[Kabar] K.H. Hafidz Abdurrahman Tegaskan Khilafah Bukan Ideologi

[Kabar] K.H. Hafidz Abdurrahman Tegaskan Khilafah Bukan Ideologi

Muslimah News, NASIONAL—Merespons narasi sebagian kalangan yang menyebut Khilafah adalah ideologi, ulama nasional K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A. menegaskan sebaliknya.

“Khilafah bukan ideologi, tetapi bagian dari hukum syarak sebagaimana salat, haji, puasa, jihad, waris, dan sebagainya. Mendudukkan Khilafah sebagai ideologi jelas salah karena tidak memahami ideologi itu sendiri,” ungkapnya dalam “Khilafah, Ideologi?” di kanal Khilafah Channel Reborn, Senin (7/3/2022).

Dalam hal ini, ia menerangkan Khilafah bukan pemikiran mendasar melainkan cabang, sedangkan ideologi adalah pemikiran mendasar. Istilah ideologi yang disebut juga the principle atau mabda, jelasnya, merupakan pemikiran mendasar yang tidak dibangun sebelumnya pemikiran lain.

“Artinya, ideologi adalah pemikiran yang paling dasar. Contohnya, keadilan. Keadilan ini bukan pemikiran mendasar, tetapi pemikiran cabang karena lahir dari pemikiran yang lebih mendasar sehingga tidak bisa disebut ideologi keadilan. Pemikiran mendasarnya apa? Tergantung. Adil dalam pandangan Islam tentu berbeda dengan pandangan kapitalisme dan sosialisme. Pandangan atau perspektif dalam menilai keadilan inilah yang disebut pemikiran mendasar,” urainya.

Dari sini, sambungnya, bisa dilihat bahwa ideologi adalah akidah karena akidah merupakan pemikiran mendasar yang membentuk perspektif atau pemikiran cabang tentang persoalan.

“Karenanya, kapitalisme sebagai ideologi di dunia pasti memiliki cara pandang yang berbeda dengan sosialisme dan Islam. Ini yang harus didudukkan terlebih dahulu untuk membedakan ideologi sebagai pemikiran mendasar dengan pemikiran cabang,” tukasnya.

Ideologi Islam

Selanjutnya, K.H. Hafidz menuturkan pemikiran mendasar atau ideologi dalam Islam adalah pemikiran menyeluruh tentang kehidupan, alam, dan manusia yang terhubung dengan Allah.

“Yaitu, tentang apa yang ada sebelum kehidupan, alam , dan manusia tersebut, yakni adanya Khalik. Kemudian, apa yang ada setelahnya, seperti Hari Kiamat. Selanjutnya, hubungan antara Allah sebagai Pencipta dengan hari akhir dan kehidupan manusia lainnya di mana syariat Allah harus digunakan sebagai pedoman hidup. Di sanalah ruang bagi syariat, termasuk syariat tentang Khilafah,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan hidup kita di dunia ini diperintahkan Allah untuk beribadah. “Ibadah kita ini adalah semua hal yang disukai dan diridai Allah, yaitu ketika menyandarkannya kepada seluruh perintah dan larangan-Nya. Jadi, harus ada standar yang membuat Allah rida, yakni syariat. Kenapa? Karena kita semua akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah dengan standar tersebut. Ketika kita tidak mengikuti syariat, bagaimana akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?” tanyanya lugas.

Ia menyatakan hal-hal seperti inilah yang disebut fikrul asasi, pemikiran mendasar, mabda atau ideologi. “Jika diperas lagi dalam falsafah Islam, maka maknanya mengintegrasikan antara materi, baik perkataan, perbuatan dan hal-hal lainnya, dengan ruh. Semuanya harus terkoneksi dengan Allah,” tegasnya.

Dengan demikian, ia menggarisbawahi, tampak perbedaan antara ideologi dengan yang bukan. “Sehingga kita harus dapat membaca apa yang ada di balik narasi-narasi ini, yaitu keinginan untuk menjauhkan Islam dan syariatnya dari umat. Padahal justru inilah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Apabila kita mengikuti narasi-narasi itu, konsekuensinya kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkan apa yang dipilih. Karenanya, orang yang sehat pasti akan memilih pilihan yang bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.,” tutupnya.[MNews/Ruh]

Sumber foto: Istimewa

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *