[Nafsiyah] Meneguhkan Kesatuan Kalbu Kaum Mukmin

[Nafsiyah] Meneguhkan Kesatuan Kalbu Kaum Mukmin

Penulis: Ustaz Irvan Abu Naveed

Muslimah News, NAFSIYAH — Rekam jejak perjalanan hidup Rasulullah saw. dan para sahabat adalah rekam jejak keikhlasan, pengorbanan (at-tadhhiyyât), ketawakalan, dan keyakinan kepada Allah Taala. Seluruhnya menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan, terutama bagi mereka yang meniti jalan perjuangan Islam. Mereka menyeru manusia kepada Allah dan merepresentasikan kehidupan yang bermanfaat bagi orang banyak, bahkan bagi peradaban.

Rasulullah saw. dan para sahabat berjuang secara berjemaah, tidak sendiri-sendiri. Seluruhnya bersatu dalam satu keyakinan, satu pemikiran, dan satu derap langkah. Mereka mengamalkan perintah berpegang teguh pada din dan membuktikan diri dengan berdakwah secara berjemaah. (Lihat QS Ali ’Imran [3]: 103—104).

Berbagai rintangan yang mengadang pun berhasil dihadapi dan diatasi. Sebagai ujian yang menempa para pejuang, benarlah ungkapan berikut, “Andai tiada berbagai bencana hari-hari, tidak akan diketahui kesabaran orang-orang yang terpuji, tidak pula kegundahan orang-orang yang tercela.”

Kesatuan Kalbu (Pemikiran) Kaum Mukmin

Kemenangan Rasulullah saw. di jalan perjuangan tidak datang begitu saja tanpa syarat dan sebab-akibat. Keyakinan, keikhlasan, kesungguhan, pengorbanan, bahkan kesatuan pemikiran dan gerak langkah adalah syarat meraih pertolongan Allah Taala.

Allah Swt. berfirman, “Jika mereka bermaksud mengelabui kamu, sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah Yang memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum mukmin, juga Yang mempersatukan kalbu mereka (kaum mukmin). Meskipun dirimu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan kalbu mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan kalbu mereka. Sungguh Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal [8]: 62–63).

Bahkan ayat yang agung ini menunjukkan bahwa dukungan kaum mukmin yang bersatu dalam pemikiran dan gerak langkah merupakan bagian dari pertolongan-Nya. Pertolongan Allah Swt. jelas tidak ternilai harganya dan tidak bisa dibeli dengan seluruh harta dunia. Apalagi bagi mereka yang sebelumnya terpecah-belah oleh ikatan jahiliah, ’ashabiyyah pada kelompok suku bangsa.

Ini bukan sembarang kesatuan. Yang dimaksud adalah kesatuan yang merepresentasikan kesatuan keyakinan dan pemikiran. Ini karena lafal qulûb (bentuk plural dari qalb) dimaknai oleh para ahli bahasa Arab berkonotasi ’aql (daya pikir). Imam Abu Nashr al-Jauhari (393 H) menyebutkan dalam Ash-Shihâh Tâj al-Lughah (I/204).

Al-qalb, yakni al-fu’aad. Kadang untuk mengungkapkan makna ‘aql, Al-Farra menafsirkan firman Allah Swt., “Sungguh pada yang demikian benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki qalb,” yakni akal.

Pemaknaan ini sejalan dengan isyarat dalam QS Al-A’râf [7]: 179 yang menyiratkan kelaziman fungsi dari qalb untuk berpikir. Ini memperjelas makna hakiki dari qalb yang ditegaskan oleh Rasulullah saw. menentukan baik-buruknya seseorang.

Nu’man bin Basyir ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, sesungguhnya ia adalah qalb.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Unsur penting dari ’aql (berpikir) itu adalah organ tubuh berupa otak yang sehat dan dengan adanya objek yang terindera, diidentifikasi oleh penginderaan yang berfungsi baik, lalu diolah dan ditafsirkan dalam otak berdasarkan pengetahuan yang dimiliki (al-ma’lûmât al-sâbiqah), lalu akan lahir pemikiran. Proses pemikiran yang benar akan melahirkan pemahaman yang benar, yang menjadi dasar bagi perilaku yang benar.

Perilaku jelas menentukan baik dan buruknya diri seseorang. Ia memperjelas makna lafal al-jasad dalam hadis ini sebagai kiasan dari keseluruhan diri seseorang (al-majâz al-mursal bi al-’alâqah al-juz’iyyah). Setiap orang akan diganjar sesuai perilakunya (al-jazâ’ min jins al-’amal).

Ini dinyatakan dalam firman-Nya, “Sungguh Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa saja yang telah mereka kerjakan, termasuk jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Yasin [36]: 12).

Kesatuan ini menjadi ciri khas orang-orang yang beriman. Ini sebagaimana yang Allah tegaskan. (Lihat: QS Al-Hujurât [49]: 10). Ini juga diperjelas oleh perintah berpegang teguh pada tali dînulLâh yang menyatukan kalbu, “Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah oleh kalian nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan kalbu kalian. Kemudian jadilah kalian karena nikmat Allah itu, orang-orang yang bersaudara.” (QS Ali Imran [3]: 103).

Dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan kita bersatu, berpegang teguh pada dînulLâh. Ini menjauhkan dari perpecahan, serta menguatkan jalinan kalbu dan persaudaraan di antara kaum mukmin. Ini yang Allah sifati sebagai kenikmatan dari Dia. (Lihat pula: QS Al-Anfal [8]: 63). Al-Hafizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dalam Al-Tabshirah (II/273) menuturkan, “Ketahuilah, kalimat bermakna yang menyatukan antara kaum muslim adalah Islam. Sungguh mereka meraih ukhuwah yang terpenting dengan Islam. Islam mewajibkan mereka dengan ukhuwah ini hak-hak satu sama lain.”

Ibnu al-Jauzi lalu menukil hadis sahih dari Nu’man bin Basyir ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling cinta, kasih sayang, dan simpati di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu organ sakit, seluruh tubuh terjaga (tidak bisa tidur) dan demam.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ath-Thabarani).

Rasulullah saw. pun bersabda, “Sungguh seorang mukmin bagi mukmin yang lain berposisi seperti kepala bagi tubuh. Seorang mukmin akan merasakan sakitnya mukmin yang lain seperti tubuh ikut merasakan sakit yang menimpa kepala.” (HR Ahmad dan Ibnu al-Mubarak).

Berpecah Belah, Karakter Kaum yang Celaka

Kebalikan dari karakter kaum mukmin, berpecah belah adalah karakter kaum yang celaka. Allah Swt. melarang kaum mukmin bercerai-berai setelah Allah memerintahkan mereka bersatu dalam ketaatan kepada Dia dan kepada Rasul-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan sehingga kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah. Sungguh, Allah beserta kaum yang sabar.” (QS Al-Anfal [8]: 46).

Ayat yang agung ini menegaskan bahwa perpecahan akan menyebabkan kehilangan kekuatan. Tragedi yang menimpa kaum muslim hari ini adalah pesan bagi kita bahwa it’s time to be one ummah. [MNews/YG]

Sumber: alwaie[dot]net

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *