[Kabar] Pendidikan Perdamaian dan Toleransi, Pengamat: Mengaburkan Gambaran Islam!

[Kabar] Pendidikan Perdamaian dan Toleransi, Pengamat: Mengaburkan Gambaran Islam!

Muslimah News, NASIONAL — Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) menanamkan nilai perdamaian dan toleransi berbasis Pancasila melalui media e-comic. Ketua Tim Dosen Fakultas Psikologi UM Dr. Helga Graciani Hidajat, S.Pd. menjelaskan, media e-comic merupakan program inovatif yang dirancang untuk menarik minat siswa SD agar lebih mudah memahami tentang nilai-nilai perdamaian dan toleransi.

Helga menuturkan, pendidikan perdamaian bukan sekadar mengajarkan tentang kesepakatan damai, tetapi juga tentang memahami diri sendiri dan orang lain dikaitkan dengan konteks Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang menawarkan nilai-nilai relevan dengan pendidikan.

Tim Dosen Fakultas Psikologi UM berharap, adanya program pendidikan perdamaian dan toleransi berbasis Pancasila melalui media e-comic di SD Negeri Sukoharjo 2 Malang dapat membantu siswa tumbuh menjadi generasi yang cinta damai, toleran, dan mampu memaafkan.

Mengaburkan Gambaran Islam

Namun, pengamat pendidikan Desi Dwi A., S.P. justru menilai pendidikan perdamaian dan toleransi ini berbahaya karena mengaburkan gambaran Islam.

“Dampak berbahaya yang sangat mungkin, bahkan mulai tampak adalah makin kaburnya gambaran ajaran Islam yang utuh dalam benak generasi muda negeri ini,” tuturnya kepada MNews, Kamis (14-11-2024).

Desi melanjutkan, siswa akan menganggap semua agama sama sehingga menganggap wajar merayakan hari raya agama lain bersama, bahkan menganggap jilbab dan khimar adalah bagian dari budaya arab, bukan kewajiban yang diturunkan oleh Allah kepada seluruh muslimah.

Menurutnya, sejak terbitnya Perpres 58/2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama pada 25 September 2023, seluruh lembaga pendidikan baik jenjang pendidikan tinggi maupun pendidikan dasar menengah terus menyisipkan program moderasi dalam proses belajar.

“Entah dalam bentuk seminar dan diskusi, dialog antar agama, hingga program outing mengunjungi tempat ibadah berbagai agama,” imbuhnya.

Toleransi dalam Islam

Agar publik tidak memiliki persepsi yang keliru terkait toleransi ini, Desi pun menggambarkan toleransi dalam Islam.

“Sejak awal berdirinya negara Islam di Madinah, kaum muslim telah hidup dengan keheterogenan. Meski sebagian besar penduduk Madinah telah masuk Islam, tetap masih ada kaum minoritas Arab yang tetap berpegang pada agama nenek moyang mereka. Rasulullah pun membiarkan mereka dan memperlakukan mereka sebagai warga negara sama saja dengan kaum muslim muhajirin dan ansar,” bebernya.

Ia melanjutkan, Rasulullah saw. membiarkan mereka melakukan ibadah sebagaimana biasanya, membiarkan mereka makanan yang menurut mereka boleh dimakan, dan mereka juga tunduk pada peraturan negara yang diterapkan Rasulullah saw. termasuk membayar jizyah.

“Kaum muslim dibolehkan menikahi perempuan ahli kitab dan memakan sembelihan mereka, tetapi diharamkan menikahi perempuan musyrik dan mengaharamkan sembelihan mereka. Demikianlah gambaran toleransi yang diajarkan dalam Islam,” jelasnya.

Sedangkan antara sesama kaum muslim, sambungnya, Rasulullah saw. mengajarkan agar mereka saling mencintai karena Allah, bersikap lembut diantara mereka, saling mengunjungi, juga saling membantu meringankan kesulitan saudaranya.

“Sebaliknya jika dengan kaum kafir di luar negara Islam, Rasulullah justru mengajarkan untuk bersikap tegas, bahkan tidak ragu-ragu untuk memerangi mereka. Rasulullah dengan tegas mengumumkan perang dengan kaum kafir Quraisy yang telah jelas memusuhi Islam dan kaum muslim, bahkan mengusir mereka dari negerinya,” urainya.

Rasulullah, ucapnya, juga menghukum kaum Yahudi yang telah berani melanggar perjanjian dengan negara Islam.

“Tercatat dalam sirah Nabawiyah kisah pengusiran kaum Yahudi Bani Qainuqa, Bani Nadzir, bahkan hukuman penumpasan pada Yahudi Bani Quraidzah,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia merasa heran, bagaimana mungkin banyak penguasa negeri muslim saat ini atau putra putri mereka yang justru bergandengan tangan dengan kaum yahudi yang jelas telah membinasakan kaum muslim di Palestina.

“Sementara sejarah mencatat bagaimana ketegasan nenek moyang kaum muslim memperlakukan Yahudi,” ucapnya.

Yang lebih ironis lagi, ujar Desi, anak-anak kaum muslim duduk bersama dan bermanis muka kepada orang-orang kafir, tetapi gampang melabeli saudara sesama muslim dengan istilah ekstremis, radikalis, fundamentalis, dan sederet label lain yang memojokkan Islam dan kaum muslim.

Ia berharap, kaum muslim sadar bahwa ajaran Islam telah sempurna mengatur seluruh perbuatan manusia termasuk bagaimana bersikap dengan kaum yang berbeda agama.

“Hanya dengan memahami Islam secara utuh, mereka tidak gampang latah menyuarakan moderasi dan toleransi yang justru akan berdampak pada makin hilangnya pengaruh ajaran Islam dalam kehidupan,” tutupnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *