Penulis: K.H. Rokhmat S. Labib
Muslimah News, TAFSIR AL-QUR’AN –
إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي ظِلَٰلٖ وَعُيُونٖ ٤١ وَفَوَٰكِهَ مِمَّا يَشۡتَهُونَ ٤٢ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيَٓٔۢا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٤٣ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٤٤ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ٤٥
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS Al-Mursalat: 41—45).
Tafsir Ayat
Allah Swt. berfirman: Inna al-muttaqîna fî zhilâl wa ‘uyûn (Sungguh orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan [yang teduh] dan [di sekitar] mata-mata air). Ayat ini memberitakan tentang keadaan kaum yang bertakwa.
Menurut Muqatil dan al-Kalbi, al-muttaqîn di sini adalah kaum yang menjaga diri dari syirik terhadap Allah Swt. Alasannya, surah ini dari awal hingga akhirnya berisi celaan bagi orang-orang kafir atas kekufuran mereka.1
Pendapat ini juga dikemukakan oleh Fakhruddin ar-Razi dan al-Baidhawi. Menurut al-Baidhawi, ini kebalikan dari orang-orang yang mendustakan.2
Namun, ada yang berpendapat, di samping menjauhi syirik juga mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Al-Jazairi berkata, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi syirik dan kemaksiatan.”3
Dikatakan pula, “Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dan menaati Dia dengan mengerjakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang.”4
Ibnu Katsir juga berkata, “Mereka adalah orang-orang yang menyembah Allah SWT dengan menunaikan semua yang Dia wajibkan dan meninggalkan semua yang Dia haramkan.”5
Demikian juga dengan Ibnu Jarir ath-Thabari. Mufasir tersebut menyatakan, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga diri mereka dari siksa Allah Swt. dengan menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya di dunia dan menjauhi larangan-Nya.”6
Fî zhilâl wa ‘uyûn
Disebutkan bahwa mereka di akhirat kelak fî zhilâl wa ‘uyûn. Kata zhilâl merupakan bentuk jamak dari kata zhill (naungan).7 Yang dimaksud dalam ayat ini adalah zhill al-asyjâr (naungan pepohonan). Demikian menurut al-Khazin.8
Menurut Abdurrahman as-Sa’di, disebabkan oleh pepohonan yang beraneka ragam dan bunga-bunga yang menawan.9
Menurut Imam al-Qurthubi dan asy-Syaukani, di samping zhill al-asyjâr (naungan pepohonan), zhill al-qawshûr (naungan istana). Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.:
هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ مُتَّكُِٔونَ ٥٦
“Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS Yasin: 56).10
Ini tentu berbeda dengan keadaan orang-orang yang celaka. Mereka pada Hari Kiamat berada di dalam naungan yahmum, yaitu asap hitam yang busuk baunya.11
Selain berada dalam naungan, mereka juga dalam ‘uyûn. Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata al-‘ayn (mata air). Menurut asy-Syaukani, yang dimaksud dengan al-‘uyûn di sini adalah al-anhâr (sungai-sungai). Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, itu adalah sungai-sungai yang mengalir di sela-sela pepohonan pada kebun-kebun mereka.12
Mata air itu ada yang berupa air, susu, khamr, dan madu.13
Kemudian dilanjutkan: Wa fawâkiha mimmâ yasytahûna (dan [mendapat] buah-buahan yang mereka inginkan). Ini adalah kenikmatan yang akan didapatkan oleh mereka di dalam surga. Mereka akan mendapatkan fawâkih. Kata tersebut merupakan bentuk jamak dari kata al-fâkihah (buah-buahan).
Disebutkan bahwa buah-buahan itu mimmâ yasytahûna (yang mereka sukai). Menurut al-Khazin, mimmâ yasytahûn berarti yataladzdzûna bihâ (mereka merasakan kelezatan buah itu).14
Ibnu Katsir berkata, “Yakni berbagai macam buah-buahan. Apa pun yang mereka inginkan, pasti mereka dapati.”15
Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Mereka makan di dalamnya setiap kali mereka inginkan tanpa merasa takut bahaya dan efek buruknya.”16
Al-Jazairi berkata, “Berbeda dengan di dunia. Manusia hanya makan makanan yang mereka dapati. Seandainya mereka menyukai suatu makanan dan mereka tidak mendapatkan, mereka tidak bisa memakannya. Di surga, ketika seseorang menginginkan sesuatu, maka dia akan mendapati dan memakannya. Ini rahasia yang terkandung dalam ungkapan dalam ayat ini: mimmâ yasytahûna (dari apa yang mereka inginkan).17
Dipersilakan untuk Makan dan Minum
Kemudian disebutkan: Kulû wa [i]syrabû ([Dikatakan kepada mereka]: “Makan dan minumlah kalian dengan enak karena apa yang telah kalian kerjakan”). Kalimat Kulû wa [i]syrabû merupakan amr ikrâm (perintah sebagai penghormatan), bukan amr taklîf (perintah sebagai taklif).18
Menurut Ibnu Katsir, ini dikatakan kepada mereka sebagai penghormatan dan perlakuan yang baik kepada mereka.19
Mereka dipersilakan untuk makan dan meminum sesukanya. Ibnu Jarir berkata, “Makanlah kalian semua buah-buahan ini dan minumlah dari mata air ini kapan kalian mau!”20
Dalam ayat disebutkan: hanîa[n] (dengan enak). Menurut Abdurrahman as-Sa’di, “Tanpa kotoran dan sesuatu yang mengeruhkan. Makanan tidak sempurna kelezatannya hingga makanan dan minuman itu aman dari mudarat dan kekurangan; dan hingga mereka yakni bahwa makanan itu tidak terputus dan tidak hilang.”21
Kemudian dinyatakan: bimâ kuntum ta’malûna (karena apa yang telah kalian kerjakan). Huruf al-bâ‘ di sini adalah li as-sababiyyah (untuk menyatakan sebab). Artinya, disebabkan oleh amal saleh yang kalian kerjakan di dunia.22 Perbuatan yang telah dikerjakan adalah ketaatan semasa di dunia.23
Menurut Abdurrahman as-Sa’di, “Amal perbuatan kalian itulah yang menjadi sebab yang mengantarkan kalian ke dalam Jannah al-Na’îm. Demikian pula semua orang yang melakukan kebaikan dalam beribadah kepada Allah Swt. dan kebaikan kepada sesama hamba-Nya.”24
Ibnu Jarir al-Thabari berkata, “Ini adalah balasan atas apa yang telah kalian kerjakan berupa ketaatan kepada Allah SWT dan kesungguhan kalian dalam melakukan taqarrub kepada-Nya.”25
Juga firman Allah Swt.: Innâ kadzâlika Najzî al-muhsinîn (Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik). Artinya, “Sebagaimana Kami membalas al-muttaqîn (orang-orang bertakwa), Kami juga akan membalas al-muhsinîn (orang-orang yang berbuat kebaikan)”. Demikian menurut al-Jazairi dan al-Zuhaili.26
Maksudnya, “Inilah balasan Kami terhadap orang-orang yang telah berbuat baik.” Asy-Syaukani berkata, “Balasan agung seperti ini akan Kami berikan kepada orang-orang melakukan perbuatan baik.”27
Allah Swt. berfirman: Wayl[un] yawmaidzi[n] li al-mukadzdzbîn (Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan). Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mendustakan berita Allah Swt. berkaitan dengan nikmat-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang bertakwa pada Hari Kiamat.28
Az-Zuhaili berkata, “Yakni azab dan kehinaan pada Hari Kiamat adalah bagi orang-orang yang mendustakan Allah Swt. dan para rasul-Nya.”29 Wallahualam. [MNews/Has]
Bersambung ke bagian 2/2
Catatan kaki:
1 Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 435
2 Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 780; al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Tawïl, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1998), 277
3 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktabah al-;Ulum wa al-Hikam, 2993), 498
4 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 497
5 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (tt: Dar Thayyibahm 1999), 301
6 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 143
7 Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhïth, vol. 10 (BeirutL Dar al-Fikr, 1420 H), 379
8 Al-Khazin, Lubâb al-Tanzîl fï Ma’ânì al-Ta‘wìl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 385
9 As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 905
10 Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 167; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 435
11 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol., 301
12 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143
13 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 497
14 Al-Khazin, Lubâb al-Tanzîl fï Ma’ânì al-Ta‘wìl, vol. 4, 385
15 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol., 301
16 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143
17 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 498
18 Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 325
19 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol., 301
20 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143
21 As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 905
22 Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 435
23 Al-Khazin, Lubâb al-Tanzîl fï Ma’ânì al-Ta‘wìl, vol. 4, 385
24 As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 905
25 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143
26 Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5, 498; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 331
27 Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 435
28 Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 143-144
29 Az-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 325
