Bersukacita Menyambut Datangnya Tamu Agung

Bersukacita Menyambut Datangnya Tamu Agung

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Marhaban yaa syahrul mubaarak! Alhamdulillah, tamu agung umat Islam tengah hadir di hadapan kita. Tamu agung yang Allah limpahkan banyak pahala di dalamnya, dipenuhi keberkahan, serta rahmat dan ampunan menghampiri umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Ialah Ramadan, bulan mulia yang memiliki keutamaan dalam setiap detik dan menitnya, dalam setiap siang dan malamnya. Bulan istimewa, bulan di mana pahala dilipatgandakan, pintu ampunan dan tobat dibuka seluas-luasnya. Allah membukakan pintu-pintu kebaikan bagi orang yang menginginkannya. Sudah seharusnya datangnya Ramadan ini disambut dengan penuh sukacita.

Bergembira dan Bersukacita

Sukacita dan kegembiraan sudah seharusnya ada dalam setiap keluarga muslim tersebab banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah saat Ramadan. Dijelaskan dalam sebuah hadis, “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Barang siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad).

Ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadan. Syekh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Hadis ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang saleh dengan datangnya Ramadan. Karena Nabi saw, memberi kabar kepada para sahabatnya mengenai datangnya Ramadan. Ini bukan sekadar kabar, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.”

Ibnu Rajab al-Hambali dalam buku Ahaditsush Shiyam menjelaskan, “Bagaimana tidak gembira? Seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu? Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan)?”

Dengan banyaknya keistimewaan Ramadan ini, maka sudah selayaknya setiap muslim menyambutnya dengan bersukacita dan bersemangat. Wajar jika ada yang mengibaratkan datangnya Ramadan itu seperti datangnya tamu agung yang sangat dinantikan sehingga setiap muslim harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan saksama.

Hendaknya seorang muslim juga khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadan. Ini karena Ramadan adalah karunia Allah dan seorang muslim harus bergembira karenanya. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58).

Bersiap Diri Menyambut Tamu Agung

Demikianlah keistimewaan dan pentingnya Ramadan. Tentu saja kita harus mempersiapkan dengan baik sehingga tidak terjebak kepada puasa yang sia-sia. Rasulullah saw.telah mengingatkan kita dengan sabdanya, “Berapa banyak orang yang berpuasa, hasil yang diperoleh dari puasanya hanyalah lapar dan hausnya; dan banyak orang yang melakukan salat malam (Tarawih), tetapi sebenarnya bergadang saja.” (HR Ath-Thabrani).

Kekhawatiran Rasulullah saw. ini seharusnya menyadarkan kita semua agar tidak terjebak dalam rutinitas, tren tahunan yang sekadar menahan lapar dan haus, dengan aksesori-aksesori yang hampa makna. Lantas, apa yang harus kita persiapkan?

Pertama, luruskan niat dan kuatkan komitmen.

Berhasilnya sebuah harapan dan cita-cita sangat tergantung pada niat dan komitmen. Oleh karena itu, hal pertama yang harus ditancapkan dalam diri adalah meluruskan niat dan menguatkan komitmen untuk bisa meraih kebaikan pada bulan mulia ini. Sudah selayaknya kita menguatkan kembali komitmen bahwa semua amal yang kita kerjakan semata karena dorongan keimanan kepada Allah Taala, sebagai wujud ketaatan kita atas perintah-Nya.

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang berpuasa saat Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya pada masa lalu pasti diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kita juga harus berkomitmen bahwa Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, menambah amal saleh, membersihkan segala kesalahan, serta bertobat untuk kembali kepada jalan kebaikan.

Kuatkanlah harapan bahwa amal kita saat Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya, tidak akan membuat dan mengulangi kesalahan yang telah dibuat. Awali Ramadan ini dengan jiwa yang bersih, niscaya kita akan menjalani semua aktivitas kebaikan saat Ramadan dengan ikhlas dan terasa ringan. Alhasil, sebelum memasuki bulan mulia ini, hendaklah kita berserah diri, meluruskan niat, dan bertobat kepada Allah Taala.

Kedua, mempelajari kembali ilmu dan hukum-hukum seputar Ramadan.

Aktivitas saat Ramadan adalah aktivitas istimewa. Sudah seharusnya ketika Ramadan tiba, kita mempelajari kembali hukum-hukum seputar puasa dan berbagai amalan yang disyariatkan Allah saat Ramadan. Dengan belajar, kita tidak akan ketinggalan satu peluang kebaikan sedikit pun, di samping itu harus pula diwaspadai bahwa amal tanpa ilmu bisa berujung pada kesia-siaan (lihat QS Al-Kahfi ayat 103—104).

Terkait Ramadan, banyak ilmu dan hukum-hukum yang harus kita kuasai, seperti tentang penentuan awal dan akhir Ramadan, fikih seputar puasa, juga amaliah Ramadan. Termasuk yang harus dipahami adalah tentang syarat wajib dan sahnya puasa, apa-apa saja yang membatalkan puasa.

Selain ilmu seputar pelaksanaan puasa, kita juga perlu menyiapkan terkait amal apa saja yang disunahkan dikerjakan di bulan penuh berkah ini. Seperti makan sahur dan mengakhirkannya, menyegerakan berbuka, menahan lisan dari perkataan tidak berguna, memperbanyak sedekah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, memohon surga, dan berlindung dari siksa neraka terutama di 10 hari terakhir, zakat fitrah, menggapai Lailatulqadar, iktikaf, serta amalan apa saja yang dilakukan di Idulfitri nanti.

Ketiga, mempersiapkan keluarga.

Keluarga menjadi faktor penting agar pelaksanaan amal saat Ramadan bisa berjalan optimal. Terlebih jika ada anggota keluarga yang akan menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya atau yang baru belajar berpuasa, tentunya membutuhkan dukungan dan perhatian dari anggota keluarga lainnya.

Jika seluruh anggota keluarga sukacita menyambut Ramadan dan berusaha meraih kemuliaannya, tentu akan memudahkan tercapainya berbagai target yang keluarga tetapkan. Bagaimanapun, aktivitas saat Ramadhan tidak sama dengan hari-hari biasa. Oleh karenanya, dengan mempersiapkan seluruh anggota keluarga, aktivitas saat Ramadan ini akan benar-benar dipenuhi keberkahan.

Tentu saja, peran seorang ibu sangat penting dalam memberikan suasana yang kondusif pada keluarga. Mulai dari memahamkan makna puasa, mendidik dan mengajari anak berpuasa, mengajarkan amal kebaikan, mengajarkan bersabar dalam setiap kesempatan, membangunkan sahur, menyediakan hidangan untuk sahur dan berbuka, dan sebagainya. Demikian pula ayah dan anggota keluarga yang lebih besar, bisa bekerja sama sehingga aktivitas yang keluarga lakukan akan terasa lebih ringan.

Kemuliaan Ramadan akan makin menguatkan tali persaudaraan dengan anggota keluarga dengan melakukan kegiatan bersama. Dapat dibayangkan, kebersamaan kita dalam keluarga akan menumbuhkan sikap saling sayang dan menghormati yang lebih kuat di antara anggota keluarga.

Keempat, menyusun berbagai program dan aktivitas.

Untuk mengoptimalkan kesempatan istimewa ini, sudah seharusnya kita menyusun rencana aktivitas dan target capaiannya. Program bersama keluarga juga lebih berpeluang lebih banyak dilakukan, seperti tadarus Al-Qur’an, kultum bergantian selepas salat Subuh berjemaah, belajar bahasa Arab, ataupun baca kitab atau kajian rutin bersama. Ini semua bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga yang sebelumnya mungkin memiliki aktivitas masing-masing sehingga sulit bertemu dalam satu waktu.

Selain itu, sebagai pengemban dakwah, penyusunan program tentu saja menjadi hal yang sangat penting. Pasalnya, Ramadan menjadi saat yang paling spesial. Ini karena pada bulan ini, umat pada umumnya berada pada tingkat girah Islam yang tinggi. Alhasil, kecermatan para pengemban dakwah untuk menangkap dan menyalurkan girah Islam tersebut sangat diperlukan.

Inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak umat kembali ke jalan Allah Swt. dan memuliakan agama-Nya. Menjadi agenda kita untuk menyadarkan umat tentang permasalahan besar yang dialami kaum muslim, yaitu tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah dan tidak adanya junnah, perisai kaum muslim, yaitu Khilafah.

Kelima, meningkatkan kualitas diri.

Menjelang Ramadan, persiapkan diri untuk meningkatkan kualitas diri kita. Alokasi waktu yang berbeda dibandingkan hari-hari di luar Ramadan juga harus dimanfaatkan oleh para pengemban dakwah untuk merancang berbagai aktivitas sehingga kemampuan kita makin baik dalam berbagai hal.

Misalnya, berusaha memperkaya tsaqafah dan kemampuan untuk berdakwah dengan memperbanyak membaca buku, menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis Rasulullah, hingga berguru untuk mempelajari berbagai tsaqafah Islam semisal memperdalam bahasa Arab.

Kita juga bisa mengupayakan untuk hadir di majelis-majelis ilmu yang ada di sekitar. Tentu saja semua ini membutuhkan perencanaan matang agar saat Ramadan tiba, kita tinggal menjalankan dan mengevaluasi, targetnya telah terpenuhi ataukah belum.

Keenam, memperbanyak doa.

Hal penting lainnya yang harus kita persiapkan jelang Ramadan ini adalah memperbanyak berdoa kepada Allah agar sampai usia kita hingga akhir Ramadan dan Allah berkenan memberi kesehatan, kemudahan, kelancaran serta keberkahan bagi kita dalam menjalankan semua amal kebaikan di bulan mulia ini dan juga di bulan-bulan selanjutnya.

Selain itu, dengan banyak memanjatkan doa, kita makin dekat kepada Allah Swt. dan hal ini insyaallah akan makin menguatkan dan menyemangati kita dalam menyambut dan menjalani Ramadan.

Allah Swt berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186).

Selain itu, doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga doa yang tidak tertolak, yaitu doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

Demikianlah, sudah seharusnya kita bersukacita menyambut tamu agung bagi umat Islam ini, yakni Ramadan bulan penuh kemuliaan dan keberkahan. Kegembiraan kita menyambut Ramadan tentu harus kita iringi dengan persiapan matang sehingga kita bisa menjalaninya dengan penuh makna.

Semoga kita dapat melaluinya dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan rida Allah Taala. Semoga Allah berkenan memberikan kesehatan dan kita dapat meningkatkan kualitas takwa dan memudahkan semua urusan kita. Allahumma sallimnaa fii Ramadhan, wa sallim Ramadhana liy, aamiin. [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *