[Kabar] Tokoh Muslimah Jabar Menyatukan Langkah Bersama untuk Perubahan

[Kabar] Tokoh Muslimah Jabar Menyatukan Langkah Bersama untuk Perubahan

Muslimah News, LENSA DAERAH — Jarak ratusan kilometer tidak menyurutkan langkah ratusan tokoh muslimah Jawa Barat menghadiri Dialog Syawal dan Temu Tokoh Perubahan yang bertajuk, “Bahagia di Tengah Derita, Saatnya Berubah”, Ahad (20-4-2025) di Kota Bandung, Jawa Barat.

Acara dimulai dengan pemutaran video tentang kondisi umat saat Ramadan yang mulia, tetapi tetap didera berbagai penderitaan. Muslim Gaza masih dalam teror genosida Zion*s, bahkan di momen Idulfitri.

Selanjutnya, ditayangkan gambaran permasalahan di Jawa Barat yang masih diliputi banyak masalah, seperti kemiskinan, kekerasan seksual, L68T yang sudah menyasar pelajar, dan lain-lain.

Peserta diberi kesempatan untuk menanggapi tayangan. ”Sedih melihat kondisi muslim di Palestina, sedangkan di sini kita dalam kondisi enak. Lalu kita harus bagaimana? Yang bisa kita lakukan adalah mendoakan, donasi, boikot, ikut seminar atau aksi tentang Palestina sebagai kepedulian terhadap saudara kita di sana,” ujar Rini sebagai praktisi pendidikan.

Tanggapan berikutnya disampaikan oleh Ibu Ikeu selaku penggerak di organisasi keislaman. “Kita harus mengubah keadaan, Rasulullah ﷺ juga dahulu begitu, mengubah dari kegelapan menuju cahaya,” tukasnya.

Caranya, ia melanjutkan, menyadari ada masalah, mencari tahu akar masalah, serta memberikan solusi dengan Islam.

Khairu Ummah

Ustazah Hj. Ummu Aiman sebagai salah satu narasumber di acara itu memaparkan materi ”Khairu Ummah: Konstruksi Umat Islam yang Ideal”. Menurutnya, umat saat ini berada dalam kondisi tidak ideal karena ruang hidupnya dinaungi sistem kapitalisme.

”Banyak sekali kesulitan, penyimpangan. Sekularisasi membuat kita bertentangan dengan format kita sebagai muslim, akhirnya muslim mengalami disorientasi. Identitas kita adalah khairu ummah, sebaik-baiknya umat. Ruang hidup kita sebagai khairu ummah adalah dengan penerapan Islam kafah,” tegasnya.

Ia juga memberikan gambaran kehidupan di bawah naungan Khilafah ‘ala minhajin nubuwah yang seharusnya menjadi ruang hidup untuk umat Islam. ”Dalam Khilafah akan terjadi harmoni antara sosok pemimpin dan sistem aturan sehingga melahirkan kegemilangan peradaban,” ujarnya.

Islam, lanjutnya, punya sistem baku yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, sistem yang menegakkan seluruh aturan Allah dengan sempurna yang mampu membangun peradaban manusia terbaik.

”Kekuasaan dalam kepemimpinan Islam bukan tujuan, tetapi yang menjadi tujuan dalam kepemimpinan Islam adalah mewujudkan ketaatan kepada Allah,” tandasnya.

Alami

Ustazah Siti Nafidah Anshory sebagai narasumber kedua menyampaikan pemaparan bertema  ”Langkah Sinergi Menuju Perubahan Hakiki”. “Berpikir tentang perubahan adalah sesuatu yang alami dan penting,” ungkapnya.

Pasalnya, ia menjelaskan, orang mau berubah karena sadar ada masalah dan tahu akar masalahnya, kemudian paham kondisi seharusnya atau kondisi ideal yang nanti akan menjadi visi perubahan.

“Yang tidak kalah penting adalah tahu peta jalan perubahan. Dalam konteks perubahan, kita harus mengikuti thariqoh (metode) dakwah Rasulullah ﷺ,” tukasnya.

Menurutnya, perubahan masyarakat adalah sebuah keniscayaan. “Sebagai umat Islam wajib mengoptimalkan peran kita sebagai hamba untuk senantiasa taat kepada-Nya. Bagi kita, perubahan global menuju tegaknya Islam kafah dalam naungan Khilafah di era akhir zaman ini adalah kesempatan untuk meraih kemuliaan tertinggi sebagaimana para sahabat Nabi ﷺ,” urainya.

Ia mengingatkan, agar berhati-hati dengan tawaran perubahan dalam sistem demokrasi. ”Kita tidak perlu mencari teori-teori lain karena Rasulullah ﷺ sudah memberikan contoh dan kita harus meneladan jalan perubahan Rasulullah ﷺ karena merupakan konsekuensi keimanan dan jaminan keberhasilan,” yakinnya.

Antusiasme peserta begitu terasa di sesi diskusi yang berlomba-lomba memberikan pertanyaan dan pernyataan. Tanggapan beragam muncul dari tokoh praktisi pendidikan, mahasiswi, peneliti, serta mubaligah, mulai dari menyatakan rasa bersyukur dan beruntung bisa hadir di acara ini, sampai pertanyaan-pertanyaan yang ingin mengupas materi secara lebih detail.

Langkah Bersama

Para tokoh pun bersepakat membuat langkah bersama. Di antara poinnya adalah menyadari indentitas muslim sebagai khairu ummah dengan melakukan amar makruf nahi mungkar.

Kemudian menyadari kondisi umat Islam saat ini yang sedang tidak baik-baik saja akibat tidak diterapkannya syariat Islam, maka para tokoh harus melakukan dakwah dengan mengubah pemikiran umat sesuai ajaran Rasulullah ﷺ.

Mendekati penghujung acara, video penutup diputar, para peserta tokoh disuguhi gambaran bagaimana kehidupan pada masa Khilafah yang gemilang, kemudian dibandingkan dengan realitas umat saat ini, terkhusus kondisi umat di Palestina yang masih digempur oleh zionis.

Acara ditutup dengan pembacaan doa, para peserta khusyuk dalam munajat memohon ampun atas jauhnya umat dari syariat Allah dan berpaling kepada sistem yang justru menjauhkan umat dari keberkahan dan ampunan dari Allah. [MNews/Kontributor daerah: JNH/Jabar]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *