Penulis: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Kekuatan khabar dari sisi matan (redaksi) dapat diperinci sebagai berikut.
(1) Jika salah satu khabar berisikan perintah, sedangkan yang lain berisikan larangan, larangan lebih dikuatkan daripada perintah sebab kebanyakan larangan ditujukan untuk menghindari mafsadat (kerusakan), sedangkan kebanyakan perintah ditujukan untuk mewujudkan suatu maslahat. Menolak mafsadat mesti didahulukan daripada mengambil maslahat, “Dar’u al-mafaasid muqaddam ‘ala jalb al-mashaalih.”
(2) Kadang kala suatu khabar mengandung perintah, sedangkan yang lain memubahkan (membolehkan). Dalam kondisi semacam ini, khabar yang memubahkan lebih diunggulkan dibandingkan yang mengandung perintah sebab khabar yang memubahkan akan mengalihkan tuntutan atau perintah ke arah kemubahan. Sedangkan beramal dengan khabar yang berisikan perintah pasti akan menelantarkan secara menyeluruh dalil yang memubahkan, padahal mengamalkan dua dalil itu lebih utama daripada mengabaikan atau menelantarkan salah satu dalil.
(3) Kadang-kadang salah satu khabar tersebut mengandung perintah, sedangkan yang lain mengandung informasi belaka (khabar). Dalam kondisi semacam ini, khabar harus dikuatkan daripada perintah sebab dalalah yang ditunjukkan oleh khabar lebih kuat dibandingkan perintah. Oleh karena itu, khabar tidak bisa dinasakh, sedangkan perintah boleh dinasakh (dihapus),
(4) Khabar yang pertama berisikan larangan, sedangkan yang kedua berisikan kemubahan. Khabar yang memubahkan harus dikuatkan dibandingkan khabar yang melarang, sebagaimana sebab dikuatkannya kemubahan atas perintah.
(5) Khabar yang pertama berisikan larangan, sedangkan yang kedua hanya mengandung khabar (informasi). Khabar harus dikuatkan dibandingkan perintah.
(6) Kekuatan matan yang disandarkan kepada lafaz khabar. Khabar yang lafaznya menunjukkan pengertian hakiki (hakikat) harus dikuatkan daripada khabar yang menunjukkan pengertian majaz. Lafaz yang mengandung hakikat syar’iyah harus dikuatkan dibandingkan lafaz yang mengandung hakikat lughawiyah (pengertian bahasa) dan hakikat ‘urfiyyah (pengertian kebiasaan). Ini karena Nabi saw. diutus untuk menyampaikan dan menjelaskan syariat. Khabar yang mengandung ilat hukum lebih dikuatkan daripada khabar yang tidak mengandung ilat hukum sebab khabar yang mengandung ‘illat lebih kuat ditinjau dari sisi tasyri’iy (pensyariatan),
d. Kekuatan khabar ditinjau dari madlul (makna) dapat diringkas sebagai berikut:
(1) Jika salah satu khabar menunjukkan kemudahan, sedangkan yang lain menunjukkan kesukaran, khabar yang maknanya menunjukkan kemudahan lebih dikuatkan dibandingkan khabar yang maknanya memberatkan atau menyukarkan. Ketentuan semacam ini didasarkan pada firman Allah Swt., “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al-Baqarah: 185] dan firman Allah Swt., “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS Al-Hajj [78]: 128).
(2) Jika salah satu khabar menunjukkan pengharaman, sedangkan yang lain menunjukkan kemubahan, khabar yang maknanya menunjukkan pengharaman lebih dikuatkan dibandingkan khabar yang maknanya menunjukkan kemubahan. Hal semacam ini ditentukan berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Jika yang haram berkumpul dengan yang halal, yang haram dimenangkan atas yang halal.” Juga didasarkan pada sabda Rasulullah saw., ‘Tinggalkanlah yang meragukanmu menuju kepada yang tidak meragukanmu.'”
(3) Jika salah satu khabar menunjukkan pengharaman, sedangkan yang lain menunjukkan kewajiban, khabar yang menunjukkan pengharaman lebih dikuatkan daripada yang menunjukkan kewajiban. Ini karena kebanyakan pengharaman ditujukan untuk menghindari mafsadat, sedangkan kewajiban ditujukan untuk meraih manfaat. Menghindari mafsadat lebih diutamakan daripada meraih maslahat,
(4) Jika salah satu khabar menunjukkan kewajiban, sedangkan yang lain menunjukkan kemubahan, khabar yang menunjukkan kewajiban lebih dikuatkan daripada yang menunjukkan kemubahan. Ini karena meninggalkan kewajiban bisa menjatuhkan pelakunya ke dalam dosa, sedangkan meninggalkan kemubahan tidak menjatuhkan pelakunya ke dalam dosa. Menjauhi dosa lebih diutamakan daripada perbuatan yang tidak memberikan implikasi apa pun.
Ini adalah kekuatan dalil jika dinisbahkan kepada dalil sunah. Adapun kekuatan dalil jika dinisbahkan kepada kias dapat diringkas sebagai berikut.
(1) Kias yang disandarkan kepada ilat yang diambil dari nas-nas qath’iy lebih dikuatkan daripada ilat yang diambil dari nas-nas yang tidak qath’iy.
(2) Kias yang disandarkan kepada ilat shurahah (jelas) lebih dikuatkan daripada qiyas yang didasarkan pada ilat dalalah, istinbat, dan kias. Kias yang didasarkan pada ilat dalalah lebih dikuatkan daripada ilat istinbat. Kias yang didasarkan pada ilat istinbat lebih dikuatkan daripada yang didasarkan pada ilat kias.
Atas dasar itu, kekuatan qiyas tergantung dari dua faktor; (1) dalil yang membangun ilat; dan (2) ilat itu sendiri.
Inilah beberapa kaidah dasar yang mesti dimengerti sebelum melakukan tarjih terhadap dalil. Hanya saja, tarjih hanya mungkin dilakukan oleh muttabi, atau oleh seorang mujtahid. Oleh karena itu, jika seorang muttabi dan mujtahid dihadapkan pada dua dalil yang saling bertentangan, keduanya wajib melakukan tarjih hingga diketahui dalil yang paling kuat. Jika dalil yang paling kuat berhasil diidentifikasi, mengamalkan dalil yang terkuat adalah wajib. [MNews/Rgl]
Sumber: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat, Kaidah-Kaidah Taklid, Tuntunan Islam dalam Memilih dan Mengikuti Pendapat

One thought on “[Kaidah-Kaidah Taklid] Hakikat Pertentangan dan Mendahulukan Kompromi (Bagian 2/2)”