Muslimah News, TAFSIR AL-QUR’AN — Kedua, petunjuk yang berupa ad-dalâlah wa ad-da’wah wa at-tanbîh (petunjuk, dakwah dan peringatan).24 Al-Jazairi menyebutnya dengan hidâyah bayân wa irsyâd (petunjuk penjelasan dan keterangan);25 yakni petunjuk berupa diutusnya para nabi dan diturunkannya kitab-kitab-Nya.
Dalam QS Asy-Syura [42]: 52 diberitakan bahwa Rasulullah saw. telah memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Seluruh nabi yang diutus kepada setiap kaum juga disebut sebagai hâd[in], pemberi petunjuk (QS ar-Ra’d [13]: 7). Allah Swt. juga telah menjadikan para nabi sebagai pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah-Nya (lihat QS Al-Anbiya’ [21]: 73).
Petunjuk ini pula yang telah diberikan kepada kaum Tsamud. Namun, mereka lebih memilih kekufuran (QS Fushilat [41]: 17). Demikian pula petunjuk yang diberikan kepada Adam dan anak-cucunya (lihat QS Thaha [20]: 123).
Penyebutan Al-Qur’an sebagai hudâ li an-nâs ataupetunjuk bagi seluruh manusia (lihat QS Al-Baqarah [2]: 185) dapat dimasukkan dalam pengertian ini. Al-Qur’an dinyatakan telah memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus (lihat QS al-Isra’ [17]: 9). Semua petunjuk itu berarti penjelasan kebenaran dari Allah Swt. kepada hamba-Nya.
Petunjuk ini juga diberikan kepada semua mukalaf. Dengan datangnya petunjuk itu kepada mereka, mereka tidak memiliki alasan di hadapan Allah Swt. jika mengingkari atau melanggarnya (lihat QS An-Nisa’ [4]: 165). Sebaliknya, jika ada suatu kaum yang belum mendapatkan petunjuk ini, mereka dijamin tidak akan mendapatkan azab (lihat QS Al-Isra’ [17]: 15).
Ketiga, hidayah yang berupa pengukuhan dan pemberian taufik.26 Dalam hal ini, manusia diteguhkan dan diberi taufik untuk mengikuti petunjuk-Nya yang disampaikan oleh rasul dan kitab-Nya. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, ayat ini (QS Al-Fatihah [1]: 6) termasuk yang mengandung pengertian tersebut.
Pengertian ini pula yang dikandung dalam QS Muhammad [47]: 17 yang menjanjikan tambahan petunjuk bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Dalam QS Maryam [18]: 76 disebutkan bahwa Allah Swt. akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk-Nya. Dalam QS An-Nur [24]: 54 juga ditegaskan bahwa orang-orang yang menaati Rasul akan mendapatkan petunjuk.
Jika hidayah dalam pengertian pertama dan kedua diberikan kepada semua mukalaf, tidak demikian dengan hidayah dalam pengertian taufik. Hidayah tersebut hanya akan diberikan kepada orang-orang tertentu. Di antaranya adalah yang berjuang di jalan-Nya(Lihat: QS Al-Ankabut [29]: 69).
Sebaliknya, ada pula beberapa golongan manusia yang tidak diberi hidayah taufik ini. Mereka adalah orang-orang kafir (lihat: QS Al-Baqarah [2]: 264), orang-orang zalim (lihat: QS Al-Baqarah [2]: 258), orang-orang fasik (lihat: QS Ash-Shaff [61]: 5), melampaui batas lagi pendusta (lihat: QS Al-Mukminun [40]: 28), dan orang-orang yang Allah sesatkan (lihat: QS An-Nahl [16]: 37).
Demikian pula orang-orang yang berpaling dari kebenaran. Allah Swt. pun memalingkan hati mereka (lihat: QS Ash-Shaff [61]: 5). Orang-orang yang melampaui batas dikunci hatinya (lihat: QS Yunus [10]: 74).
Selama mereka masih melekat dengan sifat-sifat tersebut, mereka tidak akan mendapatkan hidayah taufik-Nya. Oleh karena itu, jika ingin memperoleh hidayah taufik-Nya, mereka harus terlebih dahulu melepaskan semua sifat yang menjadi penghalangnya. Kesempatan untuk mendapatkan hidayah taufik-Nya menjadi terbuka jika mereka bertobat dari semua sifat jahat tersebut (Lihat: QS Ar-Ra’d [13]: 27).
Bertolak dari paparan di atas, jelaslah bahwa yang berperan langsung dalam perkara hidayah dan dhalâlah adalah manusia. Manusia diberi keleluasaan dalam merespons petunjuk Allah yang disampaikan utusan-Nya dan tertera dalam kitab-Nya.
Tentu, pilihan tersebut mengandung konsekuensi. Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Sebaliknya, siapa pun yang berpaling dari petunjuk dan peringatan-Nya, baginya kecelakaan di dunia dan akhirat (lihat: QS Thaha [20]: 123-124).
Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
Sumber: Majalah Alwa’ie edisi Juli 2009
Catatan kaki:
1 Ketiga nama tersebut dapat dilihat dalam Al-Baghawi, Ma’âlim At-Tanzîl, vol. 1 (Riyadh: Dar al-Thayyibah, 1989), 49.
2 Dalam hadis qudsi riwayat Muslim dari Abu Hurairah disebutkan bahwa dalam surah Al-Fatihah terbagi menjadi dua bagian. Setengahnya untuk Allah dan setengahnya lagi untuk hamba-Nya. Bagi hamba-Nya apa yang dia minta.
3 Abu Bakar Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihhah (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), 827. Lihat juga Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, vol. 15 (Beirut: Dar al-Shadir, tt), 353.
4 Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, vol. 1 ( Beirut: Dar al-Ummah, 2003), 98.
5 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 1 (Riyadh: Dar ‘Alam al-Kitab, 2003), 147; As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1 (Kairo: Markaz Hijr, 2003), 75-76; Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 143; Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 23; Ibnu Juzyi al-Kalbi, At-Tashîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 46; Ash-Shabuni, Rawâi’ al-Bayân fî Tafsîr آyât al-Ahkâm, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 28.
6 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl Al-Qur’ân, vol. 1 (tt: al-Risalah, 2000), 170.
7 As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 75
8 Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 2000), 24; As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 76; Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 23.
9 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 1, 175; As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 76; Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 23.
10 Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 1, 24;
11 Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 1, 54. Dalam As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 79 disebutkan bahwa pendapat tersebut berasal dari Ibnu ‘Abbas.
12 Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 1, 24-25.
13 Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 24.
14 Asyl-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 23. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Juzyi al-Kalbi, At-Tashîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 1, 46
15 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl Al-Qur’ân, vol. 1, 166.
16 Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 1, 549
17 Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 1, 25
18 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 1, 178-179; As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 83
19 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 1, 178
20 As-Sa’di, Taysîr al-Karîm ar-Rahmân, vol. 1, (tt: al-Risalah, 2000), 39.
21 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 149; As-Sinqithi, Adhwâ’ al-Bayân, vol. 1 (tt: Dar ‘Alam al-Fawaid, tt), 53.
22 As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 83-84; 86.
23 Ar-Raghib al-Asfhani, Mufradât Alfâzh Al-Qur’ân (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 536. Penjelasan hampir sama juga dipaparkan Al-Qasimi, Mahâsin at-Ta’wîl, vol. 2 (tt: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957), 14-15.
24 Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 33.
25 Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, vol. 1 (Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hukm, 2003), 15.
26 Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 33.
