Muslimah News, TELAAH KITAB — Mendung makin bertumpuk sehingga beliau merasa putus asa dan berpikir untuk pergi berdakwah ke luar Makkah. Beliau berharap manusia akan menjawab seruan beliau, mengimani beliau, dan menolong beliau atas kaumnya. Oleh karena itu, beliau lalu keluar menuju Thaif.
Sebelum membicarakan keluarnya beliau ke Thaif, penulis Ar-Rahiq al-Makhtam mengajukan pertanyaan mengenai sebab yang menjadikan kaum muslim mampu bersabar sampai pada tingkat keteguhan dalam menanggung siksaan, penentangan, dan berbagai siksaan dari orang Quraisy.
Mengenai pertanyaan ini, ia merasa perlu mengisyaratkan beberapa faktor secara ringkas sebagai berikut.
Pertama, mengimani Allah Swt. semata dan benar-benar bermakrifat kepada-Nya. Dengan demikian, berbagai kesenangan dunia, betapa pun banyak jumlah dan macamnya, dalam pandangan kaum mukmin adalah rendah.
Kedua, terpenuhinya kepemimpinan yang menyatukan hati. Rasul saw. merupakan pemimpin tertinggi yang memiliki penampilan yang mulia dan sifat-sifat yang agung.
Ketiga, rasa tanggung jawab. Para sahabat menyadari secara sempurna tanggung jawab besar yang ada di pundak manusia yang tidak mungkin dielakkan. Oleh karena itu, kerugian karena lari dari beban tanggung jawab ini jauh lebih menakutkan dan lebih banyak bahayanya daripada penentangan yang mereka hadapi.
Keempat, keimanan terhadap akhirat. Para sahabat menyadari bahwa dunia dengan siksaan dan kenikmatannya tidak dapat menyamai sebelah sayap nyamuk pun terhadap surga di akhirat kelak.
Kelima, Al-Qur’an yang mulia. Ketika Al-Qur’an menggambarkan dengan ayat-ayat dan hikmahnya yang turun, Al-Qur’an menegakkan hujah (argumentasi), dan bukti-bukti meyakinkan atas ideologi Islam dengan cara-cara yang menawan. Al-Qur’an juga menunjuki kaum muslim terhadap asas-asas yang telah Allah tetapkan agar mereka menjadi masyarakat manusia yang paling agung dan ideal di dunia.
Ayat-ayat Al-Qur’an juga membangkitkan perasaan kaum muslim pada ketabahan, kesabaran, dan ketegaran. Ayat-ayat Al-Qur’an memaparkan permisalan, “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang mengimaninya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah: 214).
“Alif lâm mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Dengan itu sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 1—3).
Keenam, berita gembira akan datangnya keberhasilan. Ayat Al-Qur’an turun memuat berita gembira ini pada sekali waktu secara tegas dan pada waktu lain dengan kiasan. Pada saat bumi terasa sempit bagi kaum muslim, pada saat kesusahan mendera mereka, serta berbagai kejadian dan tekanan menerpa mereka. Ayat-ayat Al-Qur’an menceritakan berbagai keadaan yang sesuai dengan keadaan kaum muslim Makkah dan kekufuran penduduknya. Ayat-ayat Al-Qur’an juga menjelaskan kepada mereka bahwa kemenangan dan pertolongan selamanya berpihak kepada kaum mukmin yang benar dan bahwa bumi akan diwarisi oleh orang-orang saleh.
Ayat mengenai hal ini sangat banyak. Kadang kala Rasul saw. pun menyampaikan berita gembira ini (bukan berupa ayat Al-Qur’an). Beliau menyampaikan berita gembira kepada kaum mukmin tentang surga.
Beliau pun berkata kepada kaum mukmin dengan sangat jelas, “Wahai manusia, katakanlah, ‘Tiada Tuhan, kecuali Allah,’ niscaya kalian akan beruntung. Kalian akan menguasai orang Arab dengannya dan orang selain Arab akan mendekat kepada kalian, dan jika kalian mati, kalian seperti raja di surga.”
Di hadapan berita gembira akan datangnya kegemilangan di dunia disertai dengan harapan mendapat keberuntungan kemaslahatan besar di akhirat, yaitu di surga, para sahabat memandang bahwa berbagai tekanan yang menimpa mereka dari semua sisi dan berbagai musibah yang melingkupi mereka dari setiap penjuru tidak lain sekadar riak-riak awan pada musim kemarau yang cepat sekali sirna.
Tidak diragukan lagi, faktor-faktor ini memiliki pengaruh terbesar terhadap keteguhan kaum muslim generasi awal, serta dalam kesanggupan mereka menanggung kesusahan dan menghadapi kekufuran, kekerasan, kesombongan, dan kekejaman.
Iman yang benar memunculkan mukjizat. Iman yang murni dan perhatian serta harapan akan pahala dan surga Allah menjadikan kaum muslim sebagai manusia yang memandang rendah berbagai kesulitan dan memandang murah dalam pengorbanan (maksudnya merasa ringan untuk berkorban). Surga itu mahal harganya dan harus dicapai dengan beban yang berat.
Pada saat ini bagi kita, sebagai seorang muslim dan dai yang menyerukan kewajiban untuk melanjutkan kehidupan Islam, hendaknya memahami hakikat ini. Hendaknya kita mengambil lampu yang bersinar menerangi jalan dan keteladanan yang baik dari sirah Rasul saw. dan para sahabat beliau.
Hendaklah kita meyakini pertolongan Allah dan kebenaran janji-Nya. Oleh karenanya, hendaklah kita berlomba bertakarub kepada-Nya, banyak berkorban, teguh dalam kebenaran karena meyakini pertolongan Allah, dan berlomba untuk masa depan agama ini (Islam). [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 12/22)”