[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 13/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 13/22)

Sambungan dari Bagian 12/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Kita hendaknya tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Kezaliman, kediktatoran, dan kesewenang-wenangan hendaklah tidak menggelincirkan kita dari aktivitas yang sungguh-sungguh, serta dari berkiprah dalam menolong agama ini dan melanjutkan kehidupan Islam.

Ancaman dan tekanan hendaklah tidak menghentikan kita. Pengawasan, spionase, dan penangkapan secara tiba-tiba hendaklah tidak memalingkan kita. Sebabnya, Allah bersama kalian dalam perjuangan agama kalian, wahai para pengemban dakwah.

Dunia itu fana dan surga Allah sedang menunggu kalian. Allah tidak akan pernah sekali-kali menyalahi janji-Nya kepada kalian. Sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyalahi janji.

Dari sini mungkin dijelaskan gambaran periode ini sebagai berikut.

1. Terang-terangan dalam berdakwah, rahasia dalam aspek takattul (kelompok).

2. Teguh dalam dakwah, sanggup menanggung berbagai kesulitan dan siksaan, serta tidak tunduk pada tawar-menawar.

3. Tidak melakukan aktivitas fisik apa pun untuk menentang para penyerang Rasul dan kaum muslim, apa pun yang mereka temui berupa berbagai bentuk siksaan, gangguan, tekanan, dan penghinaan.

4. Hijrah ke Habsyah sebagai bentuk keterikatan pada perintah Allah dan Rasul-Nya.

5. Berinteraksi dakwah dengan masyarakat dan menyebarkan dakwah, bagaimanapun sikap keras kaum musyrik.

6. Koalisi kaum musyrik menentang Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib karena dukungan mereka terhadap Abu Thalib dalam melindungi Rasul ﷺ. Mereka diboikot dan diembargo selama tiga tahun di celah-celah dan lorong-lorong bukit. Di tengah mereka terdapat Rasul dan orang-orang yang telah masuk Islam.

7. Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Umar bin al-Khaththab, serta sikap mereka menghadapi kesewenang-wenangan. Kaum muslim, tidak terkecuali orang-orang yang lemah, menjadi mulia dengan keislaman keduanya.

8. Meninggalnya Abu Thalib dan wafatnya istri Rasul, Khadijah binti Khuwailid, serta makin kerasnya gangguan kaum musyrik kepada Rasul dan para sahabat beliau.

9. Terus berlanjutnya proses tatsqif (pembinaan intensif).

Periode Dakwah ke Luar Makkah

Dakwah berhadapan dengan makin meningkatnya gangguan kaum musyrik terhadap Rasul saw. dan para sahabat beliau. Berhadapan dengan makin meningkatnya kesombongan kaum musyrik dalam penyimpangan mereka, penyiksaan mereka kepada kaum muslim, serta sikap mereka yang keras dan sungguh-sungguh di hadapan dakwah. Masyarakat menjadi keras di hadapan Rasul dan dakwah.

Setelah melihat semua itu, Rasul berpandangan untuk pergi ke kota Thaif. Tampak menonjol bahwa ini berasal dari arahan Allah. Hal itu ditunjukkan oleh doa Rasul saw. sekembalinya dari Thaif, “Seandainya Engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak akan peduli. Kepada-Mu, aku meminta keridaan hingga Engkau rida.” Ketika itu beliau bersama maula beliau, Zayd bin Haritsah.

Peristiwa itu terjadi pada tahun kesepuluh kenabian sebagaimana yang dikuatkan oleh penulis Ar-Rabiq al-Makhtum. Di perjalanan, setiap kali melalui satu kabilah, beliau menyeru mereka pada Islam. Akan tetapi, tidak satu pun kabilah yang memenuhi seruan beliau.

Ketika sampai di Thaif, beliau menemui tiga orang pemuka Thaif yang masih bersaudara, yaitu Abdul al-Yalail, Mas’ud, dan Junaib. Mereka adalah anak dari ‘Amr bin Umair ats-Tsaqafi. Beliau menyeru mereka agar mengimani Allah dan menolong agama beliau.

Hanya saja, mereka tidak menjawab seruan Rasul saw. dan tidak membenarkan kenabian beliau. Salah seorang dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak menemukan orang selain engkau?”

Yang lain mengatakan perkataan yang serupa. Dengan itu jelas bahwa keduanya tidak menjawab seruan Rasul atau tidak mengimani dakwah beliau. Rasul saw. meninggalkan mereka dan beralih dari mereka.

Beliau tinggal di Thaif selama sepuluh hari. Beliau melakukan kontak dengan penduduknya, menawarkan diri beliau kepada mereka. Beliau tidak meninggalkan seorang pun dari para pemimpin dan pemuka Thaif, kecuali beliau datangi dan beliau berbicara dengan mereka.

Namun, mereka meminta Rasul saw. untuk keluar dari negeri mereka. Mereka memperdaya orang-orang bodoh (awam) dan hamba-hamba sahaya mereka. Kemudian orang-orang itu mengikuti Rasul ketika beliau hendak keluar.

Mereka mencaci dan mencela Rasul, melempari beliau dengan batu, dan melemparkan kata-kata cacian. Mereka melempari beliau dan mengenai betis sehingga terompah beliau basah oleh darah yang mengalir dari kaki beliau. Zaid bin Haritsah melindungi Rasul dengan dirinya hingga kepalanya terluka. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 13/22)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *