[Kabar] Aktivis: Solusi Sejati bagi Rohingya Adalah Kembalinya Kekhalifahan

[Kabar] Aktivis: Solusi Sejati bagi Rohingya Adalah Kembalinya Kekhalifahan

Muslimah News, INTERNASIONAL — Mengutip Bangla News (14-3-2024), PBB menyerukan lebih banyak sumbangan untuk pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp di Bangladesh.

Dalam rencana respons tahunannya terhadap krisis ini, PBB meminta dana sebesar US$852,4 juta untuk menyediakan makanan dan bantuan lainnya kepada sebagian besar pengungsi muslim Rohingya dan tuan rumah mereka.

Bangladesh telah menampung lebih dari satu juta anggota kelompok minoritas yang sebagian besar tidak memiliki kewarganegaraan. Banyak di antaranya melarikan diri akibat konflik yang terus meningkat dari tindakan keras militer Myanmar pada 2017.

UNHCR menyebut, sekitar 95% orang Rohingya di Bangladesh masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. “Solidaritas internasional dengan Bangladesh dan perlindungan pengungsi sangat dibutuhkan seiring meningkatnya konflik di Myanmar,” katanya.

Bahkan Al-Jazeera memberitakan (19-3-2024), terdapat laporan bahwa militer Myanmar sedang mengebom wilayah sipil. Serangan udara tersebut menghantam Desa Thar Dar, sebuah desa yang mayoritas penduduknya Rohingya sekitar 5 km (3 mil) utara Minbya, pada Senin pagi (18-3-2024), menewaskan 10 pria, 4 wanita, dan 10 anak-anak. “Tidak ada pertempuran di desa kami dan mereka mengebom kami,” kata seorang warga.

Farhan Haq, wakil juru bicara Sekjen PBB, menyampaikan bahwa meluasnya konflik di Negara Bagian Rakhine mendorong perpindahan dan memperburuk kerentanan dan diskriminasi yang sudah ada sebelumnya. “Sekretaris Jenderal menyerukan semua pihak untuk mencegah hasutan ketegangan komunal lebih lanjut,” ujarnya.

Solusi Sejati

Mencermati penderitaan muslim Rohingya yang berlarut-larut ini, aktivis dakwah Abdullah Aswar menyatakan, perlu solusi sejati untuk menghentikannya.

“Solusi sejati bagi Rohingya terletak pada kembalinya kekhalifahan dan meninggalkan nasionalisme,” ungkapnya dikutip dari sebuah media dakwah ideologis internasional (21-3-2024).

Ia mengatakan, muslim Rohingya telah mengungsi dari tanah air mereka di wilayah Arakan, Myanmar selama bertahun-tahun. “Lebih dari satu juta pengungsi tinggal di Bangladesh dan ribuan lainnya tersebar di wilayah lain, termasuk Malaysia dan Indonesia,” ucapnya.

Menurutnya, muslim Rohingya mewakili sebagian kecil dari populasi muslim dunia yang berjumlah sekitar dua miliar.

“Banyak negara muslim yang makmur memiliki sumber daya yang melimpah. Jika umat Islam di seluruh dunia mengulurkan tangan mereka untuk membantu, mungkin penderitaan yang dialami warga Rohingya tidak akan seburuk ini,” ujarnya.

Ia menyampaikan, di kamp pengungsian di Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia, mereka menunggu bantuan dari berbagai pihak untuk menyambung hidup, tetapi tidak bisa merasakan kebebasan bekerja dan menjalani kehidupan yang bermartabat.

“Yang lebih buruk lagi, di Indonesia, dalam beberapa bulan terakhir, pengungsi Rohingya telah dituduh secara tidak adil sehingga menyebabkan serangan oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa, termasuk pemuda dan pelajar,” jelasnya prihatin.

Terlebih saat Ramadan, tambahnya, dahulunya merupakan perayaan yang menggembirakan bagi umat Islam.

“Namun, setelah runtuhnya kekhalifahan, telah kehilangan kegembiraannya. Menyaksikan saudara-saudara Muslim kita di berbagai daerah diperlakukan tidak berperikemanusiaan, dibantai, disiksa, diusir, dan dibunuh secara massal, sungguh mengurangi kegembiraan kita,” tuturnya.

Oleh karenanya, ia menekankan agar umat ​​Islam bisa mengambil pelajaran dari semua ini dan segera bersatu, meninggalkan nasionalisme yang memecah-belah.

“Selanjutnya, berjanji setia kepada seorang khalifah yang akan membebaskan umat Islam yang tertindas dan menyatukan mereka kembali dalam suasana yang penuh kasih sayang dan keridaan Allah Swt.,” ucapnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *