Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Keberhasilan penaklukan Konstantinopel tidak terlepas dari sifat dan karakter kepemimpinan yang dimiliki oleh Muhammad al-Fatih sebagai bagian dari bangsa Turki Utsmani. Sejak pemimpin mereka yang pertama, yaitu Utsman bin Ertugrul, bangsa Turki memiliki semangat yang besar untuk menegakkan hukum-hukum Allah. Oleh karenanya, Allah Swt. memberikan kekuatan kepada mereka dan menjadikan mereka khalifah di muka bumi.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”(QS An-Nur: 55).
Di antara sifat dan karakter kepemimpinan Muhammad al-Fatih adalah:
1. Keteguhan Hati
Sifat ini tampak ketika dia menduga kuat ada ketakberesan pada panglima angkatan lautnya Balata Oghli saat mengepung Konstantinopel. Ketika Balata Oghli tidak mampu melaksanakan tugasnya maka Sultan Muhammad al-Fatih memecatnya dan menunjuk Hamzah Pasha sebagai penggantinya.
2. Keberanian
Muhammad al-Fatih mengarungi berbagai peperangan dengan keikutsertaan dirinya. Ia memerangi musuh dengan pedangnya. Ia memegang perisai, menghunus pedang, dan memacu kudanya. Ia tidak menoleh kepada apa pun.
Hal ini menyalakan api semangat tentaranya. Mereka bersegera bergerak di belakangnya dan menyerang siapa saja yang menjadi musuh sejak waktu duha sampai ashar. Pasukan Turki Utsmani memperoleh kemenangan dan mendapatkan rampasan perang yang banyak.
3. Cerdas
Terlihat jelas ide yang cemerlang, yaitu memindahkan kapal-kapal perang Utsmani dari pangkalannya di Besiktas ke Tanduk Emas. Ini dilakukan dengan menyeret kapal-kapal itu melalui jalan darat yang terletak di antara dua pelabuhan. Rute yang diambil menjauhi wilayah Galata. Jalur yang diambil bukan tanah datar yang mudah dilalui, tetapi tanah terjal dan perbukitan yang belum dijamah.
4. Kemauan yang keras dan gigih
Ketika Sultan Muhammad al-Fatih mengirim surat kepada Kaisar Konstantin, ia memintanya untuk menyerahkan Kota Konstantinopel secara damai sehingga tidak terjadi pertumpahan darah di kota itu. Sultan menjamin mereka tidak akan mengalami gangguan sedikit pun dan mereka boleh memilih untuk tetap tinggal di kota atau meninggalkannya.
Namun, Kaisar Konstantin menolak menyerahkan Kota Konstantinopel. Sultan Muhammad al-Fatih berkata, “Baiklah, dalam jangka waktu yang dekat akan ada singgasana untukku di Konstantinopel atau aku akan dikuburkan di dalamnya.”
Ketika pasukan Byzantium berhasil membakar benteng kayu berukuran besar yang dibuat pasukan Turki Utsmani, Muhammad al-Fatih berseru kepada pasukannya, “Besok kita akan buat empat benteng kayu yang lain.”
5. Keadilan
Sifat ini terlihat pada perlakuan Muhammad al-Fatih kepada ahlulkitab. Ia memperlakukan mereka sesuai dengan syariat Islam. Ia memberikan kepada mereka hak-hak keagamaan mereka. Tidak ada satu pun pemeluk agama Kristen yang ia zalimi.
6.Tidak sombong
Ketika pasukan Turki Utsmani berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel dan Muhammad al-Fatih memasukinya, ia berkata, “Pujian bagi Allah, semoga Allah merahmati orang-orang yang mati syahid, memberikan kemuliaan dan keluhuran kepada para pejuang, serta kebanggaan dan syukur untuk bangsaku.”
7. Ikhlas
Keihlasan Muhammad al-Fatih terlihat dari syair-syairnya, “Niatku menjalankan perintah Allah, semangatku mengerahkan segala kemampuanku untuk mengabdikan Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabidiri kepada agama Allah, tekadku menguasai orang-orang kafir semuanya dengan tentara-tentaraku, tentara Allah. Pikiranku tercurah untuk melakukan penaklukan, meraih kemenangan, mencapai kejayaan dengan kelemahlembutan Allah. Jihadku dengan jiwa dan harta, adakah hal lain di dunia ini selain menaati perintah Allah? Kerinduanku perang dan perang, ribuan kali untuk menggapai keridaan Allah. Harapanku, pertolongan Allah dan kemenangan agama ini atas musuh-musuh Allah.”
8. Ilmunya
Ayah Muhammad al-Fatih memberikan perhatian penuh untuk pendidikan anaknya sejak usia dini. Muhammad al-Fatih dibimbing oleh sekelompok ulama terkemuka pada masa itu. Dia belajar Al-Qur’an, hadis, fikih, dan ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu matematika, falak, sejarah, juga ilmu-ilmu kemiliteran. Guru utama Muhammad al-Fatih adalah Syekh Aq Syamsuddin dan Mulla al-Kaurani. Muhammad al-Fatih benar-benar terpengaruh dengan pendidikan gurunya ini.
Sultan Muhammad al-fatih menguasai tiga bahasa, yaitu Arab, Persia, dan Turki. Ia juga seorang penyair dan pengarang sebuah buku kumpulan syair dalam bahasa Turki. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura

Alhamdulillah