Muslimah News, INTERNASIONAL— Menyoroti peristiwa runtuhnya Khilafah, 28 Rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924, aktivis dakwah Salah Eddine Adadah menyampaikan, sejak itu umat Islam telah mengalami berbagai tragedi dan kekalahan, mulai dari pembagian tanah, penjarahan kekayaan, pembunuhan anak-anak, olok-olokan terhadap kesuciannya, hingga serangan terhadap syariat Islam.
“Namun, saat ini Khilafah makin dekat untuk kembali. Ar-rayah (panji)-nya siap berkibar sekali lagi di atas tanah kaum muslim. Bahkan, kita hidup pada masa yang mengingatkan kita pada malam ketika penduduk Madinah berunding satu sama lain, sepakat bahwa sudah tiba saatnya untuk berbaiat kepada Rasulullah Muhammad saw. sebagai pemimpin politik dan kepala negara,” ungkapnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Selasa (28-1-2025).
Ia menilai, ini adalah momen yang tengah dialami umat saat ini. “Umat berpikir dan berhitung, merenungkan diri, serta mengukur kemampuannya. Lalu memandang dunia dan mengevaluasi kekuatannya. Umat merasa optimis sekaligus khawatir, bertanya pada diri sendiri, ‘Bisakah menyatakan Islam sebagai proyek politik? Atau haruskah menyesuaikan diri dengan Barat dan para anteknya?’,” urainya.
Ia menerangkan, Barat dan para anteknya mengancamnya dengan kemiskinan, blokade, dan kematian. “Namun, umat Islam terus-menerus bersuara di lapangan-lapangan umum, menyerukan kembalinya Islam. Mereka menginginkan cara hidup islami, tetapi ragu-ragu untuk membuat keputusan yang tegas,” ujarnya.
Hal ini, ulasnya, telah terbukti di Syam setelah jatuhnya rezim kriminal Bashar Assad. “Sejak saat pertama, kita melihat seluruh Barat merasa khawatir, berulang kali bertanya kepada orang-orang Syam, ‘Apakah kalian akan menerapkan syariat Islam? Apakah kalian akan mendirikan Khilafah?’,” ungkapnya.
Tidak Terbatas di Syam
Menurutnya, yang terpenting adalah hal ini tidak terbatas pada masyarakat Syam. “Seluruh umat Islam memperhatikan masyarakat Syam, berpikir bersama mereka, dan berdiskusi dengan mereka. Hal ini telah memenuhi platform media sosial dengan diskusi di antara putra dan putri umat di seluruh dunia saat mereka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritis ini,” bebernya.
Jadi, ia mempertanyakan, akankah umat Islam—bukan hanya penduduk Syam—memutuskan untuk mendukung Islam dan menegakkannya meskipun kekayaan berkurang dan para tokohnya terbunuh? Atau, lanjutnya, akankah mereka menundanya?
“Sejak Arab Spring, Taufan al-Aqsa, dan jatuhnya rezim pembunuh di Syam, rintangan terhadap kembalinya Khilafah terus berkurang. Proyek-proyek nasionalis telah kehilangan dukungan umat dan kini rakyat Syam menyambut kembalinya Islam ke dalam kurikulum pendidikan meskipun telah 60 tahun berada di bawah pemerintahan sekuler,” paparnya.
Dengan setiap peristiwa baru tersebut, ulasnya, umat Islam makin menjauh dari ide-ide Barat dan berusaha untuk mendapatkan kembali identitasnya melalui konsep-konsep Islam.
“Terlebih lagi, dalam setiap peristiwa besar yang berdampak pada umat, gagasan batas-batas Sykes-Picot goyah ketika dihadapkan pada konsep penghapusan batas-batas, seperti yang ditunjukkan dengan jelas dalam perang di Gaza, jatuhnya tiran di Syam, dan perayaan yang menandai berakhirnya agresi di Gaza,” ujarnya.
Ia berpendapat, hambatan yang tersisa untuk menegakkan Khilafah kini hanyalah sisa-sisa. “Bagi yang memahami akan tahu bahwa yang memisahkan umat Islam dari tegaknya Khilafah tidak lebih dari keputusan-keputusan penting sebagaimana dibuat kaum Ansar pada saat mereka memilih untuk hidup demi keridaan Allah dan mati demi mengejar Jannah-Nya,” ujarnya mengutip QS Al-An’am:3, “Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.”
Menegakkan Khilafah
Dalam hal ini, ia menyatakan, terdapat kelompok dakwah ideologis internasional yang mengulurkan tangannya kepada umat dan seluruh pasukannya untuk bekerja sama dalam menegakkan Khilafah Rasyidah kedua berdasarkan metode kenabian.
“Kelompok dakwah ini telah menyiapkan apa yang diperlukan untuk itu. Jadi bekerjalah bersamanya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir kita memperingati hari kehancuran Khilafah. Tahun depan, dengan izin Allah, kita mulai merayakan kembalinya Khilafah setiap tahun,” tutupnya. [MNews/RA]
