Muslimah News, Kabar Daerah – Diberitakan bahwa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), sebuah kampus swasta di Kota Malang, melakukan branding untuk mengangkat citranya dengan kegiatan Unitri Go to Market 2024.
Beragam kegiatan dilakukan, mulai dari sharing session, game corner, hingga pertandingan Mobile Legend. Game corner dan juga pertandingan Mobile Legend telah dilaksanakan sejak 8 Maret 2024.
Jauh
Hal itu pun mendapat sorotan dari dosen di Surabaya Dr. Lizda Johar Mawarani, S.T., M.T.. “Apa yang dilakukan oleh universitas tersebut menjadi bukti makin jauhnya pendidikan tinggi saat ini dari visi dan misi menghasilkan generasi emas dalam rangka membangun dan meninggikan peradaban,” tuturnya kepada MNews, Selasa (19-3-2024).
Ia merasa heran, mengapa sebuah universitas mem-branding kampusnya dengan gim online? Sedangkan banyak penelitian menyebutkan bahwa gim online memberikan dampak buruk terhadap mahasiswa.
“Meskipun mahasiswa merasa ada dampak positif seperti mengurangi stres, sarana mencari uang, serta melatih komunikasi dalam bahasa asing, tetapi lebih besar dampak buruknya, apalagi jika mahasiswa tersebut kecanduan,” ulasnya.
Ia menambahkan, bermain gim online juga bisa menyebabkan mereka lupa waktu, tidak mengenal pagi, siang, atau malam.
“Ketika sudah asyik bermain, mereka bahkan bisa lupa diri, seperti lupa makan, lupa mandi, lupa kuliah, dan lain-lain. Tidak hanya itu, mereka juga sering kali merugi karena tidak jarang gim online menjadi sarana judi online terselubung,” kritiknya.
Jadi, jika kampus menjadikan game corner sebagai upaya meningkatkan citra, ucapnya, maka yang terjadi justru sebaliknya.
“Sebab citra kampus itu tampak dari prestasi mahasiswanya dalam bidang akademik, bukan dalam kompetisi game online yang melenakan dan melemahkan taraf berpikir mahasiswa,” sesalnya.
Menurut Islam
Hal tersebut menurutnya berbeda dengan pendidikan tinggi dalam sistem Islam. “Gemilangnya peradaban Islam telah menjadikan pendidikan tinggi sebagai institusi yang mencetak para lulusan menjadi orang-orang yang siap berkiprah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di tengah masyarakat,” bandingnya.
Ia beralasan, pendidikan tinggi dalam sistem Islam berlandaskan nilai-nilai Islam dan bertujuan memantapkan kepribadian Islam, mencetak para ahli dan spesialis, serta mengantarkan para lulusannya agar dapat mengembangkan diri sehingga menjadi berdaya.
“Tidak hanya itu, keberhasilan pendidikan tinggi mencapai tujuannya mencetak generasi emas juga ditopang oleh pendanaan yang kuat dari baitulmal,” imbuhnya.
Alhasil, menurutnya tidak heran jika pada masa keemasan Islam dunia Islam dipenuhi oleh para ulama dan ilmuwan yang berkarya tanpa kenal lelah.
“Penemuan-penemuan dan karya-karya mereka masih banyak digunakan hingga sekarang. Menilik pendidikan tinggi Islam yang demikian, tidakkah kita merindukannya kembali di tengah kehidupan kita?” tanyanya memungkasi penuturan. [MNews/IA]
Sumber foto:
