Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Apakah para ulama itu tidak pernah membaca surat-surat yang dikirimkan oleh Rasulullah saw. kepada raja-raja dan para penguasa pada masanya? Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda dalam suratnya yang dikirimkan kepada Hireklius, penguasa Romawi, “Bismillahir rahmanirrahim, dari Muhammad, hamba Allah juga Rasul-Nya, kepada Hireklius penguasa Romawi. Salam sejahtera atas orang yang meniti petunjuk, amma ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu memeluk Islam. Islamlah, maka kamu selamat. Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali. Kalau kamu berpaling, maka kamu memikul dosa kaum Arisiyin.”
Allah Swt. berfirman, “Hai ahli kitab, marilah menuju kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah, kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”, jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS Ali Imran: 64).
Jadi, dakwah dan bantahan kita kepada mereka, tidak berarti kita mengakui agama mereka. Akan tetapi berarti bahwa kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka itu orang-orang kafir. Allah menyuruh mereka meninggalkan agama yang mereka peluk, lalu memeluk agama Islam.
Kemudian, kalau mereka berpaling dari dakwah ini, kita harus berani terang-terangan dalam menyeru mereka. Katakan kepada mereka, “Kami telah menyampaikan kepada kalian akan agama yang Allah telah menyuruh kami dengannya. Maka, kalian adalah orang-orang kafir, sedangkan kami adalah orang-orang Islam!”
Sedangkan firman Allah yang telah dijadikan argumentasi oleh sebagian mereka, yaitu firman-Nya, “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS Al-‘Ankabut: 46).
Mereka telah berpura-pura lupa dengan sisa ayat itu. Allah berfirman, “Kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (QS Al-‘Ankabut: 46).
Mereka tidak mendebat orang-orang kafir dengan cara yang paling baik. Apakah ada seseorang yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengekor kepada negara-negara kafir, yaitu mereka yang ikut serta dalam dialog antaragama? Bukankah orang-orang kafir itu telah merapatkan barisan untuk menghancurkan Islam dan kaum muslim?
Bukankah mereka itu yang telah membagi-bagi negeri-negeri kaum muslim menjadi institusi-institusi kecil yang lemah dan mereka telah menanam Israel menjadi pisau beracun di (Tanah) Suci negeri kaum muslim? Bukankah mereka yang memberi bantuan senjata dan harta kepada Israel untuk membunuh kaum muslim dan menduduki negeri-negeri mereka?
Bukankah mereka yang menopang kekuasaan pemerintah yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslim untuk membunuh dan menahan kaum muslim dengan mengatasnamakan melawan terorisme dan ekstremisme? Bukankah Paus yang pada hari itu berdialog dengan ulama muslim adalah Paus yang dahulu pernah mengeluarkan fatwa pada masa Paus Nikhalai pada akhir abad XIII Masehi? Fatwa itu berbunyi, “Sesungguhnya khianat adalah dosa, tetapi menepati janji dengan kaum muslim adalah lebih banyak dosanya.”
Bukankah mereka yang mencegah setiap penampakan bagi Islam di negeri-negeri mereka ketika mereka melarang wanita muslimah mengenakan pakaian syar’i, seperti jilbab di sekolah-sekolah dan mereka menyuruh wanita muslimah menanggalkan (pakaian) itu? Bagaimana ulama kaum muslim yang ikut serta dalam dialog antaragama bisa membayangkan bahwa mereka orang-orang kafir itu mau menerima akidah dan pemikiran Islam?
Sesungguhnya dialog itu tidak sebanding. Bahkan itu pemaksaan yang kuat atas yang lemah. Tujuannya adalah untuk membunuh semua sisa-sisa nafas terakhir orang yang lemah itu dari ikatan akidah Islam. Ini karena musuh lama, tetapi baru ini mengerti bahwa akidah Islam beserta pemikiran-pemikiran yang memancar darinya merupakan rahasia kekuatan kaum muslim.
Akidah itu adalah pembangkit yang agresif bagi mereka akan kebangkitan dari ketergelinciran. Dengan demikian, mereka akan kembali kepada sirahnya yang pertama, yaitu menaiki puncak kejayaan dan menduduki kedudukan negara super power di dunia. Ketika itu, musnahlah di hadapan mereka kekuatan kufur dan kaum kafir. Juga hancurlah berbagai kemaslahatan materi mereka dan ideologi kapitalismenya yang telah memuaskan syahwat-syahwat fisik dan keserakahan harta mereka di atas kemiskinan dan kelaparan mayoritas manusia di dunia.
Sesungguhnya dialog antaragama itu tidak menghubungkan kekerabatan pada pemahaman Islam yang benar yang telah merasuk ke dalam jiwa mayoritas kaum muslim. Sesungguhnya ulama yang ikut serta dalam dialog, baik yang mengekor atau yang mendapat bayaran, selalu berupaya agar kaum muslim menerima dengan dilaksanakannya dialog itu, juga menerima berbagai rekomendasi dan pemikiran yang dihasilkan dalam dialog. Tujuannya adalah untuk menghalangi kebangkitan kaum muslim dengan kebangkitan yang benar.
Oleh karenanya, berhati-hatilah dan waspadalah dari pemikiran-pemikiran buruk tersebut dan dari strategi licik yang dikemas dengan lafaz-lafaz tipuan yang manis dan memikat. Hendaklah orang-orang yang sadar dari umat ini, selalu siaga untuk menolak dengan tegas terhadap berbagai pemikiran dan sistem tersebut. Hendaklah mereka juga berdiri di hadapannya untuk memeranginya sehingga tidak sampai meresap ke dalam jiwa kaum muslim, yaitu mereka yang baru mulai meniti jalan kebangkitan yang benar.
Hendaklah meneliti titik tolak pemikiran dialog antaragama itu, juga meneliti sejarah dan para penggagasnya untuk mengungkap berbagai tujuan dan sasaran-sasarannya, lalu menjelaskan kepalsuannya. Selanjutnya berusaha menghadangnya dengan berbagai teknik yang terencana karena semua tadi merupakan pemikiran keji yang menimbulkan bahaya terhadap kaum muslim dan mencampuri akidah islamiah dengan kejelekan. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.
