Muslimah News, NASIONAL — Mengulas istilah “perisai” atau junnah yang berkaitan dengan puasa dan kepemimpinan, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan, memang dalam kehidupan, harus ada pengontrol atau pelindung. Hal ini ia sampaikan dalam Fokus to The Point: “Puasa Itu Perisai, di Mana Perisai Umat?” di UIY Official, Rabu (9-4-2025).
“Puasa itu sangat penting menjadi perisai agar kita bisa menahan diri dari semua nafsu. Secara fisik, puasa itu membuat kita menurun, tetapi meningkat secara spiritual,” jelasnya.
Di sisi lain, imbuhnya, disebutkan juga dalam hadis bahwa innamal imamul junnah (pemimpin adalah perisai). “Itu penting. Misalnya, pada masa sekarang kita dihadapkan pada serangan budaya, politik, pemikiran, bahkan juga fisik dan militer sebagaimana yang terjadi pada saudara kita di Palestina yang harus dihadapi secara fisik pula,” ujarnya.
Hanya saja, sambungnya, umat Islam sudah punya pemimpin, tetapi kenapa belum bisa melindungi? “Justru itu akan mengonfirmasi, apakah pemimpin yang ada ini hari memang imam dalam pengertian hadis tadi?” tanyanya retorik.
Tiga Kriteria
Jadi, ia menerangkan, imam yang dimaksud adalah imam yang dipilih umat untuk mengemban kepemimpinan Islam yang memiliki tiga kriteria. “Pertama, menjaga persatuan umat. Kedua, yang memimpin pelaksanaan syariat secara kafah. Ketiga, yang melanjutkan misi utama Nabi saw., yaitu mengembangkan dakwah ke seluruh penjuru alam,” perincinya.
Namun, dalam pandangannya, saat ini pemimpin yang ada itu alih-alih mempersatukan, yang ada malah mempertahankan keterpecahan.
“Buktinya ketika diajak bersatu, mereka malah menyerang yang menyerukan persatuan. Kemudian untuk menerapkan syariah, buktinya mereka melanggar syariat, bahkan mengkriminalkan perjuangan syariat Islam dan mengkriminalkan mereka yang hendak memperjuangkan tegaknya syariat. Berikutnya, ahli-alih mendakwahkan Islam, yang ada malah mendakwahkan sesuatu selain Islam dengan mengizinkan aneka paham masuk ke negeri-negeri muslim,” paparnya.
Padahal, ungkapnya, fungsi utama kekuasaan dalam pandangan Islam adalah mengatur dunia atau mengatur kehidupan masyarakat dengan agama. “Hari ini, justru agama yang diatur, agama menjadi objek. Akibatnya agama kehilangan fungsi utamanya dalam konteks penataan kehidupan masyarakat dan negara untuk menyelesaikan problem kehidupan manusia,” sesalnya.
Yang terjadi selanjutnya, ia menuturkan, problem kehidupan manusia diatasi dengan cara-cara yang tidak benar. “Alih-alih selesai masalah yang ada, justru timbul masalah baru,” ujarnya.
Bukan Utopis
Ia juga meyakini bahwa menegakkan kepemimpinan Islam atau Khilafah bukan sesuatu yang utopis. “Sulit iya, tapi bukan utopis karena tidak ada yang mudah dalam meraih cita-cita. Semakin tinggi, itu semakin sulit,” ungkapnya.
Apalagi faktanya, ia menambahkan, kepemimpinan Islam ini ada dasar secara teologis, normatif, juga historis. “Artinya, ini pernah terwujud. Negara Yahudi yang tidak punya dasar sama sekali saja, ingin bisa terwujud,” ucapnya.
Ia menegaskan, seharusnya yang muncul dari seorang muslim adalah pemahaman bahwa kepemimpinan Islam ini sesuatu yang mungkin. “Terlebih lagi ini ajaran dan kewajiban sehingga harus diperjuangkan. Tidak mungkin Allah Swt. mewajibkan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Meskipun, ini memang memerlukan waktu, tenaga, dan sebagainya,” pungkasnya. [MNews/RA]
