[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 5/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 5/22)

Sambungan dari Bagian 4/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Abu Lahab adalah orang yang paling menonjol dalam melakukan permusuhan kepada Nabi ﷺ. Bagaimana tidak, ia yang membulatkan tekad terhadap komite tersebut. Ia telah memiliki sikap permusuhan yang jelas sejak hari pertama diutusnya Rasul ﷺ. Ia telah memerintahkan dua putranya, yaitu Utbah dan Utaibah, untuk menceraikan istrinya masing-masing, yaitu Ruqayyah dan Umu Kultsum, dua orang putri Rasul ﷺ.

Istri Abu Lahab, yaitu Ummu Jamil, yang nama aslinya adalah Arwa binti Harb bin Umayyah, juga memasang duri di jalan yang dilalui Rasul saw. dan di depan rumah beliau. Ia banyak membual mengenai Rasul dan suka mengobarkan api fitnah. Berkenaan dengan Ummu Jamil dan suaminya (Abu Lahab) ini, turunlah Al-Qur’an surah Al-Masad yang menyifati keduanya sebagai pembawa kayu bakar.

Demikianlah penyerangan dan gangguan yang terjadi. Di antara yang terkenal mengganggu Nabi saw. selain Abu Jahal dan istrinya adalah Hakam bin al-‘Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abi Mu’ith, Adi bin Hamra ats-Tsaqafi, dan Ibnu al-Ahda’ al-Huzali. Salah seorang dari mereka pernah melemparkan isi perut seekor domba yang baru disembelih kepada Rasul saat beliau sedang salat. Salah seorang dari mereka ada yang melemparkan kotoran domba itu ke periuk beliau.

Saat Rasul saw. mendapat perlakuan ini, beliau keluar sambil memegang sepotong dahan. Kemudian beliau berdiri di pintu rumah beliau dan bersabda, “Hai Bani ‘Abd Manaf, tetangga macam apakah ini?” Kemudian beliau membuang kotoran itu ke jalan.

Uqbah bin Abi Mu’ith suatu kali menaruh kotoran unta yang baru disembelih di atas punggung beliau saat beliau sedang salat. Abu Jahal juga mengganggu Rasul saw. dengan kata-kata dan menghalangi beliau untuk salat di Masjidilharam. Umayyah bin Khalaf, saat melihat Rasul saw, ia mengumpat dan mencela beliau.

Berkenaan dengannya, lalu turun firman Allah Swt., “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Tahukah kamu, ара Huthamah itu? Itulah api Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka dan mereka diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (QS Al-Humazah: 1—9).

Suatu saat, Ubay bin Khalaf meminta Uqbah bin Ab Mu’ith untuk meludahi wajah Nabi ﷺ. Uqbah pun melakukannya. Ubay bin Khalaf juga meremukkan tulang belulang, lalu menaburkannya di udara yang berhembus ke arah Rasul ﷺ.

Akhnas bin Syariq ats-Tsaqafi termasuk salah seorang yang menimpakan gangguan atau siksaan kepada Nabi ﷺ. Demikian juga Walid bin Mughirah yang disifati Al-Qur’an dengan firman Allah Swt., “…yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” (QS Al-Qalam: 11—13).

Sungguh, Rasulullah saw. menerima banyak bentuk gangguan dan siksaan, meskipun kemuliaan dan kepribadian beliau tetap terhormat dan agung dalam benak masyarakat. Apalagi beliau mendapat perlindungan dari paman beliau, Abu Thalib, yang merupakan salah seorang dari kaum Quraisy yang sangat diperhitungkan dan dihormati di Makkah al-Mukarramah.

Oleh karena itu, wajar kaum muslim, tidak terkecuali orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan. Berbagai perlakuan yang sangat kejam dan mengerikan menimpa mereka. Setiap kabilah menyiksa setiap orang dari mereka yang memeluk Islam. Mereka menimpakan berbagai bentuk siksaan kepada kaum muslim.

Orang yang tidak memiliki kabilah diserahkan kepada para pemuka dan pembesar kaum untuk mendapatkan berbagai macam tekanan. Jika diceritakan secara detil, sungguh akan membuat hati miris. Paman Utsman bin Affan pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya.

Ketika Ibu Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan mengusirnya dari rumah. Sesungguhnya Mushab bin Umair sebelumnya termasuk orang yang paling enak hidupnya, sampai kulitnya mengelupas seperti ular yang berganti kulit. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 5/22)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *