[Kabar] Direktur Pamong Institute: Ada Dua Alasan AS Menyerang Houthi di Yaman

[Kabar] Direktur Pamong Institute: Ada Dua Alasan AS Menyerang Houthi di Yaman

Muslimah News, INTERNASIONAL — Pasukan Amerika Serikat menyerang sebuah rudal antikapal di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, Sabtu (27-1-2024) pagi waktu setempat. Ini terjadi beberapa jam setelah Houthi menembakkan rudal ke sebuah kapal tanker Inggris di Teluk Aden.

Direktur Pamong Institute Drs. Wahyudi al-Maroky mengatakan, ada dua alasan AS melakukan serangan tersebut, yakni ekonomi dan politik.

“Ada dua landasan keputusan AS. Pertama, didasarkan pada faktor ekonomi. Kedua, faktor politik. Lalu muncullah tindakan melakukan [serangan] militer. Ini yang menjadi motivasi AS untuk selalu menyerang atau mengekspansi negara lain,” ungkapnya.

Walaupun, jelasnya, dalam negara modern, serangan atau ekspansi ke negara lain tanpa alasan yang jelas, sebenarnya tidak dibenarkan. “Namun dapat dipahami bahwa Amerika sebagai daulatul ula atau negara adidaya saat ini, tidak ingin posisinya disalip oleh negara-negara lain sehingga AS harus mempertahankan itu dan menjaganya,” ujarnya.

Ia menerangkan, salah satu upaya yang dilakukan adalah selalu mengontrol negara-negara lain supaya tetap di bawah kendali atau minimal di bawah pengaruh AS.

“Jadi, terkait Yaman [di Laut Merah], memang hal itu dilakukan untuk meningkatkan loyalitas atau keterpengaruhan suatu negara. Tentu ada upaya tertentu, baik dengan melakukan tekanan diplomasi, tekanan politik, maupun tekanan militer,” bebernya.

Ekonomi

Untuk alasan ekonomi, ungkap Wahyudi, Yaman sebenarnya sudah diacak-acak ketika dipecah menjadi Yaman Utara dan Yaman Selatan. “Ini karena AS ingin mengontrol Timur Tengah. Ketika Timur Tengah sudah terkendali, tinggal diperluas, juga ditingkatkan eksploitasinya,” ucapnya.

Jadi, menurutnya, kalau hari ini Yaman diobrak-abrik atau diekspansi, tinggal menunggu giliran negara-negara lain.

“Kalau suatu negara dihancurkan secara ekonomi, maka dalam perspektif negara tersebut memang rugi atau rusak. Tetapi, dalam perspektif penjajah, ini menguntungkan karena akan menawari bantuan atau utang [kepada negara yang diekspansi] supaya jeratan [AS] lebih kuat lagi,” ungkapnya.

Dari utang tersebut, lanjutnya, akan dibangun proyek-proyek di situ. “Pembangunan butuh biaya. Jika negara itu tidak punya uang, maka kompensasinya adalah kekayaan alamnya. Itu yang selalu dilakukan oleh negara-negara penjajah atau negara-negara kapitalis di berbagai negara, termasuk sekarang yang sedang fokus ke Timur Tengah,” tuturnya.

Selain itu, ia memandang, serangan ke Yaman juga dipicu oleh kemarahan AS ketika merasa diganggu arus barang dan jasanya di Laut Merah sehingga menimbulkan kerugian yang sangat besar. “Bahkan ketika harus memutar ke Tanjung Harapan, akan menambah biaya yang luar biasa mahal. Jadi, tampak faktor ekonomi itu dominan,” tukasnya.

Oleh karena itu, ulasnya, AS dan Inggris memberikan warning kepada Yaman, terutama Houthi, supaya tidak mengulangi atau minimal AS dan Inggris akan mendapat benefit lain dari penyerangan itu. 

Politik

Wahyudi melanjutkan, untuk faktor politiknya, ketika tindakan Houthi dibiarkan dan AS tidak mengambil sikap, kemudian ada negara lain, misalnya Jerman atau Prancis yang mengambil posisi itu, maka pengaruh politik AS jadi bergeser.

“Dalam hal ini, pengaruh,  loyalitas, maupun ketergantungan secara politik itu diperlukan oleh AS terhadap negara-negara lain. AS ingin ikut campur dala peristiwa-peristiwa dunia atau di suatu kawasan tertentu. Fungsinya agar bisa eksis untuk menentukan kebijakan, kekuasaan, dan menanamkan pengaruh politiknya di kawasan tersebut,” jabarnya.

Ia menyatakan, negara-negara kapitalis seperti AS tidak punya beban, tidak mengerti dosa dan pahala, tidak mengerti etika, tidak mengerti moral sehingga tidak ada masalah bagi AS untuk menjaga yang masih loyal, mendukung, atau menguntungkan baginya dalam politik dan ekonomi. Sebaliknya, ia melanjutkan, bagi yang merugikan, maka “dihajar” tidak peduli dulu pernah dibina oleh AS sendiri.

“Sistem yang dianut inilah yang dikenal dengan sistem politik sekuler, tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi. Yang ada, ketika kepentingannya diganggu, maka itulah yang dikedepankan,” jelasnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *