[Tapak Tilas] Arafah dan Khotbah Politik Rasulullah ﷺ

[Tapak Tilas] Arafah dan Khotbah Politik Rasulullah ﷺ

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — “Wahai umat manusia, dengarkanlah yang akan aku katakan di sini. Mungkin saja setelah tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini, untuk selamanya.”

Demikian Rasulullah ﷺ mengawali khotbahnya di Arafah. Sebagian kaum muslim yang hadir terheran-heran. Sementara itu, sebagiannya lagi mulai terbawa suasana hingga banyak di antara mereka yang tidak kuasa menahan tangisnya.

Saat itu, seluruh mata dan hati kaum muslim memang sedang terpusat pada sosok mulia yang berdiri di hadapan mereka. Sosok itu begitu mereka cinta, dan hari itu, mereka sedang bersamanya sehingga mereka pun menanti-nanti apa yang akan disampaikan selanjutnya.

Namun sungguh, tidak ada seorang pun mengira, khotbah pada hari ke-9 Zulhijah tahun ke-10 H itu adalah khotbah haji yang pertama dan terakhir Rasulullah ﷺ.

Haji Akbar, Haji Perpisahan

Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad (terjemahan, halaman 547), Muhammad Husain Haekal menyebutkan, ketika tersiar kabar bahwa Rasulullah saw. telah menetapkan akan berangkat haji dan mengajak kaum muslim ikut serta, mereka pun berdatangan dari berbagai tempat menuju Kota Madinah. Suasana ketika itu begitu semarak karena lebih dari seratus ribu orang memasang kemah-kemah di sekitar kota untuk memenuhi seruan Nabi yang mereka cinta.

Hati mereka diliputi suasana gembira dan penuh rasa ukhuah, seakan-akan satu sama lainnya sudah saling mengenal lama. Lalu pada 25 Zulkaidah tahun ke-10 hijriah, jemaah yang begitu melimpah berangkat menuju Makkah. Nabi sendiri berangkat dengan membawa semua istrinya, masing-masing dalam kendaraannya.

Dikisahkan dalam buku tersebut, para penulis sejarah ada yang menyebutkan jumlahnya 90.000 orang, ada pula yang menyebutkan 114.000 orang. Mereka berangkat dibawa oleh iman. Jantung mereka penuh kemuliaan dan keikhlasan menuju ke Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji akbar.

Ketika tiba di Dzulhulaifah, Nabi mendirikan kemah hingga lewat tengah malam. Lalu pada pagi harinya, beliau menyuruh seluruh jemaah haji mengenakan pakaian ihram dan berangkat menuju Makkah sambil mengucap talbiah. Terbayang betapa gegap gempitanya tatkala di perjalanan mereka bersama-sama memuji Allah. Dengan dipimpin Rasulullah, mereka serentak mengucapkan kalimah, “Labbaika Allaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaik. Alhamdulillaah wanni’matu wasy-syukru laka labbaika.”

Setelah memasuki Kota Makkah, Rasulullah ﷺ beserta rombongan pun segera melakukan manasik haji. Mulai dari tawaf mengitari Ka’bah tujuh kali putaran, berdoa di makam Ibrahim, sai antara Shafa dan Marwah, serta disusul dengan tahalul, yakni membebaskan seluruh jemaah haji dari hal-hal yang dilarang selama ibadah haji berlangsung yang ditandai dengan mencukur rambut.

Baru pada 8 Zulhijah, rombongan jemaah bergerak menuju Mina dan bermalam di tempat tersebut. Setelah menunaikan salat Subuh, mereka menuju ke Tanah Arafah yang jaraknya sekitar tujuh km dari Kota Makkah untuk berwukuf di sana.

Di Arafah, Air Mata Mukmin pun Tertumpah Ruah

Arafah kala itu memang menjadi tempat yang begitu istimewa. Lebih dari seratus ribu kaum muslim berkumpul untuk melakukan wukuf sebagai salah satu rangkaian ibadah haji bersama Rasulullah ﷺ. Pada saat itu pula mereka berkesempatan mendengarkan khotbah Haji Wadak yang memberi kesan begitu mendalam hingga air mata mereka pun bercucuran.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan yang lain soal isi khotbah Rasulullah ﷺ saat itu, juga diceritakan oleh Muhammad Husain Haekal dalam kitab yang sama, bahwa tatkala Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat-kalimat itu, Rabi’ah ra. mengulanginya kalimat demi kalimat. Ia pun meminta kepada khalayak untuk menjaganya dengan penuh kesadaran. Rasulullah ﷺ pun memintanya untuk menanyai mereka, “Hari apakah ini?” Lalu mereka menjawab, “Hari haji akbar!” Lalu Rasul ﷺ pun bersabda lagi kepadanya, “Katakan kepada mereka bahwa darah dan harta kamu oleh Tuhan disucikan, seperti hari ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian bertemu Tuhan.” Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu Rasulullah ﷺ bersabda lagi, “Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?” Lalu dari segenap penjuru kaum muslim serentak menjawab, “Ya!” Lalu Rasul ﷺ pun bersabda lagi, “Ya Allah, saksikanlah ini!”

Pada Hari Arafah, Kesempurnaan Islam Diproklamasikan

Saat Rasulullah ﷺ menyampaikan khotbah terakhirnya itu, beliau turun dari untanya yang bernama Al-Qashwa. Beliau masih berada di tempat itu sampai pada waktu salat Zuhur dan Asar, kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakharat.

Pada waktu itulah surah Al-Maidah ayat 3 turun. Lalu beliau pun membacakannya kepada kaum muslim, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maidah: 3).

Surah ini seolah membingkai isi pesan Rasulullah ﷺ dalam khotbah saat prosesi wukuf. Saat itu, beliau mengingatkan kaum muslim agar selalu memegang teguh risalah Islam, mulai dari soal akidah hingga hukum-hukumnya. Bahkan, beliau ﷺ berpesan agar kaum muslim tidak meninggalkan sumber-sumber hukumnya, yakni Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah agar mereka tidak tersesat selamanya.

Adalah Sayidina Abu Bakar sontak menangis terisak-isak saat mendengar ayat itu dibacakan. Rupanya beliau merasa bahwa turunnya ayat itu bukan hanya menegaskan telah sempurnanya risalah Islam, tetapi juga menandai sudah dekatnya masa Baginda Nabi untuk kembali ke hadirat Allah Taala.

Setelah meninggalkan Arafah, Rasulullah bermalam di Mudzdalifah, lalu pagi harinya turun ke Masy’aril Haram, dan dilanjut menuju Mina untuk melaksanakan lempar jamrah dan setelahnya menuju Makkah untuk tawaf perpisahan. Setelah semua selesai, beliau pun kembali menuju Madinah dan benar dugaan Abu Bakar, sekitar tiga bulan setelah itu, beliau ﷺ wafat menemui Rabb-nya.

Mengembalikan Spirit Arafah

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikisahkan bahwa tatkala ayat ini turun, Sayidina Umar pun menangis. Lalu Nabi ﷺ bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Umar menjawab, “Aku menangis disebabkan karena selama ini kita berada dalam penambahan agama kita, tetapi jika sudah sempurna, tidak ada sesuatu pun yang sempurna melainkan akan berkurang.” Kemudian beliau bersabda, “Engkau benar.”

Ya, turunnya Surah Al-Maidah ayat 3 pada Hari Arafah itu sejatinya merupakan proklamasi sempurnanya risalah Islam. Sementara itu, tangisan Umar bin Khaththab ra. mencerminkan kekhawatirannya yang besar akan nasib risalah ini pada masa depan.

Itulah yang membuat para khalifah pengganti Rasulullah dan generasi setelahnya terus berjuang menjaga agama agar tidak hilang kesempurnaannya hingga dari generasi ke generasi institusi penjaganya—yakni Khilafah Islam—terus ditegakkan meski bukan tanpa kekurangan. Namun, saat kaum muslim menenggak racun sekularisme pasca-Khilafah tiada, hilanglah kemuliaan mereka sejalan dengan hilangnya kesempurnaan penegakan syariat Islam.

Kekhawatiran Umar itu telah benar-benar terwujud. Risalah Islam yang sempurna kian tereduksi sedemikian rupa hingga tidak lebih dari ajaran ritual semata. Oleh karenanya tidak heran, momen haji ke haji tetap berlangsung hingga kini. Namun, jutaan kaum muslim yang berkumpul di Arafah ternyata belum mampu menghadirkan spirit Haji Wadak yang diwariskan baginda Rasulullah.

Ukhuah dan kasih sayang kini tersekat kuat oleh semangat kebangsaan. Kecintaan pada Nabi pun hanya sebatas ucapan lisan. Mereka tidak merasa sedih dan berdosa saat syariat yang dengan gigih Rasul perjuangkan nyatanya malah dicampakkan. Bahkan, sebagian dari mereka berpikir jika syariat Nabinya yang sempurna diterapkan, umat akan ditimpa keburukan.

Sungguh, jika kita diam, kita termasuk apa yang dikatakan Umar, yakni tanpa sadar menjadi pelaku makar terhadap syariat Islam hingga syariat ini berkurang dan hilang kesempurnaan. Tidak heran jika kini Islam menjadi sesuatu yang asing di kalangan pemeluknya sendiri.

Cukuplah ayat Allah sebagai sumber keyakinan bahwa syariat Islam adalah syariat yang sempurna dan wajib diperjuangkan. Caranya dengan mewujudkan kembali institusi penjaganya yang sempat dihancurkan oleh musuh-musuh Islam. [MNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *