[Tapak Tilas] Nasib Minoritas Muslim di Bumi Lorosae

[Tapak Tilas] Nasib Minoritas Muslim di Bumi Lorosae

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Bumi Lorosae adalah nama tradisional bagi negara Timor Leste. Negara ini merupakan pecahan Indonesia yang luas wilayahnya hanya 14.874 km² dan per Maret 2024 berpenduduk sekira 1,373 juta jiwa. Negara ini resmi memisahkan diri dari Indonesia tahun 2022 setelah terjadi pergolakan sosial dan politik yang berujung referendum pada 30 Agustus 1999.

Sebelum memerdekakan diri, negara ini dikenal dengan nama Provinsi Timor Timur atau Timor Lorosae atau Nusa Cendana. Posisinya memang ada di kepulauan Timor berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) sekarang.

Bisa dikatakan, antara penduduk asli Timor Timur atau Timor Leste dengan penduduk asli NTT terdapat irisan sejarah. Keduanya masih satu rumpun suku yang disebut rumpun Timor. Antara lain terdiri dari suku Atoni, suku Boti, suku Helong, suku Tetun, dll..

Persentuhan dengan Islam

Dalam catatan sejarah Indonesia, disebutkan bahwa pada abad ke-14, wilayah Timor pernah masuk dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca (1365) dalam karyanya, Kitab Negara Kertagama, menyebutkan bahwa wilayah ini merupakan bagian dari 98 anak sungai (wilayah kekuasaan) Majapahit yang dipimpin oleh raja-raja yang otonom.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa sejak abad 14 hingga 16, wilayah ini tidak luput dari gerakan masif dakwah internasional. Terlebih saat itu di bagian barat dan utara Nusantara sudah berdiri beberapa kekuasaan politik Islam yang merepresentasikan kekuasaan Khilafah, seperti Kesultanan Demak, Aceh, dan Malaka.

Pada masa kejayaannya, kesultanan-kesultanan tersebut mampu meluaskan pengaruhnya ke berbagai tempat di timur Nusantara. Hal itu terjadi seiring dengan berkembangan jalur perdagangan antara dunia Arab, India, Eropa, dan Tiongkok yang mulai merambah timur Nusantara. Terutama ketika wilayah-wilayah ini diketahui merupakan pusat rempah-rempah dan kayu cendana beserta berbagai komoditas penting lainnya. Faktor inilah yang menarik minat para pedagang dari negeri-negeri tersebut untuk singgah, bahkan bermukim di sana.

Konon sejak abad ke-14 itu, banyak pedagang sekaligus dai muslim dari Hadramaut yang datang ke Pulau Timor. Namun, permukiman pertama orang-orang Arab di Bumi Lorosae baru tercatat saat Abdullah Afif pertama kali sampai di Dili pada tahun 1512. Kemudian disusul oleh Habib Umar Muhdlar beserta keturunan-keturunan Arab lainnya hingga terbentuklah beberapa perkampungan Arab yang masyarakatnya berbaur dengan masyarakat asli di sana.

Dengan demikian, secara alami, ajaran Islam pun mulai diterima oleh penduduk asli Bumi Lorosae yang sebelumnya menganut ajaran animisme dan dinamisme. Bahkan penganut ajaran Islam kemudian menjadi mayoritas, sekalipun tidak sampai terbentuk kekuasaan politik sebagaimana di tempat-tempat lainnya.

Adapun aspek politik di Bumi Lorosae ini justru dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik Islam di wilayah-wilayah sekitar. Misalnya, oleh Kesultanan Ternate yang saat itu di bawah kepemimpinan sultan ke-7, yakni Sultan Baabullah yang berkuasa sejak 1570 hingga 1583.

Saat itu, Kesultanan Ternate memang sedang berada di puncak kejayaannya. Namun, pada saat yang sama, Portugis pun sedang berupaya menancapkan kuku penjajahannya di Nusantara, terutama di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara. Sultan Baabullah pun berusaha melakukan mobilisasi kekuatan Islam di nusantara dalam upaya melawan, hingga berbagai wilayah di timur nusantara, termasuk pulau Timor dan wilayah di Nusa Tenggara lainnya masuk dalam genggamannya.

Terkait hal ini, catatan sejarah menyebutkan, perwakilan kesultanan Ternate yang disebut Sangaji hadir di berbagai daerah, dari Jawa, Sumatra hingga Papua, termasuk di Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur hingga di wilayah Timor Leste atau Bumi Lorosae. Ini menunjukkan bahwa sejarah Timor Leste atau Bumi Lorosae, sejatinya tidak bisa dilepaskan dari sejarah kejayaan Islam di Nusantara.

Menjadi Sasaran Misi Zending

Sayangnya, beberapa saat kemudian, kekuatan politik Islam sedikit demi sedikit mulai melemah. Kuku-kuku penjajahan mulai berhasil ditancapkan dengan cara menabur konflik di tubuh internal kekuasaan politik Islam. Persaingan Portugis dan Belanda dalam merebut pengaruh politik dan ekonomi di Nusantara pun berimbas signifikan pada kekuatan politik umat Islam.

Terlebih di luar itu, penjajah Portugis dan Belanda menggunakan penyebaran agama sebagai alat penjajahan. Praktik misi Kristen masif mereka lakukan di tengah-tengah entitas umat Islam dan penduduk asli yang masih memegang agama kepercayaan. Slogan gold, glory dan gospel pun menjadi misi penjajahan yang berusaha mereka realisasikan.

Pada masa ini, Bumi Lorosae pun tidak luput dari misi pemurtadan. Tercatat pada tahun 1556, sekelompok biarawan Dominikan masuk ke Pulau Timor dan mendirikan desa di daerah Lifau. Sejak saat itu, kristenisasi berjalan masif meski masih terkontrol kekuasaan Islam. Namun, ketika kekuatan politik Islam melemah, terutama ketika Belanda mulai menguasai Kesultanan Ternate pascakekuasaan Sultan Baabullah, misi Kristen di Timor Leste pun kian merajalela sejalan dengan misi penjajahan.

Setidaknya Portugis butuh waktu satu abad untuk memurtadkan penduduk Timor Leste. Hingga pada 1702 Bumi Lorosae resmi jadi koloni negara Portugis. Namanya pun diganti menjadi Timor Portugis untuk membedakan dengan wilayah Timor Barat yang dikuasai oleh penjajah Belanda (Timor Belanda) sejak 1613.

Sejak saat itu, posisi kaum muslim Bumi Lorosae yang sebelumnya mayoritas berubah menjadi minoritas. Eksistensi mereka pun sedikit demi sedikit kian terpinggirkan. Akses mereka terhadap fasilitas serta sarana prasarana ibadah juga makin dibatasi. Terlebih ketika Portugis membagi wilayah Timor Leste menjadi tiga keuskupan, yaitu keuskupan Dili, Maliana, dan Baucau.

Korban Intrik Politik Internasional

Nasib umat Islam di Bumi Lorosae selanjutnya sangat bergantung pada kondisi politik Portugis di dalam negerinya. Ketika terjadi kisruh politik pada 1974, Portugis melakukan upaya dekolonisasi besar-besaran dan mendadak mundur dari Timor Timur pada 1975.

Lalu dalam pemilu lokal yang dilakukan pada tahun 1975, Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente), sebuah partai berpaham marxisme di Timor Timur memenangkan kekuasaan. Partai yang beraliansi dengan partai UDT (Untao Democration Timorese) tersebut sejak awal intens mengampanyekan kemerdekaan.

Namun, upaya politik Fretilin tersebut ditentang oleh partai-partai lainnya. Mereka justru menghendaki agar Timor Timur bergabung dengan Indonesia. Melalui Deklarasi Balibo mereka menyampaikan keinginan mayoritas penduduk Timor Leste untuk mengintegrasikan diri ke pangkuan Indonesia.

Konflik politik pun tidak bisa dihindarkan hingga atas dorongan Amerika dan Australia, pemerintah Indonesia menurunkan militernya untuk merebut Timor Timur melalui Operasi Seroja. Operasi ini berakhir dengan bergabungnya wilayah Timor Timur menjadi bagian Indonesia pada 1976.

Sejarah Timor Timur selanjutnya sarat dengan intrik politik negara adidaya. Namun, di bawah pangkuan Indonesia, nasib umat Islam bisa dikatakan sedikit lega. Dakwah Islam berlangsung agak leluasa sehingga jumlah penganut Islam mulai bertambah, meski tidak signifikan.

Hanya saja, benih-benih konflik tidak bisa dihindarkan. Cita-cita menjadi negara merdeka ternyata masih tersimpan pada sebagian rakyatnya. Tawaran Daerah Otonomi Khusus pun mereka tolak. Bahkan pada 1991 terjadilah konflik politik yang terangkat ke dunia internasional. Isu pelanggaran HAM pun gencar dituduhkan kepada pemerintah Indonesia dan militernya.

Pada 30 Agustus 1999, rakyat Timor Timur diberi hak referendum oleh PBB. Hasilnya mayoritas rakyat menyatakan ingin lepas dari Indonesia, maka pada Oktober 1999, MPR membatalkan dekrit 1976 yang mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia. Lalu Timor Timur pun diperintah oleh badan Otorita Transisi PBB (UNTAET) hingga dicapai kemerdekaan penuh pada Mei 2002 dengan nama negara Timor Leste.

Khatimah

Saat ini, kondisi Timor Leste tidak lebih baik dari kondisi saat menjadi bagian wilayah Indonesia. Problem kemiskinan terus membayang-bayangi kehidupan rakyatnya, termasuk umat Islam yang jumlahnya minoritas. Data Worldatlas.com menyebut Timor Leste menduduki posisi kedua negara termiskin di Asia Tenggara.

Sebagai minoritas, tentu tidak mudah bagi umat Islam untuk mengekspresikan dirinya. Terlebih benih-benih radikalisme Kristen tetap terpelihara di tubuh rakyat Timor Leste. Jejak pengusiran umat Islam terjadi beberapa kali. Salah satunya pernah muncul pada Ramadan 2006 ketika 500 umat Islam di Dili, ibu kota negara Timor Leste, diserang oleh penduduk Katolik dalam jumlah yang besar. Umat muslim pun pergi berlindung di Masjid An-Nur.

Saat ini benih konflik itu memang relatif bisa diredam. Namun, tidak ada jaminan umat Islam bisa hidup dalam keadaan aman. Mereka hanya bisa bertahan dengan ekspresi keberagamaan yang sangat minimal. Yakni sekadar melaksanakan ibadah-ibadah ritual.

Semoga kaum muslim di Bumi Lorosae dan belahan bumi lainnya bisa segera memperoleh kemuliaan. Yakni dengan tegaknya kekuasaan Islam yang mampu memberi pertolongan (sulthanan nashiiraa). Itulah Khilafah Islam yang kini sedang diperjuangkan oleh sebagian umat Islam dan dengan izin Allah akan tegak dalam waktu dekat. [MNews/Rgl]

*) Dinarasikan ulang dari berbagai sumber tulisan.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *