Penulis: Imran Yousufzai (Pakistan)
Muslimah News, FOKUS INTERNASIONAL — Nabi Muhammad al-Mustafa saw. adalah Panglima Abadi seluruh umat Islam, menyatakan dirinya sebagai Nabiyul Malahim (yang diutus untuk memerangi musuh-musuh Allah) di antara banyak gelar berkahnya.
Huzaifah ra. berkata, “Saya bertemu dengan Nabi saw. di sebuah jalan di Madinah. Nabi saw. bersabda, “Aku adalah Muhammad, Ahmad, Nabiyur-rahmah (yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam), Nabiyut-taubah (yang melalui perantara beliau Allah membukakan pintu tobat bagi hamba-Nya), al-Muqaffi (penutup para Rasul), al-Hasyir (yang mengumpulkan umat manusia di belakang beliau), dan Nabiyul Malahim.” (HR Tirmidzi dalam Asy-Syamail Muhammadiyah: 367).
Nabi kita Muhammad saw. adalah satu-satunya teladan bagi perwira militer kita dalam membalikkan keadaan pertempuran ketika sejumlah besar umat Islam kewalahan menghadapi serangan mendadak musuh dalam Perang Hunain. Pada perang tersebut, umat Islam terkena dampak serangan pada saat mereka lemah dan serangan itu mematahkan formasi. Gelombang pertempuran berubah dalam beberapa saat dan kekalahan mulai terlihat.
Deskripsinya dalam Al-Quran yang Mulia muncul dalam kata-kata berikut, “… dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-langgang.” (QS At-Taubah [9]: 25).
Dikatakan dalam riwayat bahwa tidak ada seorang pun yang tersisa, kecuali ahlulbait Rasulullah saw. dan beberapa orang Muhajirin. Jadi, pada kesempatan ini, komandan abadi kita—Rasulullah saw.—menunjukkan keberanian yang besar dan maju, menyatakan, “Aku adalah seorang Nabi, bukan seorang pendusta.” (HR An-Nawawi).
Setelah mendengar kata-kata itu, umat Islam berkumpul kembali dan gelombang pertempuran berubah hingga Allah Swt. memberikan Nashr-Nya, yaitu kemenangan yang nyata.
Dalam Perang Qadisiyah, meski menderita penyakit linu panggul, Sa’ad bin Abi Waqqas ra. berhasil memimpin umat Islam meraih kemenangan melawan pasukan Persia yang berjumlah lima kali lipat. Dalam pertempuran ini, titik balik terjadi ketika komandan lainnya menanggapi dengan tegas penggunaan gajah oleh tentara Persia. Mereka secara strategis menargetkan dan melumpuhkan gajah-gajah tersebut sehingga membalikkan keadaan pertempuran.
Dalam Perang Yarmuk, keberanian Khalid bin Walid ra. tidak tertandingi menghadapi 60.000 tentara Romawi dengan 60 orang dalam pertukaran militer pertama, mengerahkan formasi melingkar yang jenius. Ia menimbulkan ketakutan yang begitu besar di hati musuh sehingga pertempuran telah diputuskan, bahkan sebelum dimulai.
Adalah Qutuz dan Baybars yang memberikan tanggapan berani atas surat ancaman dari Wakil Halaku Khan—Katabagha—meskipun menghadapi invasi dan teror Mongol. Katabagha menulis, “Kami telah memperbudak tanah, menjadikan anak-anak yatim piatu, menghukum dan membunuh rakyat, menghancurkan kehormatan para pemimpin mereka. Apakah kamu pikir kamu dapat melarikan diri dari kami? Setelah beberapa saat, kamu akan tahu apa yang akan terjadi padamu.”
Bangsa Mongol telah mengabaikan semua hukum dan standar moral sehingga mendorong Qutuz menyatakan perang dengan mengeksekusi delegasi Mongol di depan umum di gerbang utama Kairo, Bab Zweila. Tindakan berani ini tidak hanya meningkatkan moral umat Islam yang ketakutan, tetapi juga menggarisbawahi komitmen Qutuz untuk berjihad melawan sikap pengecut.
Di tengah pertempuran yang menguntungkan Bangsa Mongol, Qutuz—yang menunjukkan keberanian luar biasa—melepaskan helmnya dan memimpin serangan penuh semangat melawan musuh. Tindakan tegas ini membalikkan keadaan dan membawa kemenangan. Pada 3 September 1260, hanya beberapa minggu setelah kemenangan di Ain Jalut, Suriah dibebaskan, menandai hancurnya Benteng Mongol.
Begitu juga Sa’ad bin Muadz ra., panglima umat Islam dalam Perang Badar. Beliau meminta nasihat Rasulullah saw. sebelum Perang Badar dimulai. Tanggapan Sa’ad melambangkan kesetiaan dan keberanian yang tidak tergoyahkan.
Dengan jelas dan tegas, Sa’ad berdiri dan berkata, “Kami beriman dan memercayaimu. Kami bersaksi bahwa apa yang engkau laksanakan itu benar. Selain itu, kami telah berjanji untuk mendengar dan taat kepadamu. Teruskan apa yang engkau kehendaki wahai Rasulullah, kami akan bersamamu. Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, seandainya engkau meminta kami untuk menceburkan diri ke laut kemudian engkau mencebur, maka kami pun akan mencebur diri kami dan tidak seorang pun dari kami mengingkarimu dan tidak ada yang enggan untuk berperang besok dan sungguh kami akan sabar dalam peperangan nanti. Semoga Allah memberikan kemenangan kepadamu. Berjalanlah bersama kami dengan berkat Allah.” Rasulullah saw. sangat senang dengan ucapan Sa’ad tersebut. Kemudian Nabi saw. bersabda, “Berjalanlah dan berilah kabar gembira. Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadaku pertolongan-Nya. Demi Allah, seolah-olah aku melihat peperangan itu.” (Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, 2: 254).
Di manakah para komandan militer saat ini, yakni yang akan meringankan penderitaan umat Islam dan memperjuangkan tegaknya kekhalifahan (Khilafah), yang siap mengorbankan nyawa mereka demi tujuan tersebut?
Di bawah kepemimpinan seorang khalifah, mereka akan menghadapi entitas Yahudi dengan kekuatan dahsyat, sebuah langkah tegas yang dapat mengusir agen-agen Barat yang mengganggu umat Islam, serta memupuk persatuan di kalangan umat Islam. Dunia Islam sangat menantikan kemunculan pemimpin seperti itu.
Jadi, saya bertanya kepada para perwira Angkatan Darat di negeri-negeri muslim, “Siapa di antara kalian yang akan mengambil inisiatif untuk mendapatkan kehormatan ini?” [MNews/Gz]
Judul asli: Sepanjang Sejarah Militer Islam, Komandan Militer Muslim Mengubah Gelombang Perang dalam Keadaan yang Mengerikan. Di manakah Penerus Mereka yang Terhormat Saat Ini?
