[Kaidah-Kaidah Taklid] Beramal dengan Dalil yang Rajih

[Kaidah-Kaidah Taklid] Beramal dengan Dalil yang Rajih

Penulis: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Pada dasarnya, seorang muslim wajib beramal dengan dalil yang rajih. Ijmak sahabat ra. telah menunjukkan dengan jelas bahwa beramal dengan dalil yang rajih dan meninggalkan dalil yang lemah adalah kewajiban.

Para sahabat ra. lebih menguatkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra. dibandingkan dengan khabar yang dituturkan oleh Abu Sa’id al-Khudriy mengenai masalah orang yang bersetubuh, tetapi tidak keluar air mani, apakah ia wajib mandi atau tidak. Berdasarkan riwayat Abu Sa’id, seseorang yang bersetubuh, tetapi tidak keluar air maninya, ia tidak wajib mandi. Namun, riwayat ini bertentangan dengan hadis Aisyah ra. yang menuturkan bahwa Rasulullah saw. tetap mandi junub meskipun tidak keluar air maninya.

Aisyah menuturkan, “Jika dua kemaluan bertemu, maka wajib mandi junub. Sesungguhnya aku melakukan hal itu dengan Rasulullah saw. dan kami berdua mandi.” Para sahabat lebih mengutamakan riwayat Aisyah ra. dikarenakan beliau ra. lebih memahami masalah tersebut dibandingkan Abu Sa’id (ra.).

Para sahabat juga melemahkan riwayat Abu Hurairah yang menuturkan tidak sahnya puasa dalam keadaan junub. Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja bangun pada waktu subuh dalam keadaan junub maka tidak ada puasa bagi dirinya.” Para sahabat ra. melemahkan riwayat ini dan beramal dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah (ra.).

Ali ra. juga lebih menguatkan khabar Abu Bakar ra. dan beliau tidak pernah meminta Abu Bakar untuk bersumpah. Akan tetapi, ia meminta sumpah kepada selain Abu Bakar ra..

Abu Bakar juga menguatkan khabar Al-Mughirah dalam masalah harta warisan seorang nenek yang juga disaksikan oleh Muhammad bin Maslamah. Al-Hafidz adz-Dzahabiy berkata, “Abu Bakar ra. adalah orang berhati-hati dalam menerima khabar. Ibnu Syihab meriwayatkan dari Qubaishah bin Dzuaib bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan untuk dirinya. Abu Bakar menjawab, ‘Di dalam Al-Qur’an saya tidak menemukan sesuatu untuk dirimu dan saya tidak mengetahui Rasulullah saw. menyebut sesuatu untuk dirimu.’ Kemudian Abu Bakar bertanya kepada para sahabat yang lain. Al-Mughirah berdiri dan berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah saw. berkata bahwa ia memberikan seperenam bagian untuknya.’ Abu Bakar bertanya kepadanya, ‘Adakah orang lain yang menyaksikan sabda Rasulullah saw. tersebut?’ Setelah Maslamah bin Muhammad memberikan kesaksian tentang hal itu, Abu Bakar memberikan waris nenek itu berdasarkan sabda Rasulullah saw. itu.”

Umar juga menguatkan khabar Abu Musa al-Asy’ariy dalam masalah izin.

Para sahabat ra. tidak pernah memutuskan suatu perkara dengan pendapat dan kias, kecuali setelah melakukan kajian terhadap nas-nas syarak dan tidak menemukan ketetapan di dalamnya. Siapa saja yang mengkaji secara mendalam perilaku mereka dan realitas ijtihad mereka akan berkesimpulan bahwa para sahabat telah mewajibkan beramal dengan dalil yang paling rajih.

Selain ijmak sahabat, dalil yang mewajibkan beramal dengan dalil yang rajih adalah sunah Nabi (saw.). Tatkala beliau saw. mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau menetapkan urut-urutan dalil serta pengutamaan satu dalil atas dalil yang lain.

Imam Az-Zarkasyiy dalam Al-Bahr mengatakan, “Ketahuilah. Allah Swt. tidak menetapkan seluruh hukum syariat di atas dalil-dalil qath’iy. Akan tetapi, Dia banyak menetapkannya berdasarkan dalil zhanniy, dengan tujuan untuk memberikan keluasan kepada mukalaf. Ini ditujukan agar mereka tidak hanya mengikuti satu mazhab untuk melaksanakan dalil-dalil yang qath’iy. Jika telah ditetapkan bahwa yang diakui di dalam hukum-hukum syariat adalah dalil-dalil zhanniy yang kadang-kadang di antara dalil-dalil tersebut ada pertentangan pada aspek tampak (tekstual) dan tersembunyi (kontekstual), maka wajib dilakukan tarjih di antara dua dalil yang bertentangan tersebut dan wajib beramal dengan dalil yang lebih kuat.” [MNews/Rgl]

Bahasan sebelumnya: “Definisi Tarjih”

Sumber: Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy dan M. Haris Adiningrat, Kaidah-Kaidah Taklid, Tuntunan Islam dalam Memilih dan Mengikuti Pendapat

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *