Muslimah News, NASIONAL — Menyikapi beredarnya makanan haram berlabel halal, aktivis muslimah nasional Iffah Ainur Rochmah menyampaikan, umat Islam butuh Khilafah untuk menjamin terhindar dari makanan atau minuman yang haram. “Sulit apa tidak sekarang kita mendapatkan makanan yang halal? Sulit. Karena kita tidak hidup di dalam sistem Islam, kita hidup di dalam sistem sekuler, prinsip-prinsipnya bukan syariat Islam. Tidak memikirkan halal atau haram, pasar produk non-halal ada. Bahkan, yang labelnya halal ternyata haram. Kita butuh khilafah untuk mendapatkan makanan yang terjaga kehalalannya,” ucapnya dalam Bincang Hangat Tokoh Muslimah: “Waspada Pangan Nonhalal Bersertifikat Halal”, Jumat (13-6-20265).
Kalau berpikir tentang negara, lanjutnya, sebenarnya adanya negara untuk melayani syariat karena negara dan agama Islam itu seperti saudara kembar. “Negara itu berfungsi untuk menjaga syariat. Kalau enggak bisa menjaga syariat, maka syariat akan lenyap. Sebenarnya ini tugasnya negara untuk memastikan yang halal,” ucapnya.
Ia menegaskan, yang diseru untuk makan dan minum yang halal sebenarnya bukan hanya umat Islam, tetapi juga seluruh umat manusia. “Ini penting karena seluruh umat manusia diseru untuk memakan makanan yang halal. Begitu pun dengan orang kafir, ketika mereka makan makanan yang halal dan tayib itu juga tidak akan membuat mereka mati? Justru mereka akan sehat. Sebenarnya, kalau untuk mendapatkan makanan halal itu lebih mudah jika yang melakukan negara. Namun, negara tidak melakukan itu. Oleh karena itu, kita butuh sistem Islam yang diterapkan secara kafah untuk mengatasi masalah ini,” urainya.
Harga Mati
Iffah menekankan, kebutuhan umat akan makanan yang halal dan tayib adalah harga mati. “Tentang produk halal di dalam Islam tidak ada tawar-menawar. Allah hanya memerintahkan yang halal dan tayib saja, dan melarang yang haram dan tidak tayib. Jika itu dilaksanakan, maka kebutuhan manusia insyaallah tercukupi,” terangnya.
Makan makanan haram, katanya, adalah bentuk kemaksiatan. “Kalau tidak mau mengikuti memakan makanan yang halal berarti mengikuti langkah setan, padahal setan musuh nyata manusia. Soal makanan halal tidak ada kompromi. Masyarakat protes makanan haram tetapi labelnya halal. Mengapa protes? Karena masyarakat peduli. Kok ada yang haram dilabeli halal. Jadi, kalau kita sudah melihat fakta yang banyak tadi, pasti kita peduli yang halal saja,” bebernya.
Namun, ungkapnya, ini bukan soal keinginan, tetapi juga fardu, yakni umat Islam diwajibkan makan makanan yang halal dan tayib. “Itu disebutkan banyak ayat di Al-Qur’an, salah satunya Al-Baqarah 168. Ada banyak lagi yang lainnya, menandakan tidak ada pilihan lain, kecuali mengonsumsi yang halal dan tidak boleh membiarkan yang haram itu untuk dikonsumsi. Ayat itu tidak hanya memerintahkan memakan yang halal, tetapi juga memberikan ancaman kepada mereka yang melanggar perintah Allah Swt. tersebut,” jelasnya.
Pengaruh
Makan haram atau halal, ungkap Iffah, itu pengaruhnya besar sekali terhadap manusia. “Imam Al-Ghazali mengatakan, kalau ada yang makan makanan haram, maka anggota tubuhnya bermaksiat, apakah orang itu ingin melakukan kemaksiatan atau tidak, baik ia tahu atau tidak tahu, tubuh kita itu akan mengikuti. Kalau kita makan makanan yang haram, tubuh kita itu akan mengikuti untuk bergerak kepada kemaksiatan,” imbuhnya.
Sedangkan, tambahnya, mereka yang memastikan makan makanan yang halal, maka anggota tubuhnya itu akan bergerak menuju ketaatan dan merestui kebaikan-kebaikan. “Tentu kita ingin tubuh kita bergerak kepada ketaatan, bukan kemaksiatan. Tetapi, kalau kita tidak memastikan yang kita konsumsi itu halal, ya repot. Begitu pun anjuran Rasulullah saw. agar memakan makanan yang halal karena makanan yang haram itu menghalangi diterimanya amal,” ucapnya.
Menurutnya, konsep yang disampaikan Imam Al-Ghazali memberikan pemahaman yang luar biasa. “Jangan main-main. Kita ingin tubuh kita tidak mau bergerak menuju kemaksiatan. Orang yang makan makanan haram, maka doanya juga sulit dikabulkan. Begitu pun makanan yang haram juga menjadi penghalang diterimanya amal. Mereka juga diancam neraka bagi yang makan makanan haram,” pungkasnya. [MNews/IK]
