[Nafsiyah] As-Sa’adah (Kebahagiaan)

[Nafsiyah] As-Sa’adah (Kebahagiaan)

Muslimah News, NAFSIYAH — Sejatinya, kebahagiaan adalah perkara yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa didapatkan secara instan. Akan tetapi, kebahagiaan bisa diusahakan dan diperjuangkan. Menempuhnya butuh proses panjang sampai ia memahami maknanya.

Allah Swt. berfirman, “Kebahagiaan harus dicari dan diusahakan, tidak datang dengan sendirinya.” (QS Al-Qasas: 77)

Kebahagiaan, termasuk rasa tenang, datangnya dari sisi Allah dan atas izin Allah. Firman-Nya, “Dialah yang telah menurunkan yakni mewujudkan dan memantapkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang mukmin sehingga mereka tidak gentar menghadapi dan memerangi musuh untuk menambah keimanan atas keimanan mereka tentang kebesaran Allah.” (QS Al-Fath: 4)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ada surga, siapapun yang tidak memasuki surga di dunia. Ia tidak akan pernah memasuki surga di akhirat.”

Maksud dari kalimat ‘surga di dunia’ yakni pintu-pintu kebahagiaan yang ada di dunia. Bahagia bagi orang yang beriman ialah ketika hatinya dilapangkan oleh Allah Swt., “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS Al-Insyirah: 1)

Imam Al-Ghazali membagi kesenangan manusia menjadi dua tingkatan yaitu, lazaat (kepuasan) dan sa’adah (kebahagiaan). Lazaat (kepuasan) lebih pada aspek indrawi dan sesaar (material) sedangkan sa’adah bertumpu pada aspek batini (rasa dan langgeng).

Rasulullah saw. berpesan, “Kebahagiaan manusia itu ada tiga dan deritanya pun ada tiga. Kebahagiaan manusia, yaitu istri yang salihah, rumah yang bagus, dan kendaraan yang baik. Sedangkan derita manusia yaitu, istri yang jahat, rumah yang buruk, dan kendaraan yang jelek.” (HR Ahmad)

Pertama, istri salihah (al-mar’atush saliha). Ia adalah jalan mendapatkan anak yang saleh dan rumah yang nyaman (keluarga sakinah). Kriteria kesalehan istri adalah menyenangkan jika dipandang, merasa nyaman jika ditinggalkan, menjaga kehormatan, harta, dan patuh jika diperintahkan. (HR Al-Hakim dan An-Nasai)

Kedua, rumah yang bagus (al-maskanush shalih). Rumah menjadi tempat membangun kehidupan keluarga dan pemimpin umat masa depan. Tempat menyusun strategi perjuangan dakwah dan sumber inspirasi meraih kesuksesan. Wajarlah disebut sebagai baitii jannatii (rumahku adalah surgaku). 

Rumah juga sebagai tempat yang terbuka menerima tamu terutama orang-orang lemah (dhuafa dan mustad’afin). Tempat dilantunkan ayat suci Al-Qur’an, mengkaji Islam, dan mengajarkan Islam kepada anak-anak, ditegakkan salat serta untuk taqarrub kepada Allah.

Ketiga, kendaraan yang baik (al-markabush shalih). Kendaraan menjadi alat untuk mencapai tujuan dengan cepat, mudah, aman, dan nyaman. Kendaraan harus bermanfaat dan membangun umat, menolong sesama, dan memudahkan jalan dakwah.

Ketiga pintu kebahagiaan di atas merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Jika salah satu di antaranya tiada, tentu yang lain tidak bermakna. Namun, ketiga hal tersebut bukan menjadi tujuan hidup seorang muslim melainkan hanya sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki yakni berjumpa dengan Allah Swt. kelak di surga. Saat ia bisa menatap wajah Rabb-nya. Masyaallah.

Tidakkah kita mengharapkan perjumpaan dengan Rabb kita? Bukankah kita merindukan bisa menatap wajah pemilik alam semesta?

Pertanyaan di atas hanya bisa dijawab ketika kita memliki pondasi keimanan yang kukuh. Pintu kebahagiaan hanya bisa dibuka dengan kunci keikhlasan dan rasa syukur pada-Nya. Semoga kita memiliki keduanya untuk membuka pintu-pintu kebahagiaan di dunia dan berakhir di surga. Aamiin. [MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *