[Telaah Kitab] Dari Manakah Harakah Islam Harus Mulai? (Bagian 1/3)

[Telaah Kitab] Dari Manakah Harakah Islam Harus Mulai? (Bagian 1/3)

Muslimah News, TELAAH KITAB – Dari mana harakah Islam harus mulai memperbaiki keadaan masyarakat? Apakah dengan terlebih dahulu memperbaiki individunya seperti pernyataan yang dilontarkan oleh kebanyakan gerakan Islam? Ataukah dengan memperbaiki kondisi dan sistem masyarakatnya sebelum memperbaiki individunya? Atau perbaikan itu tidak mungkin berhasil apabila tidak didukung oleh sebuah negara yang akan memperbaiki keadaan masyarakat dan individu? Atau bagaimana caranya?

Fakta menunjukkan bahwa perbaikan terhadap individu tidak cukup dangan sendirinya dapat memperbaiki masyarakat. Namun ini tidak berarti bahwa perbaikan individu dapat diremehkan dan dianggap tidak begitu penting. Sesungguhnya memperbaiki masyarakat memerlukan upaya besar yang dititikberatkan pada perubahan sistem yang berlaku di tengah masyarakat. Juga memerlukan  perubahan pemikiran dan kebudayaan yang telah mengakar di dalamnya, serta perasaan individu masyarakat.

Perubahan tersebut tidak dapat dilaksanakan, kecuali dengan adanya usaha dari suatu kelompok yang berpengaruh di tengah masyarakat. Oleh karena kelompok tersebut terbentuk dari sejumlah individu, tentu harus diupayakan terlebih dahulu mengubah diri mereka sendiri menjadi orang yang salih sebelum orang lain.

Seharusnya upaya dan aktivitas kelompok tersebut tidak terbatas hanya memperbaiki sekelompok orang lain lalu menjadikannya sebagai bagian (anggota) dari kelompok dakwah mereka. Akan tetapi upaya yang paling pokok adalah mengubah masyarakat yang ada sekarang ini menjadi masyarakat Islam. Ini dilakukan melalui jalan pembinaan pemikiran dan perasaan individu-individunya.

Tidak dapat diperselisihkan lagi bahwa kondisi politik dan ekonomi yang berubah dan berkembang saat ini di negeri-negeri Islam selalu mengarah kepada suatu kondisi yang tidak sesuai dengan kepentingan umat Islam. Kita sering mendengar banyak analisis terhadap keadaan tersebut dari para intelektual muslim di berbagai negeri Islam. Namun, yang paling menarik di antara analisis-analisis tersebut ialah dua pendekatan berikut ini.

Pertama, mendiagnosis keadaan masyarakat. Ada di antara sebagian intelektual muslim yang mencoba menganalisis dengan cara membahas berbagai problem yang ada sekarang. Mereka yakin bahwa setiap pemecahan suatu masalah tidak dapat dilakukan, kecuali dengan memahami keadaan/fakta masalah tersebut. Hal ini persis seperti halnya seorang dokter yang tidak akan memberikan obat sebelum melakukan diagnosis terhadap penyakit yang diderita pasiennya.

Kedua, pesimis terhadap keadaan. Sebagian intelektual lainnya berusaha menciptakan sikap pesimis terhadap diri kaum muslim. Caranya, mereka selalu membandingkan kemajuan bangsa-bangsa Barat dengan kemunduran kaum muslim saat ini. Mereka sengaja menonjolkan keadaan kaum muslim yang payah tersebut dari berbagai aspeknya.

Kemudian mereka tidak memberikan pemecahan jitu terhadap problem tersebut. Bahkan mereka sama sekali tidak berusaha menyumbangkan solusi untuk mengatasinya. Mereka seolah-olah mengatakan kepada kaum muslim, “Itulah keadaan umatmu. Kalian tidak akan mengalami perubahan!” Kita harus waspada terhadap analisis semacam ini.

Oleh karena itu, telah menjadi kewajiban bagi siapa saja yang mendambakan suatu kebangkitan kaum muslim, agar tidak hanya memaparkan masalah-masalah kaum muslim tanpa memberikan pemecahannya. Sebabnya, sikap seperti ini tidak akan menyumbangkan suatu pemikiran baru.

Seharusnya kita mulai menentukan rencana-rencana yang tepat untuk merancang pemecahan jitu bagi kaum muslim dan mengembalikan mereka ke posisi mulia sebagai umat terunggul di dunia. Dengan cara demikian, kaum muslim dapat menjadi umat yang dikehendaki Allah Swt. sebagai khairu ummah yang dilahirkan dan menonjol di tengah umat manusia.

Dari sinilah kemudian timbul pertanyaan, “Dari mana kita harus mulai?”

Kalau kita meneliti jawaban dari berbagai gerakan Islam terhadap pertanyaan ini, akan kita dapatkan dua macam pandangan.

Pertama, perbaikan individu. Kelompok ini berusaha memperbaiki setiap individu muslim dengan memfokuskan perhatian terhadap pondasi masyarakat ini. Mereka beranggapan apabila telah didapatkan kesempatan yang cukup untuk memperbaiki fondasi tersebut, maka kaum muslimin akan kembali mendapatkan kemuliaan seperti sedia kala.

Menurut mereka, “Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.” (QS Al-Ahzab: 25).

Kedua, perbaikan masyarakat. Kelompok ini beranggapan bahwa usaha yang paling benar adalah membentuk sebuah negara yang memikul beban dakwah dan melindungi kaum muslim dari berbagai penyakit yang mereka derita. Termasuk juga mengubah masyarakat menjadi masyarakat Islam sehingga perubahan itu pasti akan memengaruhi individu-individunya, sekaligus memperbaiki keadaan mereka.

Di antara dua pandangan tersebut, terdapat perbedaan metode, sekalipun tujuannya sama, yaitu mengembalikan kejayaan umat Islam. Mengingat tujuan tersebut merupakan keperluan yang sangat penting, maka kita perlu membicarakan lebih mendalam untuk mengetahui metode yang paling benar.

Sebelum menjawab pertanyaan terakhir ini, kita harus terlebih dahulu sepakat terhadap satu hal pokok, bahwa Islam telah menentukan dan menunjukkan kebenaran itu. Di antaranya ialah apa yang tercantum dalam QS An-Nisa: 59, “… (Lalu) jika kamu berselisih pendapat tentang suatu (masalah), maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-nya (sunah).”

Oleh karena itu, dalam rangka menyatukan pendapat, marilah kita lihat cara Rasulullah saw. mulai menjalankan dakwah. Beliau saw. berupaya menyelamatkan masyarakat jazirah Arab dari perpecahan sosial dan politik sehingga mereka dapat bangkit, bahkan mampu menaklukkan dunia. [MNews/RY-YG]

Sumber: Abdurrahman Muhammad Khalid, Soal-Jawab Seputar Gerakan Islam.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *