[Kabar] Membangun Aceh dengan Nilai Kebinekaan, Pemerhati: Itu Upaya Deislamisasi!

[Kabar] Membangun Aceh dengan Nilai Kebinekaan, Pemerhati: Itu Upaya Deislamisasi!

Muslimah News, LENSA DAERAH — Sebagai salah satu upaya mewujudkan Aceh lebih baik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Fokus Group Discussion (FGD) dengan tema “Membangun Nilai Kebinekaan Guna Mewujudkan Aceh yang Lebih Baik”. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu, Ketua Forum Pembaruan Kebudayaan Prof. Dr. Syahrizal Abbas, akademisi FISIP USK Firdaus Mirza, dan Direktur Koalisi NGO HAM Aceh Khairil Arista.

Di hadapan seratusan peserta mahasiswa yang hadir, Prof. Dr. Syahrizal Abbas memaparkan Indonesia dibangun atas dasar landasan kebangsaan, bukan atas dasar suku, tradisi, maupun agama. “Indonesia dibangun atas ikatan kebangsaan yang sama kehendak dan keinginan untuk membangun kebangsaan, keinginan yang sama untuk merdeka, dan mewujudkan Indonesia menjadi satu negara yang diakui oleh dunia,” papar Syahrizal.

Tidak hanya kali ini, USK dan kampus-kampus yang ada di Aceh terpantau sering melakukan kegiatan dengan mengangkat tema kebinekaan dan atau wawasan kebangsaan.

Upaya Deislamisasi

Pemerhati pendidikan Rayhanah, S.Pd. menilai, upaya yang dilakukan oleh para intelektual Aceh untuk membangun Aceh dengan nilai kebinekaan, justru merupakan upaya deislamisasi.

“Ketika saat ini agama dikesampingkan, bahkan dianggap ancaman persatuan bangsa, pada dasarnya itu adalah upaya deislamisasi yang dimotori Barat yang tidak boleh diamini oleh intelektual Aceh,” ungkapnya kepada MNews, Kamis (19-12-2024).

Dalam penilaiannya, diskusi tema kebangsaan yang sering digelar di berbagai kampus di Aceh ini karena dilatarbelakangi anggapan bahwa Islam sebagai ancaman.

“Inilah yang menyebabkan berbagai forum kebinekaan dan wawasan kebangsaan terus diselenggarakan di Aceh. Intelektual Aceh dijadikan sebagai “penyampai pesan” bahwa yang bisa menyatukan segenap rakyat adalah nilai kebinekaan, toleransi, dan nasionalisme,” jelasnya.

Ia menyesalkan, intelektual muslim Aceh dan rakyat Aceh melupakan bahwa dalam darahnya mengalir darah para syuhada Aceh yang menyerukan jihad demi muruah agama dan bangsa.

“Aceh adalah wilayah paling terakhir ditundukkan oleh Belanda pada masa lalu karena bangsa Aceh memahami betul seruan syariat untuk melindungi batas-batas negara dengan menerapkan ribath yang diperintahkan oleh Islam,” jelasnya.

Menurutnya, intelektual Aceh seharusnya mencerdaskan rakyat Indonesia dengan Islam. “Menyampaikan pada rakyat bahwa persatuan dan menghargai perbedaan hanya akan bisa terwujud secara sempurna apabila Islam diterapkan secara kafah,” ajaknya meyakinkan.

Ia beralasan, sebelum Bhinneka Tunggal Ika lahir, Allah Taala telah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hujarat ayat 13 yang artinya, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Ia memaparkan, bukti-bukti jaminan Islam terhadap perbedaan di tengah masyarakat juga banyak tertulis bahkan ditulis oleh sejarawan-sejarawan barat.

Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization, kata Rayhanah, menuliskan, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa. Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina hingga Maroko dan Spanyol”.

“Sebagai muslim, sudah seharusnya intelektual Aceh dan masyarakat Aceh mengingat pesan Umar bin Khaththab ra., ‘Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya’,” harapnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *