[Nafsiyah] Islam Mencela Sifat Malas (Al-Kasal)

[Nafsiyah] Islam Mencela Sifat Malas (Al-Kasal)

Muslimah News, NAFSIYAH — Pernahkah pembaca merasa berat dalam suatu urusan yang seharusnya tidak perlu merasa berat? Ini adalah pertanda malas. Malas adalah tidak adanya kemauan dan merasa berat melakukan pekerjaan walaupun sebenarnya mampu menyelesaikannya.

Islam mencela sifat malas karena beberapa alasan.

Pertama, jiwa menjadi buruk.

Nabi saw. bersabda, “Bila seorang hamba bangun malam, lalu berzikir, lepaslah satu ikatan (setan). Bila ia berwudu, lepaslah satu ikatan lagi. Jika ia salat, lepaslah seluruh ikatan (setan tersebut). Pada pagi hari, jiwanya akan bersemangat dan baik. Jika tidak bangun, jadilah jiwanya jelek dan malas.” (HR Bukhari)

Kedua, malas merupakan sifat orang munafik.

Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan bila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An-Nisa: 142)

Ketiga, malas mendatangkan penyesalan.

Dalam Miftah Dar al-Sa’adah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, malas akan melahirkan sifat menyia-nyiakan waktu, berlebihan, tidak memperoleh apa pun, dan penyesalan yang sangat parah.

Oleh karena itu, setiap orang yang malas akan menafikan sifat keinginan dan kekuatan, padahal keduanya adalah buah dari ilmu. Bila seseorang mengetahui kesempurnaan dan kenikmatan pada sesuatu, ia pasti mencari dengan usaha dan keinginan yang kuat. Ini karena setiap orang pada dasarnya akan selalu berusaha menggapai kesempurnaan diri dan kelezatannya.

Saudariku, tahukah engkau penyebab utama kemalasan? Penyebab utama kemalasan adalah terlalu banyak tidur dan berangan-angan kosong yang membuat hati keruh. Jiwa merasa tidak punya semangat untuk menghabiskan waktu dengan kebaikan. Padahal, cara melewati hari yang menyenangkan ialah ketika bisa produktif melakukan apa saja yang bermanfaat.

Allah saja memerintahkan kita pada malam hari tidak seutuhnya digunakan untuk tidur, tapi juga digunakan untuk beribadah kepada-Nya.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” (QS Al-Muzammil: 1—3)

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.” (QS Al Muzammil: 20)

Kemudian, angan-angan kosong menjadikan manusia malas dan membuang waktu dalam kesia-siaan. Allah menggambarkan kecaman-Nya pada orang kafir, “Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS Al-Hijr: 2—3)

Lantas, bagaimana cara menghilangkan penyakit malas? Menghilangkan penyakit malas dapat dilakukan dengan memilih pergaulan yang baik, mendukung seseorang mengisi hidup dengan hal-hal positif. Teman yang rajin dapat mendorong diri untuk meniru dan ikut dalam berbuat baik. 

Dari Abu Musa, Rasulullah saw. bersabda, “Pemisah teman duduk yang baik dan teman yang jelek, bagaikan penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau akan membelinya atau engkau mendapat bau wanginya. Adapun tukang pandai besi, dapat membakar rumahmu, bajumu atau engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR Bukhari)

Selain itu, cara menghilangkan malas dapat dengan mengingat pentingnya waktu yang tidak berulang. Menyia-nyiakannya menjadikan hidup menjadi tidak berarti. Jangan lupa berdoa pada Allah Swt. agar menjauhkan kita dari sifat malas dan agar dapat mengoptimalkan potensi akal dengan melakukan berbagai amal saleh. Wallahualam. [MNews/Rndy]

Share

One thought on “[Nafsiyah] Islam Mencela Sifat Malas (Al-Kasal)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *