Tanggung Jawab Umat terhadap Palestina Adalah kepada Allah Swt.

Tanggung Jawab Umat terhadap Palestina Adalah kepada Allah Swt.

Penulis: Sulistiawati Ummu Salamah

Muslimah News, FOKUS — Kekejaman Zion*s Yahudi terhadap warga Gaza telah berlangsung selama 16 bulan sejak operasi “Badai Al-Aqsha”. Korban syahid melebihi 46.000 jiwa, korban luka lebih dari 100.000, dan sekitar 11.000 korban hilang diduga tertimbun reruntuhan. Kesedihan, luka, dan pilu sudah menjadi biasa. Bayangkan, setiap hari ada saja korban berjatuhan. Lama kelamaan umat mulai melupakan tragedi ini atau menganggapnya peristiwa biasa. Mungkinkah umat akan melupakan Palestina?

Jawaban pertama, mungkin saja umat ini melupakan masalah Palestina. Ini bisa terjadi karena umat menyerahkan solusi masalah ini pada Barat. Solusi dua negara (two-nation state) seakan-akan solusi benar dan tepat. Padahal, nyatanya ini tidak memberikan solusi karena artinya penjajahan tetap dilegalkan untuk tinggal di tanah umat Islam.

Bohongnya lagi, hingga saat ini Palestina nyatanya tidak kunjung diberikan kepastian sebagai sebuah negara. Ketika umat ini percaya pada solusi ini, maka seakan-akan sudah selesai urusan umat Islam, dan lama kelamaan umat akan melupakan Palestina yang sedang terjajah.

Jawaban kedua adalah umat Islam tidak mungkin melupakan Palestina karena berbicara Palestina berarti berbicara soal tanah yang diberkahi oleh Allah Swt. dengan peristiwa Isra Mikraj. Tempat yang dipilihkan hingga Rasulullah saw. secara nyata diperjalankan oleh Allah Swt. ke negeri ini.

Secara keimanan, kita meyakini bahwa ini adalah tempat yang harus dijaga dan dipelihara oleh umat Islam. Inilah sebabnya pembebasan Palestina menjadi prioritas para khalifah rasyidah agar masuk ke dalam kekuasaan umat Islam. Penjajah Yahudi itu, sejatinya harus hengkang, pergi, dan dikalahkan.

Dengan kata lain, melupakan Palestina dalam kondisi dijajah, pertaruhannya adalah akidah kita. Umat Islam yang mencintai keimanannya, sejatinya tidak pernah akan melupakan masalah Palestina yang terjajah ini.

Klaim Zion*s Yahudi, Ini Adalah Pembelaan Diri

Di sisi lain, ada anggapan bahwa Yahudi Zion*s ini hanya membela diri. Barat mendukung klaim ini. Jelas ini adalah klaim dusta karena hadirnya Yahudi di Palestina adalah hasil konspirasi Inggris melalui Deklarasi Balfour (1917) dan pengakuan internasional pada 1948. Padahal, ini adalah peristiwa pencaplokan tanah umat Islam.

Palestina adalah tanah kharajiyah yang dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. dan tidak boleh ada Yahudi yang tinggal di sana. Pemerintah Inggris, lewat Deklarasi Balfour tadi, menyatakan dukungannya kepada konglomerat sekaligus pimpinan komunitas Yahudi di Inggris, Lord Rotschild, untuk masuk ke Palestina. Pada 1948, negara-negara Barat lalu mengakui pendirian “Negara Zion*s” itu.

Setahun kemudian (1949), PBB mengukuhkan eksistensinya lewat pengakuan mereka sebagai anggotanya. Dengan demikian, hadirnya entitas Yahudi di Palestina adalah ilegal. Tidak akan pernah terjadi hal ini jika negara penjaganya (Khilafah) masih ada.

Itulah sebabnya, penting bagi Barat untuk menghapuskan eksistensi negara pelindung umat Islam ini. Agar kebijakan internasional yang merugikan umat Islam bisa dilegitimasi dan seakan sah. Walaupun pada faktanya yang terjadi adalah perebutan tanah umat Islam dan genosida.

Kesadaran Umat Islam Sangat Penting

Problem Palestina adalah problem agama kita. Kesadaran ini sangat penting untuk dimiliki umat. Oleh karenanya, tidak ada pihak selain Islam yang berhak mengatur dan memberikan jalan keluarnya. Sebagaimana kita menyandarkan aturan salat kepada agama, sama saja dengan masalah penjajahan Palestina. Umat Islam harus memiliki kesadaran ini.

Saat umat terpengaruh propaganda bahwa ini adalah masalah kemanusiaan, bukan masalah agama, di sinilah titik kritis solusi akan berbelok ke arah yang salah. Seakan-akan Islam bukan agama yang memiliki kerangka ideologi yang mampu menyelesaikan seluruh problematika dunia. Umat Islam dibuat menyerah terhadap permasalahan penting dunia, padahal Islam adalah ideologi yang mendunia. Syariatnya mampu memimpin dunia hingga lebih dari 13 abad lamanya.

Sejak berdirinya pemerintahan Islam di Madinah hingga 1924 Khilafah diruntuhkan melalui konspirasi Inggris, maka mutlak yang menjadi awal pencerahan masalah Palestina adalah kembali pada kesadaran umat Islam untuk menyelesaikan ini dengan aturan Islam. Dalam Islam, ini adalah masalah penjajahan fisik sehingga syariat menuntun untuk mengenyahkan penjajahan ini dengan aktivitas perang.

Ingatlah perintah Allah Swt. dalam Al-Qur’an, “Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 190).

Ayat ini secara jelas memerintahkan perang dalam menghadapi penjajahan. Ketaatan umat Islam terhadap perintah Allah Swt. ini yang butuh direalisasikan oleh umat Islam dalam mengusir dan mengalahkan Zion*s Yahudi. Sudah semestinya ada rasa malu yang mendalam bagi tentara-tentara umat Islam saat saudara-saudara seimannya dibunuh mereka hanya diam. Sudah seharusnya tentara-tentara Turki, Mesir, Yordania, Lebanon, Arab Saudi, dan di mana pun negerinya, merasa malu memiliki alutsista (alat utama sistem senjata), tetapi diparkirkan di barak-barak militer. Ini karena Allah sudah memerintahkan kita untuk mengusir penjajah ini.

Walhasil, tuntutan agama adalah wajib bagi pemimpin negeri-negeri Islam untuk memerintahkan tentaranya turun ke lapangan membela Palestina hingga terusir Zion*s Yahudi dari Palestina. Hendaknya seorang muslim yang memiliki kekuasaan saat ini, merasakan dosa besar saat berdiam diri. Suatu saat Allah Swt. akan meminta pertanggungjawaban mereka atas kejadian ini. Takutlah mereka kepada Hari Hisab kelak.

Memahami Konstelasi Politik Dunia Saat Ini

Amerika Serikat (AS) memiliki kewenangan yang sangat besar terhadap kontrol dunia saat ini. Melalui cengkeram organisasi internasional yang dikuasainya, jerat ideologi kapitalisme dan demokrasi yang ditanamkannya terhadap umat Islam, dan penyanderaan politik terhadap penguasa-penguasa dunia, AS memiliki hegemoni politik dan keamanan atas dunia.

Jadi, kita wajib menyadari bahwa AS-lah yang sejatinya mendiktekan solusi atas Palestina. Ia juga yang membantu dan menjaga eksistensi Zion*s Yahudi di tanah Palestina. Ini semua demi kontrol kawasan strategis umat Islam di Timur Tengah, baik ideologi, sumber daya alam, dan keamanan AS atas wilayah ini. Penting bagi AS untuk mempertahankan penjajahan ini.

Sangat penting bagi umat Islam yang sadar akan kondisi ini untuk melakukan pembongkaran strategi jahat AS dan lembaga-lembaga dunia. Tujuannya adalah untuk menyadarkan umat Islam. Umat Islam yang tidak sadar akan terus terjebak dengan solusi-solusi palsu, solusi yang intinya tetap menjaga penjajahan.

Kita semua butuh kesadaran umat Islam ini hingga level penguasa-penguasa negeri muslim. Kesadaran yang akan membuat umat Islam ini bangkit dari keterpurukan politik dan ekonomi. Kesadaran yang akan dikawal oleh pihak-pihak kuat pemilik kekuatan nyata di negeri umat Islam untuk melepaskan diri dari kontrol Barat ini.

Membangun kekuatan nyata umat Islam ini hanya bisa didapatkan dengan kembali kepada sumber sejati umat Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunah. Juga menegakkan kembali kekuasaan sejati umat Islam yang pernah ditegakkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. dan diteruskan para sahabatnya yang mulia. Itulah upaya menegakkan sistem kekuasaan yang mulia, Khilafah Islam atas minhaj kenabian.

Dengan ini, secara nyata umat Islam akan bersatu. Memobilisasi tentara umat Islam tidak perlu lagi persetujuan Barat. Umat Islam akan bangga membantu tentara-tentara Khilafah yang reguler.

Sungguh, umat Islam sudah sangat merindu untuk dipimpin oleh amir jihadyang sejati untuk berbaris di depan perbatasan Palestina, berperang sebagai hamba-hamba Allah, untuk memberikan usaha terbaik melemahkan tentara Zion*s. Inilah sejatinya solusi tuntas Palestina. Insyaallah, waktunya akan segera tiba.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Akan tetapi, barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nur: 55).

Peran Kita Saat Ini

Peran kita adalah peran dakwah dengan tujuan mengembalikan kesadaran umat Islam. Kesadaran bahwa kondisi saat ini adalah hegemoni Barat terhadap umat Islam dan kesadaran untuk lepas dari hegemoni ini. Inilah yang dikatakan sebagai peran mengembalikan ideologi Islam kepada pemiliknya, yakni umat Islam. Barat berupaya sekuat tenaga menutupi kesadaran ini. Dengan berbagai propaganda dunia, yang menipu dan menutupi kebobrokan yang telah Barat ciptakan atas dunia.

Sesungguhnya, dunia di bawah kepemimpinan kapitalisme sudah di ujung tanduk. Penjajahan dipelihara, kemiskinan dunia karena ekonomi liberal kapitalistik, dan penyakit masyarakat karena sistem sosial yang sekuler, telah menjadikan umat Islam terus dalam kesengsaraan. Menawarkan syariat sebagai solusi tuntas terhadap permasalahan dunia, sangat urgen saat ini.

Hanya Islam yang mampu menjawab tantangan dunia. Mengembalikan kepercayaan umat Islam kepada aturan agamanya merupakan tugas yang memiliki kepentingan mendesak. Dunia tanpa aturan Islam akan menuju pada jurang kebinasaan. Ini sudah diberikan keyakinannya oleh Allah Swt. melalui ayat, “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS Al-Ma’idah: 50).

Peran ini harus dijalankan semaksimal mungkin agar menjadikan dorongan besar di tubuh umat ini untuk kembali memperjuangkan tegaknya aturan Islam secara kafah. Dorongan yang didasarkan pada keimanan terhadap Allah Swt. dan Hari Akhir. Keimanan yang dahulu pernah mendorong para pemimpin Suku Aus dan Khazraj untuk mendukung tegaknya Daulah Islam, cikal bakal tegaknya peradaban Islam yang mulia hingga 13 abad ke depan. Mari kita maksimalkan peran ini. Insyaallah, kemenangan Islam akan tiba. [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *