[Kabar] Pekik Takbir Membahana, Semangat Tokoh Muslimah pada RATU 2024

[Kabar] Pekik Takbir Membahana, Semangat Tokoh Muslimah pada RATU 2024

Muslimah News, NASIONAL — Kekecewaan dirasakan masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah. Umat tidak melihat kapasitas pemimpin dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah kehidupan mereka. Padahal sepanjang 2024, umat telah ditawari beragam sosok pemimpin termasuk model kepemimpinannya. Pencitraan demi pencitraan dan tawaran yang memikat hati telah membuat umat terbius. Umat tidak mengetahui pembahasan bagaimana seharusnya sosok pemimpin menurut sudut pandang Islam, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

Kondisi ini disampaikan pada acara Risalah Akhir Tahun (RATU) 2024 yang mengangkat tema “Kepemimpinan Sekuler Menyengsarakan, Kepemimpinan Islam Harapan Masa Depan”, pada Ahad (15-12-2024) di Jakarta.

Acara yang mampu membangkitkan antusiasme ratusan tokoh muslimah dari berbagai bidang di wilayah Jabodetabek ini juga mengungkap sosok pemimpin dalam Islam yang akan membawa kemaslahatan pada umat.

Sosok Pemimpin dalam Islam

Narasumber pertama, yaitu aktivis dakwah nasional Ratu Erma Rachmayanti menjelaskan tentang sosok pemimpin dalam Islam. Ia menggambarkan kondisi pemimpin saat ini yang telah dijelaskan dalam sebuah hadis, “Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa ruwaibidhah itu?’ Nabi menjawab, ‘Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain, V/465).

Ia menerangkan penyebab para penguasa ruwaibidhah (orang yang bodoh dan ikut campur dalam urusan publik-penj.) bisa hadir di tengah umat adalah peristiwa 3 Maret 1924. “Yang menghancurkan peradaban manusia sebab utamanya adalah ketika pemerintahan di tanggal 3 Maret 1924 hilang,” ujarnya.

Hukum Allah Taala, lanjutnya, tidak lagi ditegakkan dan diabaikan dalam segala hal, kecuali masalah individu. “Umat Islam tercerai berai di 57 negara, potensi ekonomi tidak bisa diberdayakan, tentara dan militernya tidak mampu membebaskan Palestina, tidak ada kekuatan!” tegasnya.

Ia menggambarkan hubungan antara penguasa dengan rakyatnya. “Penguasa tidak menyadari bahwa dirinya adalah pengurus, melayani dan mengatur segala urusan rakyat dengan syariat Islam. Sedangkan, rakyatnya juga tidak menyadari bahwa penguasanya adalah pelayan bagi rakyat. Yang terjadi saat ini kebalikannya, rakyat menjadi budak,” ujarnya miris.

Ia mengutarakan isi sebuah kitab yang berisi penjelasan secara lengkap tentang sistem pemerintahan Islam, yaitu Nidzam al-Hukmi fi al-Islam yang mencantumkan bahwa tidak ada sistem pemerintahan yang serupa sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah.

Ia juga mengingatkan kepada peserta yang hadir bahwa sosok pemimpin yang paham akan tanggung jawabnya sebagai pemimpin hanya dihasilkan dalam negara dan masyarakat Islam.

Hubungan Ideal

Narasumber kedua, aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah menggambarkan hubungan yang ideal antara pemimpin dan rakyat seperti dalam hadis riwayat Muslim, “Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian.”

Ia menguraikan hubungan antara penguasa dan rakyatnya saat ini adalah hubungan yang tidak harmonis karena kebijakan-kebijakan penguasa telah menyengsarakan rakyat. “Hubungan ini lahir dari sistem sekuler demokrasi. Namun, hubungan seperti itu tidak akan mungkin lahir dari sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah,” ucapnya.

Antusias

Ketika sesi tanya jawab, para tokoh muslimah yang hadir begitu antusias dan bersemangat untuk memberi pertanyaan dan pernyataan. Beberapa di antaranya adalah tokoh dari Forhati Jakarta yang ingin ikut berkontribusi dalam menghadirkan pemimpin yang sesuai syariat Islam. Kemudian tokoh dari komunitas Guru Inspirasi Islam yang merasa resah dengan berbagai problematika yang menimpa ibu-ibu rumah tangga dan para siswa dengan berbagai ketidakjelasan kurikulum pendidikan saat ini.

Sedangkan seorang peserta dari Purwakarta mengatakan bahwa penjelasan kedua narasumber membuatnya bersemangat. Sebelumnya, ia berharap Pemilu 2024 akan memberikan pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan rakyat dengan adanya perubahan. Akan tetapi, ia yang terjun langsung ke tengah masyarakat merasakan kecewa kepada para pemimpin dari tingkat kabupaten hingga Pusat.

Bahkan, salah seorang peserta dari Banten menyatakan begitu bangga karena di akhir hayatnya bisa ikut berjuang mengikuti metode dakwah Nabi Muhammad saw., dan ia juga menguatkan para tokoh muslimah yang hadir untuk ikut berjuang karena ini adalah kebenaran yang ditunggu-tunggu.

Pada akhir acara, moderator menyimpulkan agenda RATU 2024 dengan beberapa poin penting. Pertama, ujarnya, kepemimpinan hari ini adalah kepemimpinan populis otoritarian yang berlandaskan sistem Sekuler dan bertentangan dengan syariat.

“Kedua, segala bentuk hal yang bertentangan dengan syariat pasti mengandung mudarat. Ketiga, wajib hukumnya bagi seorang Muslim untuk mewujudkan kepemimpinan Islam dalam sistem baku yang telah ditetapkan syariat, sistem yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., yaitu Khilafah ala minhaj an-nubuwwah,” ungkapnya.

Keempat, lanjutnya, Islam telah menjelaskan bagaimana seharusnya sosok kepribadian seorang pemimpin, yakni memiliki kekuatan syahsiah, takwa yang berarti adalah sosok yang takut pada Robbnya, dan sayang sepenuh hati kepada rakyatnya.

“Kelima, untuk mewujudkan kepemimpinan Islam dibutuhkan langkah serius yang harus dilakukan oleh semua kalangan dan siap berkomitmen untuk menjadi pejuangnya,” paparnya.

Peserta tokoh muslimah menyatakan sepakat dengan poin-poin diatas. Pekikan takbir menjadi tanda kesiapan para tokoh untuk bersama memperjuangkan syariat Allah Taala. [MNews/Kontributor: JPD]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *