Penulis: Dr. Rini Syafri
Muslimah News, FOKUS — Kendati mencegah lebih baik daripada mengobati, tetapi nyatanya kapitalisme gagal melakukannya. Hal ini tampak dari tingginya angka kesakitan berbagai penyakit secara persisten, demikian juga angka kematian. Ini karena konsep upaya kesehatan bukan sekadar persoalan teknis kedokteran, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kehidupan, baik konsep preventif maupun kuratif.
Ide industrialisasi kesehatan dan karakter kebijakan negara, berikut sistem kehidupan sebagai determinan sosial kapitalisme, hanyalah pabrik berbagai faktor pemicu kerusakan kesehatan. Termasuk tentunya konsep preventif skrining kesehatan—yang di Indonesia dipopulerkan dengan sebutan pemeriksaan atau cek kesehatan gratis (CKG).
Bagaimana konsep upaya kesehatan yang ideal agar masyarakat yang hari ini sakit-sakitan menjadi sehat? Mengapa kehadiran peradaban Islam begitu urgen? Tulisan ini mencoba menjawabnya.
Harapan Indah
Skrining kesehatan adalah konsep preventif kapitalisme yang usianya hampir seumur keberadaan peradaban kapitalisme itu sendiri. Kini, dipopulerkan pemerintah dengan sebutan Program CKG dengan sejumlah sinonimnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan skrining kesehatan sebagai berikut, “Dugaan identifikasi penyakit yang tidak dikenali secara nyata pada orang sehat dan populasi tanpa gejala melalui tes, pemeriksaan, dan/atau prosedur lain yang dapat diterapkan dengan cepat dan mudah menjangkau populasi sasaran.”[i] Lebih ringkas didefinisikan sebagai, “Tes medis atau prosedur pada mereka tidak menunjukkan gejala dan mengidap penyakit tertentu.”[ii]
Sejalan dengan definisi di atas, skrining kesehatan memiliki sejumlah tujuan. Di antaranya, pertama, mengurangi angka kematian melalui deteksi dini dan pengobatan dini terhadap suatu kondisi. Kedua, mengurangi kejadian suatu kondisi dengan mengidentifikasi dan mengobati prekursornya. Ketiga, mengurangi keparahan suatu kondisi dengan mengidentifikasi orang-orang yang mengidap kondisi tersebut dan menawarkan pengobatan yang efektif. Keempat, untuk meningkatkan pilihan dengan mengidentifikasi kondisi atau faktor risiko pada tahap awal perjalanan hidup ketika lebih banyak pilihan tersedia.[iii]
Artinya, program skrining kesehatan CKG menjadikan kesehatan masyarakat yang tidak baik-baik saja, akan membaik. Ini sehubungan dengan program skrining menjadikan individu masyarakat yang sehat akan tetap sehat dan yang sakit dapat segera diobati hingga sembuh. Namun, akankah ini menjadi kenyataan?
Faktanya
Faktanya, skrining kesehatan sebagai konsep preventif justru dapat memperburuk kesehatan masyarakat. Pendapat ini termaktub dalam Policy Briefs yang dirilis WHO Regional Office for Euro dengan judul “Screening when is it appropriate and how can we get it right?” sebagai hasil observasi terhadap sejumlah bukti dan dokumen. Dinyatakan, “Skrining mungkin membawa manfaat, tetapi juga merugikan, sehubungan pengabaian gold standart oleh tekanan industrialisasi kesehatan, di samping intervensi sejak dini tidak efektif bahkan berbahaya.”2
Tidak berfaedahnya skrining kesehatan dalam memperbaiki kesehatan masyarakat yang sudah di titik nadir, baik dalam pengurangan angka kesakitan maupun kematian, juga ditegaskan kelompok kerja Choosing Wisely dari European Federation of Internal Medicine (EFIM) dalam hasil kajian mereka terhadap data Cochrane reviews, berupa 17 riset pada 2019 yang melibatkan 251.891pasien.[iv]
Bahkan, skrining kesehatan hanya membuang-buang waktu dan uang, sebagaimana pandangan sejumlah ahli kesehatan dunia, seperti Allan Goroll (Profesor kedokteran di Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital) dan Ateev Mehrotra (Profesor kebijakan perawatan kesehatan dan kedokteran di Harvard Medical School dan Beth Israel Deaconess Medical Center).[v]
Logis oleh Tiga Penyebab
Sungguh, Program CKG hanya akan berujung ilusi. Hal ini sangat logis dikarenakan setidaknya tiga perkara berikut. Pertama, industrialisasi dan komersialisasi kesehatan yang terbukti telah mencederai kesehatan masyarakat, menjadi spirit Program CKG. Tampak dari pelaksanaan program skrining yang dilangsungkan dalam bingkai sistem kesehatan yang diindustrialisasi sehingga terkooptasi oleh kepentingan bisnis korporasi yang bergerak di bidang kesehatan.
Misalnya, bisnis asuransi wajib BPJS Kesehatan, fasilitas kesehatan; serta multinasional korporasi farmasi dan alat kesehatan, khususnya teknologi molekuler. Sementara itu, industrialisasi kesehatan diakui mengakibatkan pelaksanaan skrining kesehatan menyalahi standar sehingga membahayakan kesehatan bahkan nyawa masyarakat. Dari segi fasilitas kesehatan saja Indonesia masih kekurangan ribuan fasilitas kesehatan.
Kedua, begitu rapuhnya sistem kesehatan yang membingkai pelaksanaan Program CKG. Tampak dari ketersediaan fasilitas kesehatan, peralatan kedokteran dan dokter, serta para ahli yang dibutuhkan bagi pelaksanaan Program CKG.
Ketiga, kebijakan pemerintah di luar sektor kesehatan maupun di sektor kesehatan itu sendiri yang merupakan determinan sosial kesehatan, justru menjadi pabrik faktor pemicu kerusakan kesehatan masyarakat. Hal ini tampak dari banyak fakta dan studi, salah satunya riset bertajuk “Social Determinants of Health and Uncontrolled Blood Pressure in a National Cohort of Black and White US Adults: the REGARDS Study”.[vi] Riset ini menunjukan pengidap tekanan darah yang tidak terkontrol adalah kelompok masyarakat dalam kondisi termarginalkan secara sosial dan ekonomi. Di sisi lain, sekularisasi dan kapitalisasi makin menjauhkan masyarakat dari pola hidup sehat.
Apabila ditelisik, akar masalah buruknya kesehatan masyarakat hari ini bukanlah sekadar persoalan teknis medis. Lebih dari itu, ini akibat perkara mendasar dan bersifat paradigmatis, khususnya pandangan kapitalisme bahwa kesehatan adalah persoalan ekonomi dan objek industrialisasi yang mana negara hadir memfasilitasi perkara berbahaya ini. Alhasil, industrialisasi kesehatan menjadi spirit dalam merumuskan konsep upaya kesehatan, baik upaya kuratif maupun preventif, dalam hal ini konsep skrining kesehatan.
Ketika dikaji secara mendalam dan menyeluruh, semua itu tidak terlepas dari kebijakan negara pada determinan sosial kesehatan kapitalisme. Sektor nonkesehatan dan kesehatan hanyalah pabrik faktor pemicu kerusakan kesehatan. Semua itu berakar pada keberadaan sistem kehidupan sekuler, khususnya sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme, sekaligus sebagai aspek fundamental nonklinis perjalanan penyakit.
Urgensi Kehadiran Islam
Kesehatan adalah persoalan insan. Agar kesehatan setiap orang terpelihara sepanjang hayatnya, dibutuhkan kehadiran Islam dalam upaya kesehatan, baik dalam rumusan konsep preventif maupun kuratif.
Allah Swt. berfirman, “Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” (QS An-Nahl: 86).
Dalam Islam, perkara preventif begitu dipentingkan sehingga setiap insan yang sehat tetap sehat, dan bahwa kesehatan adalah kebutuhan pokok. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang di pagi hari aman kelompoknya, sehat badannya, yang padanya ada makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia dalam kekuasaannya.” (HR At-Tirmidzi).
Kesehatan juga didudukkan sebagai nikmat terbaik sesudah nikmat keimanan. Sabdanya, “Mintalah kepada Allah Swt. kesehatan karena sesungguhnya sebaik-baiknya nikmat sesudah keimanan adalah sehat.” (HR Ibnu Hibban).
Lazimnya kebutuhan pokok, maka apabila tidak dipenuhi akan berakibat kesengsaraan dan penderitaan, dan perkara ini terlarang dalam Islam. Rasulullah saw. menegaskan, “Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (HR Ahmad).
Peradaban Islam, Fondasi Upaya Preventif
Kunci terpeliharanya kesehatan setiap individu masyarakat sepanjang hayat adalah terpenuhinya hajat hidup mereka, baik fisik maupun nonfisik. Nilai moral, insani, materi spiritual yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, hadir secara serasi.
Dengan kehadiran Islam, pemenuhan hajat hidup insan adalah niscaya. Determinan sosial kesehatan Islam dicirikan oleh kebijakan negara (baik dalam maupun luar sektor kesehatan) dirumuskan untuk tujuan keberadaan masyarakat Islam hingga puncaknya, berupa terjaganya jiwa, akal, harta, keturunan, agama, dan negara.
Pada saat yang sama, masyarakat dalam peradaban Islam menjalankan aktivitas kehidupan terikat dengan hukum syarak dengan dorongan ketaatan kepada Allah Taala. Pada gilirannya, hal ini menjadikan gaya hidup sehat yang merupakan aspek preventif mendasar sebagai “life style” masyarakat secara keseluruhan. Inilah konsep preventif yang pokok, yakni peradaban Islam itu sendiri.
Konsep Upaya Preventif yang Sahih
Konsep preventif dalam Islam adalah satu-satunya konsep yang meniscayakan terpeliharanya kesehatan setiap insan sepanjang hayatnya karena distandarkan pada tiga perkara berikut.
Pertama, sebagaimana konsep upaya kesehatan secara umum, konsep preventif dirumuskan berdasarkan sejumlah pandangan Islam yang sahih tentang kesehatan. Bahwa kesehatan merupakan kebutuhan pokok publik yang pemenuhannya dijamin langsung oleh negara, di samping sebagai anugerah terbaik sesudah nikmat iman yang kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah Taala.
Kedua, steril dari unsur industrialisasi kesehatan dan dilangsungkan dalam bingkai sistem kesehatan Islam yang tangguh. Berupa sentralisasi dalam kekuasaan dan desentralisasi pada aspek teknis administrasi, di samping konsep sahih pembiayaan yang berbasis baitulmal.
Walhasil, segi kualitas dan kuantitas akan memadai dalam segala aspek yang dibutuhkan. Mulai dari keberadaan fasilitas kesehatan, hingga obat-obatan, peralatan kedokteran, dan para ahli dan pakar. Ketersediaannya pun mencapai pelosok negeri. Oleh karenanya, meskipun gratis, tetapi berkhasiat sebagai pencegah dan mudah untuk diakses.
Ketiga, sebagai bagian yang padu dengan peradaban Islam yang bersifat penyejahtera. Sistem ekonomi maupun sistem politiknya memampukan negara menjamin terpenuhinya hajat hidup asasi setiap insan. Juga dari aspek administrasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengacu pada tiga prinsip, yakni cepat dalam pelaksanaan, sederhana dalam aturan, dan dilakukan oleh individu yang kapabel.
Khatimah
Kehadiran peradaban Islam—dengan sifatnya sebagai penyejahtera—akan mensterilkan dan melenyapkan keberadaan berbagai faktor pemicu kerusakan kesehatan yang diproduksi peradaban sekuler kapitalistik hari ini.
Di sisi lain, sebagai pengurus urusan rakyat, negara tidak akan membuat kebijakan yang mencederai jiwa, akal, kehormatan, keturunan, agama, harta, dan negara. Ini karena determinan sosial kesehatan Islam otoritas tertinggi ada di tangan syarak, meski kekuasaan di tangan rakyat.
Penting dicatat, tidak sekadar konsep, Islam benar-benar telah membuktikan kemampuannya sebagai peradaban yang begitu manusiawi. Hal ini berlangsung selama puluhan abad dan mencakup hampir dua per tiga dunia.
Pada tataran inilah, kehadiran peradaban Islam pada abad ini adalah perkara urgen dan mendesak. Bukan saja untuk perkara kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, melainkan juga untuk kemuliaan hidup insan, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam ….” (QS Al-Isra’: 70). Wallahualam. [MNews/GZ]
[i] http://www.euro.who.int/en/about-us/partners/observatory/publications/policy-briefs-and-summaries Sagan, A., McDaid, D., Rajan, S., Farrington, J., and McKee, M. Policy Bief 35. Screening When is it appropriate and how can we get it right? World Health Organization Regional Office for Europe. 2020. Pdf. The WHO defines screening as “the presumptive identification of unrecognized disease in an apparently healthy, asymptomatic population by means of tests, examinations or other procedures that can be applied rapidly and easily to the target population”.
[ii] https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28613785/ “A health screening test is a medical test or procedure performed on members of an asymptomatic population or population subgroup to assess their likelihood of having a particular disease.”
[iii] http://www.euro.who.int/pubrequest World Health Organization Regional Office for Uerope. Screening programmes a short guide. WHO. 2020. The aims of screening programmes include:to reduce mortality by early detection and early treatment of a condition;to reduce the incidence of a condition by identifying and treating its precursors;to reduce the severity of a condition by identifying people with the condition and offering effective treatment; and to increase choice by identifying conditions or risk factors at an early stage in a life-course when more options are available.
[iv] Dipublikasikan oleh European Journal of Internal Medicine, Volume 109, March 2023, Pages 1—3, dalam artikel berjudul General health check-ups: to check or not to check? A question of choosing wisely.
[v] Pandangan itu disampaikan dalam artikel yang ditulis oleh keduanya dengan judul “Improving Value in Health Care-Against the Annual Physical” yang dipublikasi oleh The New England Journal of Medicine 15 Oktober 2015 (N Engl J Med 2015;373:1485-1487). Artinya, kalaupun ada faedahnya, sebagaimana dinyatakan dalam artikel bertajuk The Annual Physical: Delivering Value, hanyalah bersifat terbatas pada kalangan tertentu dan bersifat sementara. https://www.amjmed.com/article/S0002-9343(17)30095-5/fulltext. The American Journal of Medicine Volume 130, Issue 5p507-508 May 2017.
[vi] https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/HYPERTENSIONAHA.122.20219?cookieSet=1

Rezim medis konvensional kapitalis kolonial nyata dzalim, keji dan menjijikkan