjata mutakhirnya, yaitu dabbabah (sejenis tank yang terdiri dari kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda). Alat perang tersebut dipergunakan untuk menerjang pagar ataupun pintu-pintu benteng musuh, hingga dipergunakan untuk berlindung dari serangan musuh.

Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khaththab, pendidikan Islam mampu mendorong kaum muslim untuk menguasai teknik pembuatan kapal laut. Berawal dari Muawiyah meminta izin Khalifah Umar untuk menyerang Syprus karena negara adidaya Romawi saat itu menjadikan Syprus sebagai pangkalan militer angkatan lautnya. Akan tetapi, Khalifah Umar tidak mengizinkan. Ini karena setelah dilakukan penelitian, Khalifah Umar belum memperoleh gambaran. Beliau tidak bisa membayangkan bagaimana Khilafah yang selama ini tidak mempunyai angkatan laut dan belum pernah mengarungi lautan dengan kapal, bisa mampu menaklukkan musuh.

Dalam buku Tarikh Islam disebutkan, mulai saat itu, kaum muslim getol mempelajari kelautan, meliputi pembuatan kapal laut dan cara mengarungi dan menaklukkan lautan. Kaum muslim sangat terdorong untuk mempelajarinya. Dorongan tauhid ini begitu menggelora karena Rasulullah ﷺ pernah mengabarkan bahwa mereka mampu menaklukkan lautan.

Diriwayatkan, “Suatu hari, Rasulullah ﷺ tidur di rumah Abdullah bin Shamit dan bangun dari tidurnya, lalu beliau tertawa. ‘Mengapa engkau tertawa, ya Rasulullah?’ tanya Ummu Haram. Beliau ﷺ menjawab, ‘Ditunjukkan kepadaku orang-orang dari umatku yang mengarungi laut, seperti raja-raja di atas pembaringan.’”

Akhirnya, dalam waktu yang singkat, mereka mampu membangun pelabuhan di Kuffah. Selanjutnya, dalam waktu tidak lebih dari 10 tahun, dibentuklah angkatan laut oleh Khalifah Utsman. Dalam Tarikh al-Khulafa karangan Imam As-Suyuthi disebutkan bahwa angkatan laut Khalifah Utsman merupakan angkatan laut pertama kali ada pada pasukan militer Khilafah.

Hasil pendidikan yang gemilang itu tampak saat praktik perdananya. Sungguh luar biasa, Angkatan Laut Khilafah yang baru terbentuk mampu mengalahkan musuh. Kemenangan itu diperoleh pada 28 H (648 M) saat berperang di lautan melawan Romawi. Pengiriman pasukan perang ke Syprus kala itu di bawah Panglima Perang Muawiyah bin Abu Sufyan dan dibantu oleh Abdullah bin Saad.

Dalam buku Atlas Budaya Islam karangan Ismail R. Al- Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi disebutkan, pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, yaitu Khalifah Al-Makmun, lahir pakar-pakar yang hebat, antara lain Al-Khawarizmi atau Algorizm (W. 780), seorang pakar matematika, geografi, dan astronomi. Ialah yang memperbaiki Tabel Ptolemeus dan menemukan ilmu hitung (Aljabar) dan menemukan konsep angka nol (shifr) yang menunjukkan kosong. Ia orang pertama yang menciptakan geografi bumi. Ia juga yang mengembangkan aritmetika yang menjadi landasan aritmetika, disebut “sekumpulan perintah logis dan runtut, yakni algoritma”—yang tanpa itu, dunia komputer dan informatika tidak akan bisa berjalan.

Pada masa Khalifah Al-Makmun, beliau membuat observatorium di Baghdad, menyusun “Tabel Makmun yang telah diverifikasi”. Tabel ini sangat berguna untuk menentukan posisi secara tepat melalui penentuan garis lintang dan garis bujur. Posisi-posisi bintang bisa ditentukan secara akurat yang sangat berguna bagi sebuah kapal yang berlayar.

Lalu ada Ibnu Sina atau Avecenna (908–1037 M), pakar kedokteran, filsafat, astronomi, dan matematika. Ia mengungkapkan problem besaran yang tidak terhingga kecil, baik dalam agama, fisika, maupun matematika. Suatu hal yang pada abad ke-17 mengantarkan Newton & Leibniz pada infinitesimal dan kemudian membentuk ilmu kalkulus. Karyanya, Al-Qanun fi al-Thibb, menjadi buku rujukan utama bidang kedokteran selama lebih dari 700 tahun.

Pada masa Bani Umayyah, Khalifah Walid bin Abdul Malik (88 H/706 M) sudah membangun rumah sakit mental dan rumah sakit fisik, bahkan rumah sakit untuk pria dan untuk wanita. Dokter dan mahasiswanya tinggal di rumah sakit, dipandang sebagai pembantu para dokter yang mengadakan pelayanan masyarakat.

Pada 319 H/931 M masa Khalifah Al-Muqtadir di Baghdad, terdapat 869 dokter yang mengikuti ujian untuk mendapatkan izin praktik yang diadakan pemerintah. Sejak saat itu, dokter, ahli farmasi, dan rumah sakit diawasi oleh muhtasib, pejabat yang berwenang untuk mengurus hisbah.

Pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah, yaitu Sultan Muhammad al-Fatih, ada Ris Beiry, seorang Komandan Pasukan Laut Khilafah Utsmani, pakar geografi, dan pionir pembuat peta. Ia membuat peta Benua Amerika secara terperinci dan menulis bahwa benua Amerika sudah ditemukan pada 1465; serta Antartika, 27 tahun sebelum Amerika ditemukan oleh Christoper Columbus (1451–1506).

Demikianlah, tatkala pendidikan Islam murni berlandaskan akidah Islam, serta kaum muslim masih memiliki kekuasaan, yaitu Khilafah Islamiah, maka kemajuan dunia pendidikan sangat pesat. Pendidikan ini mampu melahirkan para penemu dan ulama, bahkan hingga tingkat mujtahid. Melahirkan generasi khairu ummah, generasi pemimpin perubahan menuju khairu ummah, atau membangkitkan kaum muslim menuju perubahan yang benar.

Firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 110,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Ibnu Katsir menafsirkan QS Ali Imran ayat 110, “(Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia), karena mengajak manusia keluar dari keyakinan-keyakinan yang salah dan mengajak memeluk Islam. Khairu ummah juga bermakna khairunnas, yaitu yang memberi manfaat kepada manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Dengan demikian, khairunnas adalah orang yang berdakwah menegakkan Islam secara kafah.

Oleh karenanya, kaum muslim maupun anak-anak mereka tidak akan melakukan aksi, dakwah, atau aktivitas lain untuk perubahan yang tidak jelas, apalagi perubahan yang malah mengukuhkan kapitalisme, sekularisme, dan liberalisme. Mereka hanya akan melakukan aktivitas yang mengubah secara hakiki/total, yaitu mencabut sistem kapitalisme, sekularisme, dan liberalisme, serta menggantinya dengan sistem Islam secara kafah (lihat QS Al Baqarah ayat 208). [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *